Renungan Harian, 04 Januari 2026
Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani)
Hari Anak Misioner
Bacaan I: Yesaya 60:1–6
Mazmur Tanggapan: Mazmur 72:1–2.7–8.10–11.12–13
Bacaan II: Efesus 3:2–3a.5–6
Bacaan Injil: Matius 2:1–12
Hari ini Gereja merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan (Epifani), saat Allah menyingkapkan diri-Nya kepada seluruh bangsa. Dalam Injil kita mendengar kisah indah tentang orang-orang Majus dari Timur yang datang mencari dan menyembah Sang Raja yang baru lahir. Bersamaan dengan perayaan ini, Gereja juga merayakannya sebagai Hari Anak Misioner, hari di mana kita diajak menumbuhkan semangat mencari Tuhan, bersaksi, dan mewartakan kabar keselamatan sejak usia dini.
Orang-orang Majus adalah para sarjana dan ahli perbintangan. Mereka bukan orang Israel, bahkan pada masa itu dianggap sebagai orang kafir. Namun justru kepada merekalah Allah berkenan menampakkan diri-Nya. Mereka membaca tanda-tanda langit, mengikuti bintang, dan menempuh perjalanan panjang hingga akhirnya berjumpa dengan Yesus, Sang Terang sejati. Kisah ini menegaskan bahwa keselamatan Allah tidak dibatasi oleh suku, bangsa, atau latar belakang, tetapi diperuntukkan bagi semua orang yang dengan tulus mencari-Nya.
Menarik bahwa Injil tidak pernah menyebut jumlah orang Majus. Tradisi menyebut mereka tiga orang karena ada tiga persembahan yang dibawa: emas, kemenyan, dan mur. Persembahan ini bukan sekadar hadiah, melainkan pengakuan iman yang mendalam akan siapa Yesus sebenarnya.
Emas adalah lambang kemuliaan dan kekuasaan, persembahan bagi seorang raja. Dengan emas, orang Majus mengakui Yesus sebagai Raja sejati.
Kemenyan adalah sarana ibadat, yang asapnya naik ke surga. Persembahan ini menegaskan bahwa Yesus bukan hanya manusia, tetapi juga Allah yang layak disembah.
Mur digunakan untuk mempersiapkan jenazah, melambangkan penderitaan dan kematian. Mur menubuatkan jalan salib yang kelak harus ditempuh Yesus demi keselamatan umat manusia.
Dalam peristiwa Epifani ini, Allah menyatakan bahwa Dia hadir untuk mempersatukan, bukan memisahkan; mendamaikan, bukan menyingkirkan. Karena itu dalam tradisi Gereja, orang-orang Majus sering digambarkan dengan warna kulit yang berbeda—merah, cokelat, dan hitam—sebagai simbol bahwa seluruh bangsa dipanggil masuk ke dalam kasih Allah.
Setelah berjumpa dengan Yesus, orang-orang Majus tidak kembali melalui jalan yang sama. Mereka memilih jalan lain. Ini menjadi pesan penting bagi kita semua: perjumpaan sejati dengan Kristus selalu mengubah arah hidup. Kita tidak bisa tetap sama setelah bertemu dengan Tuhan. Kita dipanggil untuk menempuh jalan baru—jalan kasih, kebenaran, dan pewartaan Injil dalam hidup sehari-hari.
Sebagai umat beriman, dan secara khusus dalam semangat Hari Anak Misioner, kita diajak untuk peka terhadap “bintang-bintang” dalam hidup kita: firman Tuhan, suara hati, teladan orang-orang baik, dan peristiwa hidup yang menuntun kita semakin dekat kepada Kristus. Dari sanalah kita belajar untuk membawa “persembahan” hidup kita—waktu, talenta, dan kasih—bagi Tuhan dan sesama.
Semoga melalui perayaan Hari Raya Penampakan Tuhan ini, kita diteguhkan untuk terus mencari, menemukan, dan menyembah Kristus, serta berani melangkah di jalan baru sebagai pewarta kabar gembira di tengah dunia.
Selamat Merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan. Tuhan memberkati. Ave Maria!





