Renungan Harian — 02 Februari 2026
Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah
Bacaan I: Mal 3:1-4
Bacaan II: Ibr 2:14-18
Bacaan Injil: Luk 2:22-40
Setiap tahun Gereja merayakan Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah—momen kudus ketika Yusuf dan Maria membawa Yesus kecil untuk dipersembahkan kepada Tuhan, sebagaimana tercatat dalam hukum Taurat. Di balik tindakan sederhana ini, Injil memperlihatkan misteri besar tentang identitas dan misi Sang Mesias.
Saat bayi Yesus dibawa ke Bait Allah, Simeon—yang dipenuhi Roh Kudus—mendekap-Nya dan menyatakan sesuatu yang melampaui sekadar persembahan ritual. Ia melihat dalam diri Yesus Terang sejati: “Terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu Israel.” (Luk 2:32)
Perjumpaan di Bait Allah itu menjadi perjumpaan yang mengatasi semua perjumpaan. Simeon yang telah lama menantikan Mesias akhirnya boleh melihat sendiri Terang keselamatan itu. Maka keluarlah dari mulutnya kidung indah yang kita kenal sebagai Nunc Dimittis: “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera… karena mataku telah melihat keselamatan-Mu.” (Lih. Luk 2:29-32)
Namun, sukacita perjumpaan itu juga diiringi sebuah nubuat yang mengandung misteri salib. Sambil menatap Maria, Simeon berkata: “Suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” (Luk 2:35)
Maria, yang berjalan dalam cahaya Kristus, juga akan menyatu dengan penderitaan Putranya. Ia menjadi gambaran Gereja—Gereja yang dipanggil untuk menerima terang, tetapi juga memikul salib.
Kita pun demikian. Melalui sakramen Baptis, kita telah dipersembahkan kepada Tuhan, menjadi milik-Nya, dan diundang untuk hidup dalam cahaya kasih-Nya. Persembahan diri itu memiliki konsekuensinya: kesetiaan, pengurbanan, dan kerelaan memikul salib.
Maka hari ini, marilah kita menghayati kembali semangat persembahan itu:
1. Setia tinggal dalam kesatuan dengan Allah. Sebagai yang telah dipersembahkan, kita dipanggil untuk menjaga relasi dengan Bapa—melalui doa, sakramen, dan hidup dalam firman-Nya.
2. Berani berkurban dalam pelayanan. Dipersembahkan berarti memberi diri secara tulus, total, dan tanpa pamrih dalam karya kasih dan pelayanan.
3. Militan dalam memikul salib. Tidak mundur ketika kesulitan datang. Salib adalah konsekuensi sekaligus jalan menuju kemuliaan.
Semoga terang Kristus yang dinyatakan di Bait Allah menerangi peziarahan kita, meneguhkan hati kita untuk tetap setia, dan menguatkan kita dalam setiap salib yang harus kita pikul.
Selamat merayakan Pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah. Tuhan memberkati. Ave Maria!





