Renungan Harian: Pertobatan bukan sekadar ritual, melainkan penyerahan diri total

2

Renungan Harian, 25 Maret 2026
Bacaan I: Kitab Yunus 3:1–10
Bacaan Injil: Injil Lukas 11:29–32

“Ketika menyadari kedosaannya, orang beriman akan merendahkan diri dan bertobat.”

Setiap orang yang sungguh beriman pasti memiliki satu sikap dasar yang penting: kerendahan hati di hadapan Allah. Orang seperti ini sadar bahwa dirinya tidak sempurna, penuh dengan kelemahan dan dosa, namun tetap percaya bahwa Allah adalah Bapa yang Maharahim. Di hadapan-Nya, tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni ketika hati sungguh kembali dan bertobat.

Bangsa Niniwe menjadi contoh yang kuat dalam bacaan hari ini. Setelah mendengar pewartaan Nabi Yunus tentang hukuman Allah, mereka tidak mengeraskan hati, melainkan langsung merendahkan diri: berpuasa, mengenakan kain kabung, duduk dalam abu, dan berseru memohon belas kasih Allah. Bahkan raja mereka pun turun dari singgasananya dan memberi teladan pertobatan bagi seluruh rakyat.

Firman Tuhan mencatat dengan indah bagaimana mereka berubah: “Manusia dan ternak… harus berseru kepada Allah serta harus masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat” (Yun 3:7-8). Pertobatan mereka bukan hanya kata-kata, tetapi perubahan nyata dalam hidup. Dan apa hasilnya?

Allah melihat kesungguhan hati mereka, dan Ia membatalkan malapetaka yang telah dirancangkan (Yun 3:10). Pertobatan membawa mereka kepada keselamatan.

Kisah ini mengingatkan kita bahwa kita pun penuh kelemahan. Ada dosa-dosa yang sering kita ulangi, ada sikap keras hati yang kadang menguasai, ada hal-hal yang membuat kita menjauh dari kasih Tuhan. Namun justru karena itulah kita dipanggil untuk datang kepada-Nya dengan hati yang jujur, tulus, dan mau berubah.

Pertobatan bukan sekadar ritual, melainkan penyerahan diri total: mengakui dosa, menyesalinya, dan berkomitmen meninggalkannya.

Seperti orang Niniwe, setiap laku tobat yang sungguh akan membuahkan keselamatan. Allah tidak pernah menolak hati yang hancur dan remuk karena dosa. Sebaliknya, Ia mengangkat, memulihkan, dan menyelamatkan.

Semoga hari ini kita berani kembali kepada Tuhan dengan kerendahan hati, percaya bahwa belas kasih-Nya selalu lebih besar daripada kegagalan kita.

Tuhan memberkati dan Ave Maria!