Renungan Harian – 30 Januari 2026
Bacaan I: 2 Samuel 11:1–4a.5–10a.13–17
Bacaan Injil: Markus 4:26–34
Dalam perjalanan iman, kita sering tergoda untuk menilai diri sendiri dari hasil yang kelihatan: seberapa rajin berdoa, seberapa aktif melayani, atau seberapa kuat kita bertahan saat cobaan datang. Padahal, iman sejati bukan terutama soal kehebatan usaha manusia, melainkan keterbukaan hati pada karya Allah yang setia bekerja—sering kali tanpa kita sadari.
Bacaan pertama hari ini memperlihatkan sisi rapuh manusia melalui kisah Raja Daud. Ia adalah orang pilihan Tuhan, namun jatuh dalam dosa karena kelalaiannya dan penyalahgunaan kuasa. Kisah ini mengingatkan kita bahwa sebesar apa pun iman dan panggilan seseorang, tanpa kewaspadaan dan kerendahan hati, manusia mudah tergelincir. Ketika manusia mengandalkan dirinya sendiri dan menutup diri dari Allah, kehancuran bisa terjadi.
Sebaliknya, dalam Injil hari ini Yesus mengajak kita memandang Kerajaan Allah dengan kacamata iman. Kerajaan Allah itu seperti benih yang ditaburkan di tanah—ia tumbuh dengan sendirinya, siang dan malam, tanpa manusia tahu bagaimana caranya. Yesus juga mengibaratkannya dengan biji sesawi: yang paling kecil, namun kelak tumbuh besar dan menjadi tempat bernaung bagi banyak makhluk.
Pesan ini sungguh meneguhkan. Mungkin iman kita hari ini terasa kecil, lemah, bahkan nyaris tak berarti. Doa terasa kering, kesetiaan goyah, dan harapan menipis. Namun Tuhan tidak bekerja berdasarkan ukuran manusia. Selama kita membuka diri pada rahmat-Nya, benih iman itu akan bertumbuh pada waktunya, menurut cara dan kehendak Tuhan sendiri.
Kita dapat belajar dari Santo Thomas Aquinas. Dengan segala kejeniusannya, ia tetap rendah hati dan menyadari bahwa pengetahuan sejati lahir dari kesatuan dengan Kristus. Imannya bertumbuh bukan semata karena kecerdasan, tetapi karena relasi yang mendalam dengan Tuhan, terutama dalam Sakramen Mahakudus. Di sanalah benih iman dirawat dan dibiarkan bertumbuh oleh Allah sendiri.
Maka hari ini kita diajak untuk tidak berkecil hati atas keterbatasan diri, tetapi juga tidak lengah seperti Daud. Marilah setia membuka hati, memberi ruang bagi Tuhan untuk bekerja, dan dengan sabar mempercayakan pertumbuhan iman kita kepada-Nya.
Semoga melalui diri kita yang sederhana, Kerajaan Allah semakin nyata, dan kemuliaan-Nya semakin terpancar bagi banyak orang.
Tuhan memberkati dan Ave Maria.





