Renungan Harian – Rabu Oktaf Paskah, 08 April 2026
Bacaan: Kis 3:1-10; Luk 24:13-35
Dalam Injil hari ini, dua murid di jalan menuju Emaus mengalami kebingungan, kekecewaan, bahkan kehilangan harapan. Namun, ketika Yesus hadir, berjalan bersama mereka, dan membuka Kitab Suci, hati mereka yang semula redup menjadi berkobar-kobar. Mereka pun berbalik arah—dari menjauh menjadi kembali, dari ragu menjadi percaya.
Pengalaman ini menegaskan bahwa kebangkitan bukan sekadar peristiwa, tetapi sebuah undangan untuk bertobat dan diutus. Yesus tidak hanya menampakkan diri, tetapi juga memberi misi: para murid harus menjadi saksi. Mereka dipanggil untuk mewartakan pertobatan dan pengampunan dosa kepada semua bangsa.
Hal ini tampak nyata dalam diri Petrus dalam Bacaan Pertama. Ia yang dahulu pernah takut dan menyangkal, kini tampil berani. Dengan penuh keyakinan ia menyerukan pertobatan: “Sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan.” Kuasa kebangkitan telah mengubah hidupnya. Ia tidak lagi hidup dalam bayang-bayang masa lalu, tetapi dalam terang iman yang teguh.
Sering kali kita seperti murid Emaus—berjalan menjauh dari Tuhan saat harapan tidak sesuai kenyataan. Namun Yesus tidak pernah meninggalkan kita. Ia selalu hadir, menyapa, dan membuka hati kita, asalkan kita mau mendengarkan dan menyadari kehadiran-Nya.
Karena itu, kita diajak untuk: Percaya sepenuh hati bahwa Yesus sungguh bangkit dan hidup. Bertobat dengan sungguh, meninggalkan dosa dan kembali kepada Allah. Menjadi saksi, menghadirkan kabar sukacita dalam hidup sehari-hari—melalui kata, sikap, dan tindakan nyata.
Iman akan kebangkitan tidak boleh berhenti pada pengetahuan, tetapi harus menjadi kesaksian hidup. Dunia saat ini membutuhkan saksi-saksi yang berani, jujur, dan penuh kasih—yang menghadirkan harapan di tengah keputusasaan.
Semoga hati kita pun terus berkobar seperti para murid, dan langkah hidup kita selalu diarahkan untuk kembali kepada Tuhan dan mewartakan kasih-Nya.
Tuhan memberkati. Ave Maria.





