Renungan Harian: Kerendahan hati membuka jalan bagi rahmat Tuhan

82

Renungan Harian, Minggu 31 Agustus 2025
Minggu Biasa XXII
Bacaan I: Sir 3:17-18.20.28-29
Bacaan II: Ibr 12:18-19.22-24a
Bacaan Injil: Luk 14:1.7-14

Kadang kita berjumpa dengan orang yang pintar, berprestasi, memiliki jabatan tinggi, tetapi sikapnya sombong. Hidupnya terkesan sewenang-wenang, suka merendahkan orang lain, dan selalu menuntut untuk dihormati. Ia memandang orang lain seolah tidak memiliki nilai. Padahal, kesombongan justru merendahkan martabat diri sendiri.

Yesus berkata, “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” (Luk 14:11). Tidak ada seorang pun yang sungguh merasa nyaman bergaul dengan orang sombong. Kalau pun ada yang mendekat, biasanya bukan karena tulus, melainkan karena terpaksa.

Yesus dalam Injil hari ini mengajarkan keutamaan kristiani yang menjadi dasar kehidupan beriman: kerendahan hati. Kerendahan hati bukan sekadar sikap sopan, tetapi fondasi untuk membangun hidup yang bermartabat dan memancarkan kemuliaan Allah. Putra Sirakh menegaskan, “Makin besar engkau, makin patut kaurendahkan dirimu, supaya kau mendapat karunia di hadapan Tuhan.” (Sir 3:18).

Menjadi rendah hati bukanlah hal mudah. Kita harus berproses terus-menerus untuk melepaskan ego dan keinginan untuk selalu diutamakan, rela direndahkan, diremehkan, bahkan tidak dianggap, belajar menghargai dan mencintai siapa pun tanpa membeda-bedakan, hidup solider dan mau berkorban untuk sesama yang kecil dan lemah, dan melakukan semua itu tanpa pamrih.

Kerendahan hati membuka jalan bagi rahmat Tuhan. Ia yang rendah hati akan lebih mudah mendengar, belajar, dan membiarkan dirinya dibentuk oleh Allah. Inilah sikap yang membuat hidup kita berbuah dan penuh berkat. Semoga kita semakin setia berproses untuk hidup rendah hati dan melayani tanpa pamrih.

Tuhan memberkati dan Ave Maria!