Renungan Harian, Rabu, 3 September 2025 Peringatan Wajib St. Gregorius Agung, Paus dan Pujangga Gereja
Bacaan Injil: Luk 4:38–44
Dalam bacaan pertama, Paulus menegaskan perbedaan antara manusia duniawi dan manusia rohani. Manusia duniawi hidup hanya untuk diri sendiri: mencari kesenangan pribadi, haus akan pengakuan, mudah iri dan berselisih. Paulus berkata tegas: “Jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan, bukankah itu tanda bahwa kamu masih manusia duniawi?” (1Kor 3:3).
Sebaliknya, manusia rohani membiarkan dirinya digerakkan oleh Roh Allah. Ia menyelaraskan keinginan diri dengan kehendak Roh, hidup dalam persekutuan kasih, dan berorientasi pada persaudaraan, bukan persaingan. Roh Allah selalu mempersatukan, bukan memecah-belah.
Injil hari ini menunjukkan bagaimana Yesus hidup sepenuhnya sebagai Manusia Rohani sejati. Ia hadir bukan untuk mencari kemuliaan diri, melainkan untuk melayani: menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, menguatkan yang lemah, dan mewartakan Kerajaan Allah tanpa lelah. Kehadiran-Nya membawa sukacita dan damai, bukan kegaduhan atau konflik.
Bagaimana dengan kita hari ini?
Di tempat kerja, di sekolah, bahkan di lingkungan pelayanan gereja, iri hati dan perselisihan sering muncul. Misalnya: Di kantor, kita kesal jika rekan kerja dipuji atasan, padahal kita merasa lebih layak. Di komunitas, kita sulit menerima kalau ada orang lain yang lebih menonjol dalam pelayanan. Di media sosial, kita mudah tergoda membandingkan diri dengan pencapaian orang lain.
Sikap ini membuat kita hidup terkungkung dalam semangat duniawi—sibuk meninggikan diri, meremehkan orang lain, bahkan ingin menjatuhkan sesama.
Hari ini kita diajak untuk berubah: menjadi manusia rohani yang menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari. Caranya sederhana namun menantang: Belajar bersyukur, bukan iri hati. Memberi dukungan, bukan menjatuhkan. Merangkul yang tersisih, bukan mencari pengikut untuk diri sendiri.
St. Gregorius Agung, yang kita peringati hari ini, dikenal sebagai paus yang rendah hati dan pelayan sejati. Ia tidak mencari kemuliaan pribadi, tetapi selalu menempatkan pelayanan di atas segalanya. Semangat ini bisa kita teladani di zaman sekarang: melayani tanpa pamrih, dan selalu membawa damai di manapun kita berada.
Selamat pagi! Tuhan memberkati. Ave Maria!





