Renungan Harian: Keruntuhan Bait Allah menjadi simbol runtuhnya hubungan manusia dengan Allah akibat dosa

100

Renungan Harian, 25 November 2025
Bacaan I: Dan 2:31–45
Mazmur Tanggapan: T. Dan 3:57–61
Bait Pengantar Injil: Why 2:10c
Bacaan Injil: Luk 21:5–11

Dalam hidup ini, tidak ada sesuatu pun yang benar-benar abadi. Segala kemegahan, harta, kekuasaan, bahkan hal-hal yang paling kita banggakan, semuanya bersifat sementara. Bila tidak digunakan dengan bijak, semua itu justru dapat menjadi petaka. Namun, bila kita mengelolanya sesuai kehendak Tuhan dan tuntunan Roh Kudus, maka semuanya dapat berubah menjadi berkat—baik bagi hidup kita kini maupun kehidupan kekal nanti.

Injil hari ini berbicara tentang runtuhnya Bait Allah, bangunan yang begitu megah dan membuat banyak orang terpesona. Di tengah kekaguman mereka, Yesus berkata: “Apa yang kamu lihat di situ—akan datang harinya di mana tidak ada satu batu pun akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” (Luk 21:6)

Dan nubuat itu benar terjadi. Kini kemegahan Yerusalem kuno tersisa dalam puing-puing yang diam membisu tentang masa lalu.

Keruntuhan Bait Allah menjadi simbol runtuhnya hubungan manusia dengan Allah akibat dosa. Banyak orang tidak lagi peka terhadap jamahan kasih Tuhan, tidak mampu melihat kehadiran-Nya yang nyata dalam hidup mereka. Bahkan, ada yang mengajarkan hal-hal sesat demi kepentingan pribadi. Di tengah situasi itu, Yesus sendiri akan mengalami penolakan dan penderitaan. Banyak yang tidak mau mengakui Dia, bahkan ada yang mengaku-ngaku sebagai Mesias.

Karena itu Yesus mengingatkan dengan tegas: “Waspadalah, supaya kamu jangan disesatkan… Janganlah kamu mengikuti mereka.” (Luk 21:8)

Peringatan ini sangat relevan bagi kita hari ini. Di tengah dunia yang penuh tawaran, klaim kebenaran, informasi yang simpang-siur, dan godaan yang memikat, kita mudah sekali teralih dari fokus iman kita.

Maka, pandangan kita harus diarahkan kembali kepada Yesus, satu-satunya yang menjamin keselamatan kita. Jangan sampai mata kita hanya terpaku pada gemerlap dunia yang tidak kekal. Apa pun yang tampak megah pada hari ini suatu saat akan runtuh, tetapi kemuliaan Allah tetap abadi.

Mari kita perbarui kekaguman kita kepada Allah, yang keindahan-Nya tak tertandingi. Biarlah hati kita tidak disilaukan oleh kemegahan dunia, tetapi dipenuhi oleh terang kasih Tuhan yang kekal.

Tuhan memberkati. Ave Maria!