Renungan Harian: Menjaga Api Cinta dan Pengampunan

3

Renungan Harian – 23 Januari
Bacaan I: 1Sam 24:3–21
Bacaan Injil: Mrk 3:13–19

Menjaga Api Cinta dan Pengampunan
Orang yang sungguh menggantungkan hidupnya pada Tuhan akan selalu memiliki keberanian untuk memilih jalan kasih, bahkan ketika ia dilukai oleh kedengkian, kebencian, dan ketidakadilan. Ia tidak membiarkan hatinya dikuasai dendam. Ia tidak membalas kebencian dengan kebencian, dan tidak pula membalas kejahatan dengan kejahatan. Sebaliknya, ia menjaga api cinta dan pengampunan tetap menyala dalam hidupnya.

Bacaan pertama hari ini menghadirkan sosok Daud sebagai teladan iman yang matang dan taat. Daud adalah orang pilihan Tuhan, namun hidupnya tidak bebas dari penderitaan. Ia dimusuhi, dikejar, bahkan hendak dibunuh oleh Raja Saul. Meski demikian, Daud tidak membiarkan hatinya dikotori oleh dendam. Cintanya kepada Saul sebagai orang yang diurapi Tuhan tidak pernah padam.

Puncak dari sikap iman Daud tampak ketika ia memiliki kesempatan emas untuk membunuh Saul. Secara manusiawi, inilah saat pembalasan yang “sah”. Namun Daud menolak. Dengan hati yang jernih ia berkata: “Aku tidak akan menjamah tuanku itu, sebab dialah orang yang diurapi Tuhan.” (1Sam 24:11)

Daud memilih untuk menjaga kemurnian hati dan tangannya. Ia lebih memilih setia kepada Allah daripada menuruti dorongan dendam. Ia sadar bahwa hidupnya berada dalam tangan Tuhan, bukan dalam kendali amarah dan kebencian.

Sikap Daud ini sejalan dengan Injil hari ini, ketika Yesus memanggil dan memilih para rasul-Nya. Mereka dipanggil bukan karena kesempurnaan mereka, melainkan untuk dibentuk menjadi pribadi-pribadi yang hidup dari kasih, pengampunan, dan perutusan. Mengikuti Kristus berarti belajar mengasihi seperti Dia mengasihi—tanpa syarat dan tanpa balas dendam.

Dalam hidup kita sehari-hari, pengalaman pahit seperti Daud bukanlah hal asing. Kita bisa disakiti, dikhianati, difitnah, dicaci-maki, bahkan dilupakan oleh orang-orang yang kita percaya. Pertanyaannya: apa yang akan kita lakukan dengan luka itu? Apakah kita membiarkannya berubah menjadi dendam, atau kita menyerahkannya kepada Tuhan untuk disembuhkan?

Renungan hari ini mengajak kita untuk menyatukan diri dengan Allah, sumber cinta sejati. Kita dipanggil untuk berjuang menghancurkan rasa dendam yang memenjarakan hati, dan melawan keinginan untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita diajak membuka tangan dan hati agar dipenuhi kasih, sehingga mampu mengampuni dan mendoakan mereka yang telah menyakiti kita.

Memilih pengampunan memang tidak mudah. Namun percayalah, saat kita berani melangkah di jalan ini, Tuhan sendiri yang memenuhi hati kita dengan damai dan sukacita sejati—damai yang tidak dapat diberikan oleh dunia.

Tuhan memberkati. Ave Maria.