Renungan Harian: Kebutaan Tidak Hanya Terjadi Secara Jasmani, Tetapi Juga Secara Rohani.

1

RENUNGAN HARIAN
Minggu Prapaskah IV – 15 Maret 2026
Bacaan I: 1 Sam 16:1b.6-7.10-13a
Mazmur Tanggapan: Mzm 23:1-3a.3b-4.5.6
Bacaan II: Ef 5:8-14
Bait Pengantar Injil: Yoh 8:12b
Bacaan Injil: Yoh 9:1-41

Dalam Injil hari ini diceritakan tentang penyembuhan seorang yang buta sejak lahir. Ketika Yesus sedang berjalan, Ia melihat orang itu dan tergerak hati-Nya oleh belas kasih. Tanpa diminta, Yesus mendekatinya dan menyembuhkannya. Peristiwa ini menunjukkan bahwa belas kasih Allah selalu mendahului kita. Allah melihat penderitaan manusia dan datang sebagai Penolong sejati.

Orang yang buta sejak lahir tentu mengalami penderitaan yang berat secara fisik. Ia tidak dapat melihat dunia di sekitarnya. Namun melalui mukjizat itu, Injil mengajak kita menyadari bahwa kebutaan tidak hanya terjadi secara jasmani, tetapi juga secara rohani. Banyak orang memiliki mata yang sehat, tetapi tidak mampu melihat karya dan kasih Allah dalam hidupnya.

Dalam proses penyembuhan itu, Yesus berkata kepada orang buta tersebut, “Pergilah, basuhlah dirimu dalam kolam Siloam.” Siloam berarti “yang diutus.” Perintah ini memiliki makna rohani yang mendalam. Air yang membasuh dan memulihkan penglihatan itu mengingatkan kita akan rahmat Baptisan. Melalui baptisan, mata iman kita dibuka sehingga kita mampu melihat terang Allah dalam hidup kita. Kita tidak lagi hidup dalam kegelapan, tetapi dalam terang Kristus.

Namun Injil juga menunjukkan ironi. Orang yang tadinya buta justru akhirnya melihat dan percaya kepada Yesus, sedangkan orang-orang Farisi yang merasa diri benar malah tetap buta secara rohani. Mereka menolak melihat kebenaran hanya karena mukjizat itu terjadi pada hari Sabat. Kesombongan dan hati yang tertutup membuat mereka tidak mampu mengenali karya Allah yang nyata di hadapan mereka.

Karena itu, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kita sungguh melihat karya Allah dalam hidup kita, atau justru masih buta karena kesombongan, egoisme, dan prasangka? Masa Prapaskah adalah saat yang tepat untuk memohon agar Tuhan membuka mata hati kita, sehingga kita mampu melihat kasih-Nya dan hidup dalam terang-Nya.

Seperti orang buta yang disembuhkan itu, marilah kita datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati dan iman. Ketika kita membiarkan Tuhan menjamah hidup kita, maka kita pun akan mampu berkata dengan penuh keyakinan: “Aku percaya, Tuhan!” (Yoh 9:38).

Tuhan memberkati dan Ave Maria.