Renungan Harian: Guru Yang Sejati Tidak Hanya Mengajar, Tetapi Memberi Teladan Hidup

149

Renungan Harian  Selasa, 13 Januari 2026
Bacaan I: 1Samuel 1:9–20
Bacaan Injil: Markus 1:21b–28

Mewartakan Sabda Allah sesungguhnya tidak hanya bertumpu pada kecerdasan intelektual, kepiawaian berbicara, atau keindahan retorika semata. Kuasa sejati dalam pewartaan bersumber dari Allah sendiri. Karena itu, pewartaan Sabda harus selalu dirajut dalam relasi yang hidup dan intim dengan Allah, terutama melalui doa.

Dalam bacaan Injil hari ini, Injil Markus mengisahkan bagaimana orang banyak terkagum-kagum mendengarkan pengajaran Yesus. Kekaguman itu bukan semata karena kata-kata-Nya indah atau argumentasi-Nya kuat, melainkan karena pengajaran-Nya penuh kuasa. Yesus mengajar sebagai Pribadi yang memiliki otoritas ilahi. Injil menegaskan: “Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat.” (Mrk 1:22).

Kuasa itu nyata ketika Yesus membebaskan seorang yang kerasukan roh jahat. Roh jahat itu bahkan mengenali identitas Yesus: “Aku tahu siapa Engkau: Yang Kudus dari Allah.” (Mrk 1:24). Dengan satu sabda penuh kuasa, Yesus menghardik roh jahat itu: “Diam, keluarlah dari padanya!” (Mrk 1:25). Seketika orang itu dibebaskan. Pengajaran Yesus bukan sekadar teori, melainkan sabda yang menyelamatkan dan memerdekakan.

Hal ini sangat kontras dengan para ahli Taurat. Mereka memang menguasai Kitab Suci dan pandai mengajar, namun pengajaran mereka sering berhenti pada tataran intelektual. Apa yang diajarkan tidak selalu dihayati dan tidak membawa pembaruan hidup. Sabda yang diwartakan kehilangan daya pembebasannya karena terlepas dari relasi yang hidup dengan Allah.

Bacaan pertama hari ini menampilkan Hana, seorang perempuan yang datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur dan penuh kepercayaan. Dalam doa yang tekun dan jujur, Hana menyerahkan seluruh hidupnya kepada Allah. Dari relasi doa itulah lahir kehidupan baru: Samuel, seorang nabi besar bagi Israel. Doa yang tulus membuka jalan bagi karya Allah yang menyelamatkan.

Renungan hari ini mengingatkan kita bahwa seorang pewarta, guru, atau pelayan Tuhan dipanggil bukan hanya untuk pandai berkata-kata, melainkan terlebih untuk hidup dari Allah. Guru yang sejati tidak hanya mengajar, tetapi memberi teladan hidup. Pewarta Injil yang sejati bukan hanya menyampaikan Sabda, tetapi menghadirkan kuasa Allah yang memerdekakan.

Marilah kita terus bertekun dalam doa dan kebajikan. Marilah kita senantiasa berserah pada kuasa dan tuntunan Roh Kudus, agar hidup dan kesaksian kita sungguh menjadi berkat bagi sesama. Semoga melalui hidup kita, orang lain mengalami pembebasan, pengharapan, dan keselamatan.

Tuhan memberkati. Ave Maria.