Renungan Harian: Derita karena iman bukan derita yang mematikan, melainkan derita yang memurnikan

146

Renungan Harian – 26 November 2025
Bacaan I: Daniel 5:1-6.13-14.16-17.23-28
Bacaan Injil: Lukas 21:12-19

Yesus yang kita imani adalah Tuhan yang memilih jalan penderitaan. Ia bukan Mesias yang hidup dalam kemegahan duniawi, tetapi Hamba yang merendahkan diri, memikul salib, dan menanggung dosa seluruh manusia. Ia menapaki setiap langkah menuju Golgota dengan ketaatan penuh dan kasih total. Jalan salib itu tampak kelam, tetapi justru melalui jalan itulah keselamatan mengalir bagi dunia.

Sebagai murid-murid-Nya, hidup kita pun ditandai oleh pola hidup Sang Guru. Tidak jarang kita berjumpa dengan pengalaman menyakitkan—penghinaan, penolakan, kegagalan, kelemahan diri, atau pergumulan yang membuat hati goyah. Namun, penderitaan tersebut bukanlah tanda bahwa Tuhan meninggalkan kita. Sebaliknya, itu adalah bagian dari perjalanan iman yang harus kita tapaki bersama Dia.

Dalam Injil hari ini, Yesus dengan tegas mengingatkan para murid bahwa penderitaan akan menjadi bagian tak terhindarkan bagi mereka: “Kamu akan ditangkap dan dianiaya… kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa oleh karena nama-Ku.” (Luk 21:12)

Peringatan ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk meneguhkan. Derita karena iman bukan derita yang mematikan, melainkan derita yang memurnikan. Di tengah tekanan dan ketidakpastian, kita justru diberi kesempatan untuk bersaksi: memperlihatkan iman yang teguh, kesetiaan yang tidak goyah, dan harapan yang tak padam.

Yesus menegaskan lagi sebuah janji yang menghibur dan menguatkan: “Tetapi tidak sehelai pun dari rambut kepalamu akan hilang. Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” (Luk 21:18-19)

Betapa lembut dan kokoh janji ini! Tuhan tahu persis beratnya beban yang kita pikul. Ia tidak menjanjikan jalan mudah, tetapi Ia menjamin penyertaan yang tidak pernah terputus. Tuhan tidak akan membiarkan kita binasa. Di balik setiap air mata, ada karya rahmat yang sedang Ia kerjakan untuk memurnikan, menyembuhkan, dan meneguhkan kita.

Maka, dalam setiap kesulitan yang kita hadapi—entah itu penyakit, masalah keluarga, tekanan pekerjaan, kekecewaan hati, atau pergulatan batin—janganlah kita berpaling dari Dia. Pandanglah Yesus yang tersalib. Dari salib itulah mengalir kekuatan, keteduhan, dan keberanian untuk bertahan. Ketekunan dalam iman adalah jalan menuju kemenangan sejati.

Mari kita bertekun. Mari tetap setia meski langkah terasa berat. Mari menggenggam salib dengan cinta, sebab salib yang digenggam bersama Kristus akan membawa kita pada kemuliaan.

Tuhan tidak akan membiarkan kita hancur. Dalam Dia, kita menemukan hidup.

Tuhan memberkati. Ave Maria!