Renungan Harian – 08 Januari 2026
Bacaan I: 1Yoh 4:19–5:4
Bacaan Injil: Luk 4:14–22a
“Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.” (1Yoh 4:19)
Mengasihi merupakan keutamaan Kristiani yang mesti dipupuk dan dikembangkan secara terus-menerus. Kasih bukan sekadar perasaan sesaat, melainkan sikap hidup yang perlu dirawat agar semakin subur dan bertumbuh, hingga akhirnya membuahkan hasil yang berlimpah dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam bacaan pertama, Santo Yohanes menegaskan dengan sangat jelas bahwa kasih bersumber dari Allah sendiri. Dialah yang lebih dahulu mengasihi kita, bahkan ketika kita masih lemah dan berdosa. Karena itu, kasih kita kepada Allah sejatinya merupakan jawaban atas kasih-Nya yang lebih dahulu dicurahkan kepada kita. Iman yang sejati tidak pernah berhenti pada pengakuan dengan kata-kata, tetapi mesti nyata dalam tindakan kasih kepada sesama.
Santo Yohanes berbicara dengan tegas dan tanpa kompromi: “Jikalau seorang berkata: ‘Aku mengasihi Allah,’ dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta.” Mengasihi Allah yang tidak kelihatan tidak mungkin dipisahkan dari mengasihi sesama yang kelihatan. Kasih kepada Allah selalu menemukan wujud nyatanya dalam relasi kita dengan orang lain. Maka, orang yang sungguh mengasihi Allah pasti juga mengasihi saudaranya.
Injil hari ini menampilkan Yesus yang kembali ke Galilea dalam kuasa Roh. Ia masuk ke rumah ibadat di Nazaret dan menyampaikan kabar keselamatan: Roh Tuhan ada pada-Nya, Ia diurapi untuk menyampaikan kabar baik kepada orang miskin, membebaskan yang tertawan, dan memulihkan yang tertindas. Sabda yang diwartakan Yesus bukan hanya indah untuk didengar, tetapi menuntut keterlibatan nyata dalam kehidupan kasih yang membebaskan dan menyembuhkan.Namun, menghidupi kasih bukanlah perkara mudah. Dalam lingkup hidup kita—keluarga, komunitas, lingkungan kerja, maupun masyarakat—kita berjumpa dengan aneka ragam pribadi, karakter, dan pandangan. Tidak jarang kita berhadapan dengan orang-orang yang menyebalkan, tidak sepaham, bahkan melukai hati kita. Justru di situlah kualitas kasih kita diuji. Kasih Kristiani bukan kasih yang memilih-milih, melainkan kasih yang tetap setia meski harus berkorban.
Hari ini kita diundang untuk kembali memeriksa diri: apakah kasih masih hidup dan bertumbuh dalam hati kita, atau justru mulai terhimpit oleh amarah, ego, iri hati, dan kekecewaan? Jangan biarkan emosi-emosi negatif mematikan benih kasih yang telah Allah tanamkan dalam diri kita. Dengan rahmat-Nya, kita dimampukan untuk mengasihi siapa pun tanpa pandang bulu, mengasihi dengan tulus, dan mengasihi sampai tuntas.
Marilah kita terus memupuk kasih dalam hidup kita, sebab kasih itulah tanda kemenangan iman kita atas dunia.
Tuhan memberkati. Ave Maria.





