RENUNGAN HARIAN
Minggu Palma, 29 Maret 2026
Bacaan I: Yes 50:4-7
Bacaan II: Flp 2:6-11
Bacaan Injil: Mat 26:14–27:66
Perayaan Minggu Palma membuka Pekan Suci dengan sebuah kontras yang sangat tajam: sorak-sorai kemuliaan dan jalan penderitaan. Yesus memasuki Yerusalem dengan dielu-elukan sebagai Raja, namun Ia juga sadar bahwa kota itu akan menjadi tempat penderitaan dan kematian-Nya.
Yesus tidak lari dari kenyataan itu. Ia tidak mundur, tidak mencari aman, dan tidak menghindari risiko. Justru dengan sadar dan penuh keberanian, Ia melangkah masuk ke Yerusalem. Inilah jiwa ksatria sejati: setia pada panggilan, meski harus menghadapi penderitaan.
Sorak “Hosana” yang menggema dari orang banyak menggambarkan penerimaan dan harapan. Namun Yesus tidak terbuai oleh pujian. Ia tetap rendah hati. Ia memilih menunggang keledai—lambang kesederhanaan dan kerendahan hati—bukan kuda perang yang melambangkan kekuasaan. Ia menunjukkan bahwa Kerajaan Allah tidak dibangun dengan kemegahan duniawi, tetapi dengan kasih dan pengorbanan.
Yang lebih menggetarkan, Dia yang dielu-elukan sebagai Raja, kemudian dihina, disiksa, dan disalibkan. Mahkota-Nya berubah menjadi mahkota duri. Ia yang adalah Putra Allah mengosongkan diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan taat sampai mati di kayu salib. Dari sanalah lahir keselamatan bagi kita.
Minggu Palma mengajak kita untuk bercermin: apakah iman kita hanya bertahan saat “Hosana” berkumandang, atau juga tetap teguh saat harus memanggul salib?
Mengikuti Kristus berarti berani mengambil risiko. Iman bukan sekadar kenyamanan, tetapi kesetiaan dalam segala situasi—baik saat dipuji maupun saat ditolak. Kita diajak untuk tidak lari dari salib kehidupan, melainkan memikulnya dengan kasih dan pengharapan.
Selain itu, kita pun dipanggil untuk hidup dalam kerendahan hati. Seperti Yesus, kita tidak mencari kemuliaan diri, tetapi kemuliaan Allah. Dalam setiap keberhasilan, kita tetap rendah hati. Dalam setiap penderitaan, kita tetap setia.
Semoga pada Minggu Palma ini, kita dikuatkan untuk memiliki hati yang berani, setia, dan rendah hati seperti Kristus. Kita berjalan bersama-Nya, tidak hanya dalam kemuliaan, tetapi juga dalam jalan salib, menuju kebangkitan.
Tuhan memberkati. Ave Maria.





