Renungan Harian: Allah Menyatakan Siapa Yesus dan Apa Misi-Nya Bagi Keselamatan Umat Manusia

102

Renungan Harian, 11 Januari 2026
Pesta Pembaptisan Tuhan
Bacaan I: Yes 42:1-4.6-7
Bacaan II: Kis 10:34-38
Bacaan Injil: Mat 3:13-17

Hari ini Gereja merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan, sebuah perayaan yang menutup masa Natal dan sekaligus membuka secara resmi karya pelayanan Yesus di tengah dunia. Peristiwa pembaptisan Yesus di Sungai Yordan bukan sekadar sebuah kisah indah, melainkan sebuah peristiwa pewahyuan: Allah menyatakan siapa Yesus dan apa misi-Nya bagi keselamatan umat manusia.

Dalam bacaan Injil, kita melihat Yesus datang kepada Yohanes Pembaptis untuk dibaptis. Yohanes sendiri merasa tidak layak dan heran, sebab ia tahu bahwa baptisan yang ia berikan adalah baptisan pertobatan. Namun Yesus tetap bersikeras. Ia tidak dibaptis karena Ia berdosa, melainkan karena Ia rela merendahkan diri, mengambil bagian sepenuhnya dalam kondisi manusia, bahkan dalam solidaritas dengan orang-orang berdosa. Yesus berdiri di tengah mereka yang mencari pertobatan dan keselamatan, untuk menegaskan bahwa Ia datang bukan untuk menghakimi, melainkan untuk menyelamatkan.

Sesudah Yesus dibaptis, langit terbuka, Roh Kudus turun seperti burung merpati, dan terdengarlah suara Bapa: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” Peristiwa ini menyingkapkan jati diri Yesus sebagai Putera Allah sekaligus menandai awal perutusan-Nya. Seperti ditegaskan dalam bacaan pertama dari Nabi Yesaya, Yesus adalah Hamba Tuhan yang dipilih untuk membawa keadilan, terang, dan pembebasan bagi semua bangsa, terutama bagi mereka yang tertindas dan terbelenggu.

Bacaan kedua dari Kisah Para Rasul menegaskan bahwa Yesus diurapi oleh Roh Kudus dan diutus untuk berkeliling sambil berbuat baik serta menyembuhkan semua orang yang dikuasai oleh kejahatan. Inilah buah dari pembaptisan-Nya: hidup yang sepenuhnya diabdikan bagi kehendak Bapa dan keselamatan sesama.

Pesta ini tidak hanya mengajak kita memandang Yesus, tetapi juga merenungkan kembali baptisan kita sendiri. Dalam Gereja Katolik, baptisan bukan sekadar ritual atau tanda keanggotaan Gereja. Baptisan adalah sakramen dasar keselamatan, pintu gerbang menuju hidup baru. Melalui baptisan, kita dibersihkan dari dosa asal, dilahirkan kembali sebagai anak-anak Allah, dipersatukan dengan Kristus, dan menjadi anggota Tubuh Kristus, yakni Gereja.

Lebih dari itu, melalui baptisan kita menerima martabat dan perutusan: kita diambil bagian dalam tugas Kristus sebagai imam, nabi, dan raja. Sebagai imam, kita dipanggil untuk mempersembahkan hidup kita sebagai korban yang berkenan kepada Allah. Sebagai nabi, kita diutus untuk mewartakan kebenaran dan kasih Allah melalui kata dan teladan hidup. Sebagai raja, kita dipanggil untuk melayani, menguasai diri, dan menghadirkan keadilan serta damai di tengah dunia.

Maka, Pesta Pembaptisan Tuhan menjadi undangan bagi kita untuk memperbarui kesadaran baptisan: apakah kita sungguh hidup sebagai anak-anak Allah? Apakah hidup kita mencerminkan wajah Kristus yang rendah hati, penuh kasih, dan solider dengan mereka yang kecil dan tersingkir? Apakah kita setia menjalankan perutusan yang dipercayakan kepada kita sejak hari pembaptisan?

Marilah kita menghayati pesta ini dengan hati yang penuh syukur dan komitmen baru. Kita dipanggil untuk berjalan bersama Kristus, setia pada perutusan-Nya, dan menjadi saksi kasih Allah di tengah dunia.

Selamat merayakan Pesta Pembaptisan Tuhan. Tuhan memberkati. Ave Maria.