Renungan Harian: Pertobatan Sejati Selalu Menghasilkan Persekutuan yang Damai Dengan Allah, dan Hubungan yang Rukun dengan Sesama

4

Renungan Harian 26 Maret 2026
Bacaan I: Yeh 18:21–28
Bacaan Injil: Mat 5:20–26

Hari ini kita kembali diingatkan betapa besar anugerah yang kita miliki: kita percaya kepada Allah yang Maha Pengampun. Tanpa belas kasih-Nya, kita tidak akan mampu bertahan, sebab hidup kita masih sering dikuasai kelemahan, jatuh dalam dosa, dan keinginan-keinginan manusiawi yang berpusat pada diri sendiri. Justru karena kelemahan itu, kita sangat membutuhkan hati Allah yang penuh kerahiman.

Dalam Bacaan Pertama, Nabi Yehezkiel menegaskan kebenaran yang menghibur sekaligus menggugah: Allah tidak pernah menutup pintu pengampunan-Nya bagi pendosa yang bertobat. Tuhan selalu menyediakan kesempatan baru bagi setiap orang untuk bangkit dan kembali kepada-Nya. Firman-Nya sangat jelas: “Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan serta kebenaran, ia akan menyelamatkan nyawanya… ia pasti hidup, ia tidak akan mati.” (Yeh 18:27-28)

Namun peringatan Allah juga tegas: orang yang menolak bertobat dan tetap tinggal dalam dosa akan menanggung akibatnya sendiri. Bukan karena Allah ingin menghukum, tetapi karena dosa itu sendiri menghancurkan hidup kita dari dalam. Maka, pertobatan bukan sekadar saran, melainkan jalan keselamatan.

Dalam Injil hari ini, Yesus mengajak kita untuk tidak berhenti pada ketaatan lahiriah semata. Ia menuntut kebenaran yang lebih dalam, yang lahir dari hati yang diubah. Bukan hanya menjauhi pembunuhan, tetapi menjauhi kemarahan; bukan hanya tidak menyakiti, tetapi berani berdamai. Bahkan Yesus menegaskan bahwa persembahan kita tidak berkenan bila hati kita masih menyimpan dendam atau tidak mau berdamai dengan sesama.

Pertobatan sejati selalu menghasilkan dua buah: Persekutuan yang damai dengan Allah, dan hubungan yang rukun dengan sesama.

Maka pada hari ini, marilah kita membuka hati untuk rahmat pertobatan. Kita merendahkan diri di hadapan Tuhan, memohon belas kasih-Nya, dan membiarkan Dia menyembuhkan hati kita. Lalu, dari hati yang telah disentuh rahmat itu, kita melangkah untuk memperbaiki relasi yang retak: memaafkan yang bersalah kepada kita, dan dengan rendah hati meminta maaf bila kita melukai sesama.

Semoga rahmat Tuhan menuntun langkah kita sepanjang hari ini.

Tuhan memberkati dan Ave Maria!