Renungan Harian, Minggu Adven IV – 21 Desember 2025
Bacaan I: Yes 7:10-14
Bacaan II: Rm 1:1-7
Bacaan Injil: Mat 1:18-24
Menumbuhkan Kerendahan hati dan Ketaatan pada Kehendak Allah
Kita telah memasuki Minggu Adven IV, Minggu terakhir sebelum Natal. Gereja mengajak kita semakin menajamkan hati untuk menyambut kehadiran Allah yang menjadi manusia. Bacaan-bacaan hari ini berbicara tentang iman yang berserah, ketaatan yang rendah hati, dan kesediaan untuk mempercayakan hidup sepenuhnya kepada Allah, meskipun jalan-Nya sering kali tidak mudah dipahami.
Dalam Bacaan Injil hari ini (Mat 1:18–24), kita diajak menatap sosok Santo Yusuf. Ia bukan tokoh yang banyak bicara. Ia tidak berkhotbah, tidak berdebat, dan tidak mempertanyakan Allah dengan kata-kata. Namun justru dalam keheningan dan tindakannya, iman Yusuf bersinar dengan sangat kuat.
Yusuf berada dalam situasi yang sangat sulit. Secara manusiawi, ia memiliki alasan kuat untuk merasa kecewa, marah, bahkan menjauh. Maria, yang ia cintai, mengandung sebelum mereka hidup sebagai suami istri. Di tengah kebingungan dan kegelisahan itu, Yusuf memilih jalan yang paling bermartabat: ia tidak ingin mencemarkan Maria. Ia berniat pergi secara diam-diam. Di sinilah kita melihat kerendahan hati seorang beriman—ia tidak mengutamakan harga diri, melainkan kasih.
Namun Allah tidak tinggal diam. Melalui mimpi, malaikat Tuhan menyampaikan kehendak-Nya. Dan yang luar biasa, Yusuf tidak berdebat, tidak menawar, tidak menunda. Injil mencatat dengan sangat sederhana namun dalam maknanya: “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya.”
Di sinilah iman sejati itu tampak: ketaatan yang lahir dari kepercayaan penuh kepada Allah.
Kalau kita tarik ke dalam kehidupan dewasa ini, banyak dari kita hidup dalam dunia yang penuh ketidakpastian. Rencana hidup sering berubah tiba-tiba. Apa yang kita susun dengan rapi bisa runtuh oleh keadaan: masalah keluarga, tekanan ekonomi, konflik relasi, penyakit, atau tuntutan hidup yang terasa tidak adil. Tidak jarang kita bertanya: “Tuhan, mengapa harus begini?”
Budaya zaman sekarang sering mendorong kita untuk selalu mengontrol segalanya, mengandalkan logika, kekuatan diri, dan ambisi pribadi. Ketika sesuatu tidak sesuai rencana, kita mudah frustrasi, marah, bahkan menyalahkan Tuhan. Di sinilah teladan Santo Yusuf menjadi sangat relevan. Ia mengajarkan kepada kita bahwa iman bukan soal mengerti semuanya, tetapi berani mempercayakan semuanya kepada Allah.
Bacaan I dari Nabi Yesaya menegaskan janji Allah: “Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.”
Imanuel berarti Allah beserta kita. Allah tidak meninggalkan manusia bergumul sendirian. Ia hadir, menyertai, dan bekerja bahkan melalui situasi yang tampak gelap dan tidak masuk akal.
Santo Paulus dalam Bacaan II (Rm 1:1–7) mengingatkan bahwa hidup orang beriman adalah hidup yang dipanggil dan diutus. Kita semua, dalam panggilan masing-masing—sebagai orang tua, pasangan, imam, biarawan-biarawati, OMK, pekerja, atau pelajar—dipercaya Allah untuk ambil bagian dalam karya keselamatan-Nya. Tugas perutusan itu tidak selalu mudah, tetapi selalu bermakna bila dijalani dengan setia.
Adven adalah masa untuk mengikis keegoisan, membuka hati, dan belajar berserah. Berserah bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan berjalan dengan keyakinan bahwa Allah memegang kendali hidup kita. Seperti Yusuf, kita diajak untuk mendengarkan suara Tuhan—dalam doa, dalam keheningan, dan dalam peristiwa hidup—lalu bertindak dengan setia.
Marilah kita belajar dari Santo Yusuf untuk rendah hati di hadapan Allah, setia dalam tugas kecil maupun besar, dan menyerahkan seluruh hidup kita ke dalam penyelenggaraan kasih-Nya. Dengan demikian, kita sungguh siap menyambut kelahiran Sang Imanuel—Allah yang hadir dan tinggal bersama kita.
Selamat Hari Minggu, Tuhan memberkati kita semua.. Ave Maria.





