Renungan Harian: Yesus Merangkum Seluruh Hukum Taurat Dalam Satu Kata Kunci: Kasih

6

RENUNGAN HARIAN, Jumat, 13 Maret 2026
Bacaan I: Hos 14:2-10
Bacaan Injil: Mrk 12:28b-34

Salah satu keutamaan Kristiani yang paling mendasar adalah hidup dalam kasih. Sebagai pengikut Kristus, setiap orang beriman dipanggil untuk membangun hidup yang berakar pada kasih: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama. Kedua bentuk kasih ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Dalam Injil hari ini, Yesus Kristus ditanya oleh seorang ahli Taurat: “Hukum manakah yang paling utama?” (Mrk 12:28). Pertanyaan ini muncul karena dalam hukum Taurat terdapat begitu banyak aturan: sekitar 613 perintah, terdiri dari 248 perintah positif (“kamu harus…”) dan 365 perintah negatif (“kamu jangan…”). Banyaknya aturan ini sering membuat orang bingung menentukan mana yang paling penting.

Menanggapi pertanyaan itu, Yesus merangkum seluruh hukum Taurat dalam satu kata kunci: kasih. Ia berkata: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dengan segenap akal budimu, dan dengan segenap kekuatanmu.” Dan hukum yang kedua: “Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini (Mrk 12:30-31).

Dengan jawaban ini, Yesus menegaskan bahwa inti dari seluruh hukum Allah adalah kasih. Dasarnya adalah Allah sendiri yang adalah kasih. Karena itu, siapa pun yang sungguh beriman kepada Allah harus menampakkan imannya melalui hidup yang penuh kasih.

Kasih Allah kepada manusia sungguh nyata. Ia menciptakan dunia dan segala isinya sebagai tanda kasih-Nya. Lebih dari itu, kasih Allah mencapai puncaknya dalam karya keselamatan melalui Putra-Nya, Yesus Kristus. Allah mencurahkan kasih-Nya secara total bagi manusia.

Mengasihi Allah dan mengasihi sesama ibarat dua sisi dari satu keping uang yang tidak dapat dipisahkan. Relasi kasih dengan Allah harus terwujud dalam kasih kepada sesama. Sebaliknya, kasih kepada sesama harus bersumber dari kasih yang sejati kepada Allah.

Mother Teresa pernah berkata: “Bagaimana kita bisa mengatakan mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan, jika kita tidak mampu mengasihi manusia yang kelihatan di sekitar kita?” Perkataan ini mengingatkan kita bahwa kualitas iman kita diukur dari sejauh mana kita mampu menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Hal yang sama juga ditegaskan oleh Joseph Cafasso yang berkata: “Kita dilahirkan untuk mengasihi, kita hidup untuk mengasihi, dan kita akan mati untuk mengasihi lebih banyak lagi.”

Karena itu, marilah kita menyalakan api kasih di dalam hati kita. Hendaknya kita sungguh mengasihi Allah dengan sepenuh hati dan mengasihi sesama dengan tulus dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian iman kita tidak hanya menjadi kata-kata, tetapi sungguh nyata dalam tindakan kasih.

Tuhan memberkati dan Ave Maria.