Renungan Harian: Kejahatan tidak bisa dinegosiasikan atau dibiarkan berkembang

167

Renungan Harian – 2 September 2025
Bacaan Injil: Lukas 4:31–37

Kuasa Yesus bukan sekadar kata-kata indah atau ajaran moral yang menghibur telinga. Sabda-Nya penuh daya, berwibawa, dan menembus hati manusia. Bahkan roh-roh jahat pun gemetar dan mengakui Dia sebagai Anak Allah. Di rumah ibadat Kapernaum, Yesus tidak bernegosiasi dengan kuasa gelap. Ia menghardik roh jahat dan mengusirnya tanpa kompromi.

Injil hari ini mengingatkan kita: kejahatan tidak bisa dinegosiasikan atau dibiarkan berkembang. Segala hal yang merusak martabat manusia—korupsi, kekerasan, kebohongan, penindasan yang berkedok kebaikan, bahkan kebencian yang menyusup di balik layar media sosial—adalah wujud nyata kuasa jahat di zaman ini. Mereka membelenggu, memecah-belah, dan mematikan kehidupan rohani maupun sosial.

Situasi dunia sekarang pun jelas memperlihatkan hal ini. Perpecahan di tengah masyarakat, fitnah dan hoaks yang merajalela, keserakahan ekonomi yang mengorbankan kaum kecil, hingga budaya instan yang membuat hati tumpul terhadap kebenaran—semua itu adalah tanda bahwa kuasa jahat terus berusaha menancapkan kukunya. Seperti Yesus, kita dipanggil untuk tidak memberi celah sedikit pun.

Bagaimana caranya? Pertama, berani jujur pada diri sendiri: roh jahat mana yang diam-diam bersarang di hati kita—kesombongan, iri hati, dendam, atau sikap masa bodoh? Kedua, membuka hati agar kuasa Roh Allah memimpin hidup kita. Hanya dengan kuasa-Nya kita mampu mengusir “setan-setan kecil” yang sering bersembunyi dalam sikap sehari-hari. Ketiga, bersikap tegas terhadap kejahatan dalam bentuk apa pun—mulai dari menolak godaan untuk ikut menyebar kebohongan, hingga berani membela kebenaran walau tidak populer.

Hari ini, marilah kita mohon keberanian untuk meneladani Yesus yang tidak kompromi dengan kejahatan. Semoga Roh Kudus memenuhi hati kita, agar kuasa Allah lebih besar daripada kuasa gelap yang ingin membelenggu dunia.

Tuhan memberkati dan Ave Maria!