Renungan Harian: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

169

Renungan Harian – 07 Januari 2026
Bacaan I: 1 Yohanes 4:11–18
Bacaan Injil: Markus 6:45–52

“Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”
Hidup manusia tidak pernah lepas dari badai. Ada saat-saat tenang dan damai, namun tidak jarang kita dihadapkan pada gelombang besar yang mengguncang iman, harapan, dan keteguhan hati. Dalam situasi seperti itulah, sabda Yesus hari ini bergema kuat dan menenangkan: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

Dalam Injil Markus, para murid sedang berada di tengah danau, mendayung dengan susah payah karena angin sakal. Malam sudah larut, tenaga terkuras, dan harapan seakan menipis. Dalam situasi yang genting itu, Yesus datang menghampiri mereka, berjalan di atas air. Ia tidak datang ketika badai belum ada, tetapi justru saat para murid berada di titik kelelahan dan ketakutan. Kehadiran-Nya menjadi tanda bahwa Tuhan tidak pernah absen dalam penderitaan umat-Nya.

Yesus melihat kesulitan para murid, dan Ia datang tepat pada waktunya. Sapaan-Nya sederhana, namun penuh kuasa: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” Kata-kata ini bukan sekadar penghiburan, melainkan pernyataan iman: Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan yang hadir, berkuasa atas badai, dan setia menyelamatkan.

Pesan Injil ini dipertegas oleh Bacaan Pertama dari Surat Pertama Yohanes. Rasul Yohanes mengingatkan bahwa kasih yang sejati mengusir ketakutan. “Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan” (1Yoh 4:18). Ketakutan sering muncul ketika kita merasa sendirian, tidak dicintai, dan tidak diperhatikan. Namun, ketika kita sungguh percaya bahwa Allah mengasihi kita tanpa syarat, ketakutan perlahan sirna dan digantikan oleh damai.

Pengalaman para murid adalah cermin hidup kita. Tidak jarang kita pun mendayung di tengah badai kehidupan: persoalan ekonomi, konflik keluarga, sakit penyakit, kegagalan, ketidakpastian masa depan, bahkan ancaman yang membuat kita merasa rapuh dan tak berdaya. Namun iman Kristiani mengajarkan satu keyakinan mendasar: Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Ia tidak membiarkan kita tenggelam dan binasa.

Yang Tuhan minta dari kita bukanlah kekuatan sempurna, melainkan kepercayaan dan penyerahan diri. Ketika kita berserah dan menyerahkan seluruh beban hidup kepada-Nya, kita akan mengalami sendiri kuasa penyelamatan Tuhan. Pada saat itulah, di tengah badai yang masih mungkin belum reda, kita akan mendengar suara-Nya berkata: “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!”

Semoga sabda hari ini meneguhkan iman kita, menumbuhkan pengharapan yang kokoh, dan memampukan kita untuk tetap percaya bahwa kasih Tuhan selalu hadir dan menopang hidup kita, dalam situasi dan kondisi apa pun.

Tuhan memberkati. Ave Maria.