Renungan Harian: Allah Solider Dengan Penderitaan zkita

55

Renungan Harian – Minggu Prapaskah V
22 Maret 2026
Bacaan I: Yeh 37:12-14
Bacaan II: Rom 8:8-11
Bacaan Injil: Yoh 11:1-45

Salah satu pengalaman paling manusiawi yang kita alami adalah penderitaan: kesulitan hidup, kehilangan, dan duka yang mendalam. Dalam situasi seperti itu, sering muncul pertanyaan: Di manakah Tuhan? Apakah Dia peduli?

Injil hari ini memberikan jawaban yang sangat menyentuh. Dalam kisah kebangkitan Lazarus, kita melihat dengan jelas bahwa Tuhan yang kita imani bukanlah Allah yang jauh dan tak peduli. Ia adalah Allah yang dekat, yang masuk ke dalam pengalaman manusia, bahkan sampai pada penderitaan dan kematian.

Yesus sendiri menangis di hadapan kematian Lazarus. Air mata-Nya bukan sekadar ungkapan emosi, tetapi tanda bahwa Allah sungguh turut merasakan duka manusia. Hati-Nya tergerak melihat kesedihan Maria dan orang-orang di sekitarnya. Di sini kita melihat wajah Allah yang penuh belas kasih—Allah yang solider dengan penderitaan kita.

Namun, Allah tidak selalu menghilangkan penderitaan secara instan. Ia bukan “Allah mesin” yang langsung menyelesaikan semua masalah kita. Sebaliknya, Ia hadir di tengah penderitaan itu, berjalan bersama kita, menguatkan kita, dan memberi harapan di saat kita hampir putus asa.

Lebih dari itu, Sabda Tuhan hari ini juga mengajak kita untuk menyadari bahwa “kematian” bukan hanya soal fisik. Kita pun sering mengalami kematian rohani: saat iman kita melemah, harapan kita padam, atau kasih kita menjadi dingin. Dalam kondisi seperti itu, kita membutuhkan kebangkitan—kebangkitan hati.

Dan kabar sukacitanya adalah: Yesus adalah sumber kebangkitan itu. Sabda-Nya tegas dan penuh kuasa: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” (Yoh 11:25).

Seperti Lazarus yang dipanggil keluar dari kubur, kita pun dipanggil keluar dari “kubur-kubur” kehidupan kita: keputusasaan, dosa, luka batin, dan ketakutan. Asalkan kita mau percaya dan bersatu dengan-Nya, Ia sanggup membangkitkan kita kembali.

Maka, di masa Prapaskah ini, marilah kita membuka hati kita kepada Tuhan. Biarkan Dia masuk ke dalam luka-luka kita, menangisi bersama kita, sekaligus membangkitkan kita menuju hidup yang baru.

Tuhan memberkati dan Ave Maria