Renungan Harian: “Janganlah Bertegar Hati”

78

RENUNGAN HARIAN, 11 Maret 2026
Bacaan I: Yer 7:23-28
Bacaan Injil: Luk 11:14-23

“Janganlah Bertegar Hati”
Berhadapan dengan orang yang bebal memang seringkali sangat mengjengkelkan. Apalagi jika kebebalan itu disertai dengan sikap tegar hati. Sudah sulit untuk memahami, ditambah lagi dengan keras hati. Lengkaplah sudah. Kebebalan dan ketegaran hati adalah dua sikap yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan rohani seseorang.

Dalam kehidupan iman, Tuhan senantiasa membimbing kita untuk menyadari kekurangan dan kelemahan kita. Ia mengajak kita untuk menyadari dosa dan kembali kepada-Nya. Namun sering kali manusia tidak segera menyadarinya. Bahkan lebih tragis lagi, ketika kita sudah menyadari kesalahan, kita justru tidak peduli dan tetap merasa nyaman dalam dosa itu.

Kebebalan dan ketegaran hati sesungguhnya merupakan buah dari dosa. Dosa meracuni hati manusia dan mengerdilkan jiwa. Dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel pun sering jatuh dalam sikap keras hati. Padahal mereka telah mengalami begitu banyak tanda kasih dan penyertaan Tuhan sepanjang perjalanan hidup mereka. Namun mereka tetap tidak setia. Mereka berpaling dari Tuhan dan menyembah allah-allah lain.

Nabi Yeremia menggambarkan sikap itu dengan sangat tegas: “Mereka tidak mau mendengarkan dan tidak mau memberi perhatian, melainkan mengikuti rancangan dan kedegilan hatinya yang jahat; mereka memperlihatkan belakangnya dan bukan mukanya.” (Yer 7:24).

Gambaran bangsa Israel ini sering kali juga menjadi cermin kehidupan kita. Kita telah mengetahui, merasakan, dan mengalami kasih serta penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Namun kita masih saja bertegar hati. Kita masih sering menyakiti hati Tuhan dengan ketidaksetiaan kita.

Namun kabar baiknya, Tuhan adalah Allah yang Maharahim. Ia tidak pernah meninggalkan umat-Nya, sekalipun mereka sering jatuh dalam dosa. Ia tetap menjaga, memelihara, dan membimbing umat-Nya menuju tanah terjanji. Demikian pula terhadap kita yang berdosa. Tuhan tidak pernah menolak orang yang mau kembali kepada-Nya dengan hati yang tulus.

Karena itu, masa pertobatan adalah kesempatan berharga bagi kita untuk menghancurkan kebebalan dan ketegaran hati. Kita diajak untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan, membuka hati, dan membiarkan rahmat-Nya memperbarui hidup kita.

Seruan Nabi Yoel mengingatkan kita: “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, sebab Aku ini pengasih dan penyayang.” (Yl 2:12-13).

Jika kita sungguh mau bertobat dengan hati yang tulus, maka iman kita akan semakin bertumbuh. Kita akan berjalan menuju keselamatan yang sejati bersama Tuhan.
Tuhan memberkati dan Ave Maria.