Renungan Harian: Mengasihi Berarti Melayani, Bukan Dilayani

70

Renungan Harian, 2 April 2026
Kamis Pekan Suci – Mengenang Perjamuan Tuhan
Bacaan: Kel 12:1-8.11-14; 1Kor 11:23-26; Yoh 13:1-15

Perayaan Kamis Putih membawa kita masuk ke dalam misteri kasih Allah yang paling dalam: kasih yang memberi diri, melayani, dan berkorban sampai tuntas. Namun, di tengah realitas hidup—ketidakadilan, penderitaan, konflik, dan luka batin—tidak jarang kita bertanya: masihkah kasih Tuhan itu nyata bagi kita?

Kadang kita merasa sendiri, seakan Tuhan jauh, bahkan diam. Kita bergumul dengan beban dosa, luka relasi, atau tekanan hidup. Dalam keheningan hati, mungkin kita pun pernah berseru: “Tuhan, di mana Engkau?”
<spJustru di tengah kegelapan itulah Kamis Putih menjadi terang.

Kasih Allah yang Tidak Pernah Pudar
Perjamuan Malam Terakhir adalah tanda bahwa Allah tidak pernah meninggalkan manusia. Kasih-Nya tetap mengalir, bahkan ketika manusia jatuh dalam dosa. Yesus mengasihi “sampai saat terakhir”—artinya sampai tuntas, tanpa syarat, tanpa batas.

Kasih itu bukan sekadar kata-kata, melainkan tindakan nyata: hadir, mendekat, dan menyelamatkan. Bahkan ketika kita menjauh, Tuhan tetap mendekap.

Kasih yang Merendahkan Diri
Yesus membasuh kaki para murid—sebuah tindakan yang mengejutkan. Guru menjadi hamba. Tuhan berlutut di hadapan manusia.

Lebih dalam lagi, Ia membasuh kaki semua murid: termasuk Yudas yang mengkhianati-Nya, dan Petrus yang menyangkal-Nya..Di sini kita melihat bahwa kasih sejati tidak memilih-milih. Kasih sejati rela merendahkan diri demi mengangkat yang lain.

Yesus memberi teladan: mengasihi berarti melayani, bukan dilayani.

Kasih yang Berkorban
Dalam perjamuan itu, Yesus memecah roti dan membagikan anggur—tanda penyerahan diri-Nya. Itu adalah awal dari pengorbanan di salib.

Ekaristi menjadi peringatan abadi bahwa kasih sejati selalu melibatkan pengorbanan. Bukan kasih yang nyaman, tetapi kasih yang rela memberi diri demi kehidupan orang lain.

Yesus telah memberi teladan: membasuh kaki, memecah roti, dan menyerahkan diri. Kini, kita diutus untuk melakukan hal yang sama dalam hidup sehari-hari.

Tuhan memberkati dan Ave Maria!