Renungan Harian – Selasa, 10 Maret 2026
Bacaan I: Dan 3:25.34-43
Injil: Mat 18:21-35
Haruskah kita mengampuni orang yang terus-menerus menyakiti kita? Pertanyaan ini sering muncul dalam hati banyak orang. Mengampuni sekali mungkin masih terasa mudah, tetapi ketika luka yang sama terus terjadi, rasanya berat untuk tetap membuka pintu pengampunan. Tidak jarang kita lebih cepat menutup pintu hati daripada memberi maaf tanpa batas.
Dalam Injil hari ini, Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus menjawab, “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” Jawaban ini tentu bukan perhitungan matematis. Yesus ingin menegaskan bahwa pengampunan dalam hidup orang beriman tidak boleh dibatasi oleh hitungan tertentu. Pengampunan harus mengalir tanpa batas, sebagaimana kasih Allah yang juga tidak terbatas bagi kita.
Perumpamaan tentang hamba yang tidak berbelas kasih menunjukkan betapa besar rahmat pengampunan yang kita terima dari Allah. Kita sering datang kepada Tuhan membawa kelemahan, dosa, dan kegagalan, namun Allah tetap membuka pintu kerahiman-Nya. Karena itu, sebagai murid Kristus, kita pun dipanggil untuk melakukan hal yang sama kepada sesama.
Memang tidak mudah mengampuni orang yang telah melukai hati kita. Tetapi ketika kita berani mengampuni, pada saat itu kita sedang membuka kran rahmat bagi orang lain. Bahkan lebih dari itu, kita juga sedang membebaskan diri kita sendiri dari beban luka dan kepahitan. Pengampunan adalah tindakan kasih yang memulihkan, bukan hanya bagi orang yang bersalah, tetapi juga bagi hati kita sendiri.
Bacaan pertama hari ini juga menunjukkan kerendahan hati dan pertobatan umat yang memohon belas kasih Tuhan. Mereka sadar bahwa hanya dengan kerahiman Allah mereka dapat diselamatkan. Sikap rendah hati ini mengingatkan kita bahwa kita semua adalah orang-orang yang membutuhkan pengampunan.
Semoga melalui sabda Tuhan hari ini kita terus belajar membuka pintu hati, mengampuni tanpa batas, dan menyalurkan belas kasih kepada sesama. Dengan demikian, kasih Allah semakin nyata dalam hidup kita sehari-hari.
Tuhan memberkati dan Ave Maria.





