Renungan Harian, 12 Januari 2026
Bacaan I: 1Sam 1:1-8
Bacaan Injil: Mrk 1:14-20
Setiap orang beriman dipanggil oleh Tuhan untuk mengikuti Yesus dan menjadi utusan-Nya. Panggilan itu bukan hanya milik para rasul atau kaum tertahbis, melainkan panggilan bagi setiap orang yang telah dibaptis. Kita semua dipanggil untuk ambil bagian dalam karya keselamatan Allah, melanjutkan pewartaan Yesus yang berseru: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15).
Injil hari ini mengisahkan panggilan Simon, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Yesus memanggil mereka bukan ketika sedang berdoa di bait Allah atau berkumpul dalam suasana religius, melainkan ketika mereka sedang bekerja, sedang menjalani aktivitas sehari-hari sebagai nelayan. Hal ini sungguh menarik dan bermakna. Yesus memanggil orang-orang yang sedang setia pada tanggung jawab hidupnya, bukan mereka yang bermalas-malasan atau menunggu tanpa berbuat apa-apa.
Melalui kisah ini, Injil menegaskan bahwa Tuhan memanggil orang-orang yang memiliki mentalitas pekerja, semangat, dan ketangguhan hati. Panggilan Tuhan tidak menghapus tanggung jawab manusia, justru menyempurnakannya. Dalam kesetiaan pada tugas sehari-hari, Tuhan dapat masuk dan mengarahkan hidup seseorang pada perutusan yang lebih besar.
Yang tak kalah penting adalah sikap para murid dalam menanggapi panggilan Yesus. Injil mencatat dengan sederhana namun tegas: “Mereka segera meninggalkan jala-jalanya lalu mengikuti Dia.” Tidak banyak kata, tidak banyak alasan. Ada kesiapsediaan, ketaatan, dan keberanian untuk meninggalkan zona nyaman demi mengikuti Tuhan. Mereka mempercayakan masa depan hidupnya sepenuhnya kepada Yesus.
Sikap ini mengajak kita untuk bercermin: bagaimana tanggapan kita terhadap panggilan Tuhan dalam hidup kita masing-masing? Apakah kita masih menunda-nunda, penuh keraguan, atau terlalu terikat pada kenyamanan dan kepentingan pribadi? Tuhan terus memanggil, tetapi dibutuhkan hati yang siap, taat, dan rela mempersembahkan diri secara total.
Bacaan pertama tentang Elkana dan Hana juga mengingatkan kita bahwa panggilan dan rencana Tuhan sering kali berjalan di tengah keterbatasan dan penderitaan manusia. Kesetiaan, kesabaran, dan kepercayaan kepada Tuhan menjadi kunci untuk tetap bertahan dan setia dalam panggilan hidup.
Oleh karena itu, marilah kita menyadari dan mensyukuri panggilan hidup kita masing-masing—sebagai imam, religius, orang tua, kaum muda, maupun pekerja di berbagai bidang. Marilah kita menekuni panggilan itu dengan penuh tanggung jawab, setia, dan cinta, meskipun kadang terasa berat dan menuntut pengorbanan.
Kiranya Tuhan memberi kita hati yang siap sedia, taat, dan berani melangkah mengikuti-Nya setiap hari.
Tuhan memberkati. Ave Maria.





