Renungan Harian: Hukum sejati lahir dari kasih Allah

145

Renungan Harian
Sabtu, 6 September 2025
Bacaan Injil: Lukas 6:1-5

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus menegur orang Farisi yang begitu kaku dalam memegang aturan hukum, sampai-sampai melupakan nilai kasih dan kemanusiaan. Murid-murid Yesus dianggap bersalah hanya karena memetik bulir gandum di hari Sabat. Padahal, yang mereka lakukan adalah hal sederhana demi memenuhi kebutuhan mereka yang paling mendasar: lapar.

Yesus ingin menegaskan bahwa hukum bukanlah untuk memperbudak manusia, melainkan untuk menolong manusia agar hidup lebih baik. Hukum sejati lahir dari kasih Allah, sehingga pelaksanaannya pun harus berlandaskan kasih.

Dalam kehidupan sehari-hari kita juga sering terjebak pada pola pikir seperti orang Farisi. Misalnya di kantor, ada rekan kerja yang terlambat masuk rapat. Kita buru-buru menghakimi tanpa tahu bahwa ia sedang merawat anak yang sakit. Atau dalam keluarga, kita menuntut pasangan atau anak mematuhi aturan tertentu tanpa mau mendengar alasan atau situasi yang mereka alami. Bahkan di lingkungan masyarakat dan gereja, kita kadang lebih cepat menilai kesalahan orang lain berdasarkan aturan, tanpa berusaha memahami situasi dengan hati.

Yesus mengingatkan kita bahwa aturan dan hukum memang penting, namun kasih selalu menjadi ukuran tertinggi. Sebab tanpa kasih, hukum justru bisa menjadi alat untuk merendahkan dan menekan orang lain.

Hari ini, mari kita belajar menempatkan kasih sebagai dasar dari setiap aturan dan keputusan. Sebelum menilai atau menegur orang lain, mari kita tanyakan dulu pada hati nurani: “Apakah ini sungguh demi kebaikan? Apakah ada kasih di dalamnya?”

Tuhan memberkati. Ave Maria.