Renungan Harian: Penolakan Tidak Pernah Mampu Mematahkan Karya Allah Di Dalam Diri Kita

107

Renungan Harian, 4 Februari 2026
Bacaan I: 2Sam 24:2.9-17
Bacaan Injil: Mrk 6:1-6

Pernahkah Anda merasa ditolak? Mungkin oleh keluarga sendiri, oleh atasan, oleh pasangan, oleh orang yang Anda cintai, atau oleh mereka yang Anda harapkan bisa mendukung Anda. Bentuk dan cara penolakan memang berbeda-beda, tetapi rasa sakitnya tetap sama: kecewa, patah hati, kehilangan semangat, bahkan tidak jarang membuat seseorang putus harapan.

Penolakan bukan hanya bagian dari pengalaman hidup manusia biasa. Dalam sejarah keselamatan, para nabi yang diutus Allah pun mengalami penolakan yang pahit. Mereka bukan hanya tidak didengarkan, tetapi juga diusir, dianiaya, bahkan dibunuh. Yesus sendiri, Sang Putra Allah, mengalami penolakan yang sangat dekat dengan hati manusia: ditolak oleh saudara-saudaranya, orang sekampung-Nya, dan mereka yang mengenal-Nya sejak kecil.

Injil hari ini mengisahkan bahwa Yesus tidak dihormati di kampung halaman-Nya. Mereka meragukan-Nya, mempertanyakan asal-usul-Nya, dan menolak karya keselamatan yang Ia bawa. Yesus berkata, “Seorang nabi dihormati di mana-mana kecuali di tempat asalnya sendiri, di antara kaum keluarganya dan di rumahnya.” (Mrk 6:4).

Namun, bagaimana Yesus menanggapi penolakan itu? Ia tidak marah, tidak menyimpan dendam, dan tidak patah semangat. Dengan lemah lembut dan rendah hati, Ia tetap melanjutkan karya-Nya. Yesus tetap berbuat baik dan mewartakan keselamatan di tempat lain. Kelemahlembutan dan kerendahan hati-Nya membuka jalan bagi karya Allah terus berlangsung dan menyentuh banyak orang.

Sebagai murid-murid Kristus, kita pun dipanggil untuk mewartakan kebaikan dan kasih di tengah hidup ini. Namun, sebagaimana dialami Yesus, kita juga akan berhadapan dengan penolakan. Perbuatan baik kita mungkin tidak dianggap. Kebaikan kita bisa disalahpahami. Ketulusan kita mungkin tidak dihargai. Bahkan ada saatnya kita merasa sendirian dalam perjuangan.

Tetapi percayalah, penolakan tidak pernah mampu mematahkan karya Allah di dalam diri kita. Penolakan justru membentuk kita, memurnikan motivasi kita, dan menguatkan panggilan kita sebagai pewarta kasih. Tantangan demi tantangan dapat menjadi jalan Tuhan untuk menggembleng hati kita agar semakin menyerupai hati Kristus.

Kita tidak berjalan sendiri. Melalui Ekaristi, Tuhan selalu memberikan peneguhan. Dalam perayaan Ekaristi, kita belajar kembali tentang kelemahlembutan dan kerendahan hati Yesus. Kita dikuatkan untuk tetap setia meskipun tidak selalu diterima. Kita diajar untuk terus berbuat baik meski tidak selalu dipuji. Dan kita dituntun untuk tetap berharap meski menghadapi penolakan.

Ketika hati kita ditolak, ingatlah: Kristus lebih dulu mengalaminya. Ketika semangat kita melemah, ingatlah: rahmat-Nya selalu menopang. Ketika kita merasa sendirian, ingatlah: kita tidak pernah dibiarkan.

Semoga hati Yesus yang lembut dan rendah hati membimbing kita untuk tetap setia dalam setiap perutusan kita.

Tuhan memberkati, dan Ave Maria!