Renungan Harian
Minggu, 17 Mei 2026
Minggu Paskah VII – Hari Komunikasi Sedunia Ke-60
Bacaan I: Kisah Para Rasul 1:12-14
Mazmur: Kitab Mazmur 27:1.4.7-8a
Bacaan II: Surat Pertama Petrus 4:13-16
Bacaan Injil: Injil Yohanes 17:1-11a
“Menjaga Suara dan Wajah Manusia”
Hari Minggu Paskah VII pada hari ini dirayakan sebagai Hari Komunikasi Sedunia Ke-60. Dalam perayaan ini, Paus Leo XIV mengangkat tema: “Menjaga Suara dan Wajah Manusia.” Tema ini menjadi sangat relevan di tengah perkembangan teknologi digital, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin memengaruhi kehidupan manusia.
Dalam Injil hari ini, kita mendengar doa Yesus bagi para murid-Nya. Yesus berdoa agar mereka tetap tinggal dalam kesatuan dengan Allah dan setia mewartakan karya keselamatan kepada dunia. Para murid dipanggil untuk menjadi pewarta yang berbicara dengan hati, sehingga banyak orang mengenal Allah dan memperoleh hidup yang kekal.
“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” (Yoh 17:3).
Yesus tidak hanya menyampaikan sabda, tetapi juga menghadirkan kasih Allah melalui hidup-Nya. Para murid menerima pewartaan itu dan dipanggil untuk meneruskannya kepada dunia. Mereka menjadi komunikator iman, harapan, dan kasih.
Di zaman sekarang, panggilan itu tetap berlaku bagi kita. Kita hidup dalam dunia yang penuh arus informasi. Teknologi digital mampu mempercepat komunikasi, memperluas relasi, bahkan membentuk cara manusia berpikir dan bertindak. Namun, di balik semua kemajuan itu, ada bahaya ketika manusia kehilangan wajah, suara hati, dan kejujuran dalam berkomunikasi.
Melalui pesannya, Paus Leo XIV mengingatkan bahwa komunikasi sejati bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi menghadirkan diri, membangun perjumpaan, dan memancarkan kasih Allah kepada sesama. Teknologi harus membantu manusia semakin manusiawi, bukan justru menjauhkan manusia dari kasih dan kebenaran.
Media sosial dan kecerdasan buatan dapat menjadi sarana pewartaan Injil yang luar biasa bila digunakan dengan bijaksana. Kita dapat menyebarkan pesan damai, penghiburan, persaudaraan, dan harapan. Namun, kita juga harus waspada terhadap hoaks, ujaran kebencian, fitnah, dan komunikasi yang melukai sesama.
Secara khusus, kaum muda diajak menjadi “komunikator harapan.” Generasi muda dipanggil menggunakan teknologi untuk menghadirkan terang Kristus di tengah dunia digital. Bukan menjadi penyebar kebencian, tetapi pembawa damai. Bukan mencari popularitas semata, tetapi menghadirkan kasih dan kebenaran.
Di tanah Papua yang kaya budaya dan persaudaraan, pesan ini menjadi sangat indah. Komunikasi kasih tampak dalam senyum, sapaan, cerita hidup, dan semangat kebersamaan antarsuku dan antarumat manusia. Dalam budaya saling menghormati dan menerima, kita dapat menghadirkan wajah Allah yang penuh kasih dan kerahiman.
Karena itu, Hari Komunikasi Sedunia ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kata-kata kita membawa harapan? Apakah media sosial kita menjadi tempat menghadirkan damai? Apakah komunikasi kita sungguh memanusiakan sesama?
Mari kita menggunakan media digital bukan untuk melukai, tetapi untuk menyembuhkan; bukan untuk memecah belah, tetapi untuk mempersatukan; bukan untuk mencari pujian diri, tetapi untuk menghadirkan kasih Kristus bagi dunia.
Semoga kita semua semakin bijaksana dalam bermedia, setia pada kebenaran, dan mampu menjaga suara serta wajah manusia di tengah kemajuan teknologi zaman ini.
“Kita perlu menjaga anugerah komunikasi sebagai kebenaran terdalam manusia, dan menjadikannya arah bagi setiap inovasi teknologi.”
— Paus Leo XIV
Selamat Hari Komunikasi Sedunia Ke-60.
Tuhan memberkati.
Ave Maria.





