Renungan Harian, 15 Januari 2025
Bacaan I: 1Sam 4:1-11
Bacaan Injil: Mrk 1:40-45
Apakah kita sungguh menyadari dan mengungkapkan rasa syukur atas kebaikan Tuhan dalam hidup kita? Berkat dan kasih Allah sering kali begitu besar dan nyata, sehingga sulit untuk kita pendam dan simpan hanya dalam hati. Sukacita iman mendorong kita untuk berbagi, bersaksi, dan menceritakan karya Tuhan kepada sesama.
Dalam Injil hari ini, kita mendengar kisah penyembuhan seorang yang sakit kusta. Ia datang kepada Yesus dengan iman yang mendalam dan kerendahan hati yang tulus. Dengan penuh kepercayaan ia berkata, “Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku.” (Mrk 1:40). Kata-kata ini bukan sekadar permohonan, melainkan pengakuan iman: ia yakin akan kuasa Yesus dan menyerahkan sepenuhnya kehendaknya kepada-Nya. Dan Yesus, yang digerakkan oleh belas kasih, menjamah dan mentahirkan dia.
Namun setelah disembuhkan, orang itu menerima pesan yang sulit: “Ingatlah, janganlah engkau memberitahukan apa-apa tentang hal ini kepada siapa pun.” (Mrk 1:44). Akan tetapi, ia tidak mampu menahan sukacitanya. Hatinya meluap oleh rasa syukur. Maka, “ia pergi memberitakan peristiwa itu dan menyebarkannya ke mana-mana.” (Mrk 1:45). Kesembuhan yang ia alami berubah menjadi kesaksian iman. Kebaikan Tuhan terlalu besar untuk disimpan sendiri.
Berhadapan dengan kisah ini, kita diajak untuk bercermin. Berapa banyak kebaikan dan mukjizat kecil yang telah Tuhan kerjakan dalam hidup kita, tetapi sering kali kita lupa untuk mensyukurinya? Atau kita nikmati sendiri tanpa pernah bersaksi? Iman sejati bukan hanya iman yang memohon, tetapi juga iman yang bersyukur dan berani memberi kesaksian.
Di sekitar kita, sesungguhnya masih banyak “orang kusta” zaman ini: mereka yang tersingkir, terluka, terbeban, dan dikucilkan oleh keadaan hidup. Tuhan memanggil kita untuk menjadi perpanjangan tangan-Nya, menjadi aliran berkat, dan menghadirkan belas kasih Allah bagi mereka. Dengan sikap peduli, empati, dan keberanian untuk mendekat, kita ikut ambil bagian dalam karya pembebasan Tuhan.
Maka, marilah kita senantiasa menyadari berkat dan kebaikan Allah yang terus mengalir dalam hidup kita. Kita percaya bahwa mukjizat itu sungguh nyata—baik yang besar maupun yang sederhana. Dengan iman yang mendalam, kita menyerahkan hidup kepada Tuhan, mensyukuri setiap karya-Nya, dan dengan rendah hati bersaksi tentang kasih-Nya melalui kata dan tindakan.
Tuhan memberkati. Ave Maria.





