Renungan Harian, 29 Desember 2025
Bacaan I: 1 Yohanes 2:3–11
Bacaan Injil: Lukas 2:22–35
Sesuai dengan tradisi Yahudi, empat puluh hari setelah kelahiran seorang anak laki-laki sulung, anak itu harus dipersembahkan dan dikuduskan bagi Allah di Bait-Nya. Tradisi iman ini dijalankan dengan penuh kesetiaan oleh Yusuf dan Bunda Maria. Mereka membawa Yesus ke Bait Allah, bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban hukum Taurat, tetapi sebagai ungkapan penyerahan diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.
Peristiwa persembahan Yesus di Bait Allah menjadi momen pewartaan iman yang amat mendalam. Di sana, Allah sendiri memaklumkan siapa Yesus melalui dua pribadi yang hidup dekat dengan Roh Kudus, yakni Simeon dan Hana. Atas dorongan Roh Kudus, Simeon mampu mengenali Bayi Yesus sebagai Sang Mesias dan bersaksi dengan penuh iman:
“Sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa” (Luk 2:30–31).
Yesus adalah keselamatan Allah, terang bagi para bangsa. Ia datang membawa harapan, pembebasan, dan kehidupan baru bagi seluruh umat manusia. Namun Simeon juga menegaskan bahwa terang itu tidak selalu diterima dengan mudah. Kehadiran Yesus justru akan menjadi tanda perbantahan. Ada yang menerimanya, tetapi tidak sedikit pula yang menolak-Nya. Karya keselamatan-Nya akan mengguncang hati manusia dan menyingkapkan niat-niat terdalam setiap orang.
Dalam nubuat itu pula, Bunda Maria tidak luput dari penderitaan. Simeon berkata: “Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri” (Luk 2:35).
Maria dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam jalan salib Putranya. Kasihnya kepada Yesus menuntut keberanian untuk setia, bahkan ketika harus menanggung luka, air mata, dan kesunyian iman.
Bacaan pertama menegaskan bagaimana seharusnya sikap kita sebagai pengikut Kristus. Santo Yohanes mengingatkan bahwa mengenal Allah tidak cukup dengan kata-kata, melainkan harus nyata dalam perbuatan kasih. Barangsiapa hidup dalam terang, ia akan mengasihi saudaranya. Sebaliknya, kebencian dan penolakan terhadap sesama menunjukkan bahwa seseorang masih hidup dalam kegelapan.
Yesus yang dipersembahkan di Bait Allah adalah persembahan hidup yang menyelamatkan umat manusia. Ia menyerahkan seluruh hidup-Nya bagi keselamatan dunia. Maka kita pun diajak untuk mempersembahkan diri kita kepada Tuhan—hidup, karya, dan seluruh pergumulan kita—sebagai persembahan yang hidup.
Di tengah berbagai tantangan hidup, penolakan, dan kesulitan, kita memohon rahmat Roh Kudus agar dimampukan menjadi pembawa damai, kebenaran, dan kasih. Semoga hidup kita sungguh menjadi terang dan berkat bagi banyak orang, meskipun terkadang harus melalui jalan yang tidak mudah.
Tuhan memberkati. Ave Maria.





