Renungan Harian, 26 Januari 2026
PW. Santo Timotius dan Titus, Uskup
Bacaan I: 2Tim 4:10–17b
Bacaan Injil: Luk 10:1–9
Menjalankan tugas perutusan secara benar memang tidak pernah mudah. Jalan perutusan sering kali dipenuhi tantangan, kesalahpahaman, penolakan, bahkan pengucilan. Ada kalanya kita merasa tidak dihargai, diabaikan, atau seolah berjuang sendirian. Dalam situasi seperti itu, semangat bisa melemah dan hati menjadi goyah.
Pengalaman ini sejatinya bukan hal baru. Dalam Bacaan Pertama, Santo Paulus dengan jujur mengungkapkan pengalamannya: ada rekan yang meninggalkannya, ada yang mengecewakannya. Namun yang menarik, Paulus tidak larut dalam kekecewaan. Ia dengan tegas bersaksi, “Tuhan mendampingi aku dan memberi aku kekuatan.” (2Tim 4:17). Paulus belajar bahwa kesetiaan Tuhan jauh melampaui kesetiaan manusia.
Nada yang sama kita temukan dalam Injil hari ini. Yesus mengutus tujuh puluh dua murid-Nya dan dengan sangat realistis Ia berkata: “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala.” (Luk 10:3). Perutusan bukanlah jalan aman dan nyaman. Ia penuh risiko. Namun Yesus tidak mengutus murid-murid-Nya tanpa janji penyertaan. Dia sendiri adalah sumber kekuatan dan perlindungan mereka.
Yesus juga menegaskan bahwa perutusan bukan soal kehebatan pribadi, strategi canggih, atau bekal berlimpah. Para murid diutus dengan kesederhanaan, dengan hati yang mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Di situlah letak kekuatan sejati seorang pewarta: bukan pada dirinya sendiri, melainkan pada Dia yang mengutus.
Santo Timotius dan Santo Titus, yang hari ini kita peringati, adalah contoh nyata murid-murid yang setia dalam perutusan. Mereka menghadapi tantangan besar dalam menggembalakan jemaat, tetapi tetap teguh karena hidup mereka berakar pada Kristus. Mereka percaya bahwa kesetiaan Tuhan selalu lebih besar daripada beratnya salib perutusan.
Santo Gregorius Agung pernah menulis, “Tuhan kita mengikuti mereka yang mewartakan Dia, karena pewartaan itu meratakan jalan, dan kemudian Tuhan sendiri datang bersemayam di hati kita.” Betapa menguatkan! Artinya, setiap langkah perutusan yang kita jalani dengan setia akan selalu disertai oleh kehadiran Tuhan sendiri.
Hari ini, kita diajak untuk kembali menyadari panggilan perutusan kita masing-masing—di keluarga, di tempat kerja, di komunitas, dan di tengah masyarakat. Mungkin kita merasa kecil seperti domba di tengah serigala. Namun jangan takut. Dia yang mengutus tidak pernah meninggalkan. Roh Kuduslah yang menopang, meneguhkan, dan melindungi kita. Dan Tuhan juga menghadirkan sesama saudara yang menjadi penopang di sepanjang perjalanan perutusan kita. Semoga kita tetap setia melangkah, berani mewartakan kasih dan damai Tuhan, meski jalan terasa berat.
Tuhan memberkati. Ave Maria.





