Renungan Harian: Kesetiaan sering kali penuh dengan air mata, pengorbanan, dan perjuangan.

2

Renungan Harian, 19 Februari 2020
Bacaan I: Ul 30:15-20
Bacaan Injil: Luk 9:22-25

Hidup ini penuh dengan persimpangan—jalan yang membawa kepada kehidupan dan jalan yang menuntun kepada kebinasaan. Tidak sedikit godaan yang membuat hati kita mudah berpaling dari Tuhan. Tanpa iman yang teguh, manusia dapat tersesat dalam kesenangan sesaat, janji palsu dunia, dan pilihan-pilihan yang menjauhkan diri dari Allah.

Itulah sebabnya Musa dengan tegas menyerukan kepada bangsa Israel agar memilih jalan kehidupan dengan tetap setia kepada Tuhan. Ia mengingatkan bahwa berpaling dari Allah hanya akan membawa manusia kepada kehancuran. Sabda Tuhan berkata dengan sangat jelas: “Tetapi jika hatimu berpaling dan engkau tidak mau mendengar … maka aku memberitahukan kepadamu pada hari ini, bahwa pastilah kamu akan binasa.” (Ul 30:17-18).

Peringatan keras ini bukan ungkapan hukuman, tetapi luapan kasih Allah yang tidak ingin umat-Nya menempuh jalan yang merusak diri. Tuhan menghendaki kita hidup, tumbuh, dan berbahagia dalam relasi yang benar dengan-Nya.

Memasuki masa Prapaskah, kita diberi kesempatan untuk menata kembali hidup rohani kita: Membenahi relasi yang renggang dengan Tuhan. Kembali pada doa, pertobatan, dan tobat yang sejati. Memurnikan pilihan hidup agar selaras dengan kehendak-Nya.

Namun Yesus mengingatkan bahwa kesetiaan bukan jalan yang mulus. Mengikut Dia berarti: “menyangkal diri, memikul salib setiap hari, dan mengikut Aku.” (Luk 9:23)

Kesetiaan sering kali penuh dengan air mata, pengorbanan, dan perjuangan. Ada saat-saat ketika mengikut Yesus terasa berat, dan dunia menawarkan jalan pintas yang tampak lebih mudah. Tetapi ingatlah: menyangkal Yesus demi keuntungan sesaat sama saja dengan kehilangan hidup yang sejati.

Janganlah kita menjual kesetiaan hanya demi “sekeping perak”—hal kecil, godaan kecil, keuntungan kecil yang membuat kita kehilangan kedamaian dan keselamatan.

Kesetiaan selalu berbuah kemuliaan.

Tuhan tidak pernah menyesatkan orang yang berjalan bersama-Nya. Salib yang kita pikul bersama-Nya akan membawa kita pada hidup baru dan sukacita sejati.

Semoga masa Prapaskah ini menjadi perjalanan rohani untuk kembali, bertobat, dan memilih Tuhan di atas segala-galanya.

Tuhan memberkati dan Ave Maria!