PERAYAAN TAHBISAN DIAKONAT: Keuskupan Manokwari–Sorong Tahbiskan Dua Diakon Baru

119
Uskup juga mengumumkan jadwal tahbisan imamat untuk kedua diakon ini. Tahbisan Imamat Diakon Salestinus Vion Momo akan dilaksanakan pada 15 Juni 2026 di Senopi. Hari itu bertepatan dengan 42 tahun imamat Uskup Sementqra, tahbisan imamat Diakon Hendrikus Hendi akan dilaksanakan pada 29 Juni 2026 di Tofoi, Kabupaten Bintuni, bersamaan dengan 23 tahun episkopat Mgr. Hilarion Datus Lega di Keuskupan Manokwari-Sorong.

SORONG, KOMSOSKMS.ORG –  Suasana penuh syukur dan sukacita memenuhi Gereja Seminari Petrus van Diepen ketika Perayaan Ekaristi Tahbisan Diakonat bagi dua calon imam Diosesan Keuskupan Manokwari–Sorong, Fr. Salestinus Vion Momo dan Fr. Hendrikus Hendi, dilaksanakan secara meriah dan khidmat, Senin, 02 Februari 2026. Perayaan kudus ini dipimpin oleh Uskup Keuskupan Manokwari–Sorong, Mgr. Hilarion Datus Lega, selaku selebran utama, didampingi para imam konselebran.

Mgr. Hilarion Datus Lega menegaskan bahwa imamat bukanlah sebuah profesi atau ambisi pribadi, tetapi murni panggilan hidup yang bersumber dari kasih dan belas kasih Allah.

Hadir dalam perayaan tersebut para siswa-siswi Seminari Menengah Petrus van Diepen, para biarawan-biarawati, keluarga, serta umat dan tamu undangan yang memenuhi kapela seminari. Suasana hening, haru, dan megah menyatu dalam perayaan yang menandai langkah penting dalam perjalanan panggilan kedua frater menuju imamat.

Menjadi Diakon Adalah Panggilan, Bukan Cita-Cita”
Dalam homilinya, Mgr. Hilarion Datus Lega menegaskan bahwa imamat bukanlah sebuah profesi atau ambisi pribadi, tetapi murni panggilan hidup yang bersumber dari kasih dan belas kasih Allah.

“Menjadi diakon atau imam pertama-tama bukan cita-cita. Itu adalah panggilan hidup. Kalau bukan karena panggilan Tuhan, orang tidak akan menjadi diakon, tidak akan menjadi imam, tidak akan menjadi uskup,” tegas Uskup.

Mengaitkan perayaan tahbisan dengan pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah (2 Februari), Uskup menekankan bahwa panggilan dan perutusan menuntut totalitas hidup.

Beliau menambahkan bahwa panggilan ini bukan hasil kepandaian, prestasi, atau keturunan, melainkan semata-mata kebaikan dan kemurahan hati Tuhan.

Sambil menyebut nama kedua calon diakon, Uskup menekankan: “Karena Tuhan maha rahim, Ia memanggil Salestinus Momo. Karena Tuhan berbelas kasih, Ia memanggil Hendy.”

Makna Perutusan: Koinonia, Kerygma, Martyria, Diakonia
Uskup juga menguraikan tugas perutusan yang melekat pada jabatan diakon, yakni: Koinonia, memelihara kesatuan dan persatuan, bukan hanya dengan umat, tetapi terutama dengan Tuhan sendiri. Kerygma, mewartakan Sabda Tuhan dan menyebarkan gelombang kebaikan, bukan mempromosikan diri atau kesombongan. “Seorang diakon tidak dipanggil menjadi superhero. Ia dipanggil menjadi pewarta kebaikan Tuhan,” ujar Uskup.

Uskup menegaskan bahwa umat yang hadir pun memiliki tugas penting: “Kita hadir bukan sebagai penonton. Kita hadir untuk mendoakan mereka, agar rahmat Tuhan menguatkan kerapuhan hidup manusia.”

Martyria, memberi kesaksian hidup yang nyata melalui perilaku dan teladan sehari-hari. Diakonia, melayani umat secara total, tanpa menunda, tanpa memilih waktu.

“Dalam tugas pelayanan, kapan saja Anda dibutuhkan, tidak ada kata terlambat. Segera bangun dan beri diri,” pesan Uskup.

Totalitas dalam Panggilan
Mengaitkan perayaan tahbisan dengan pesta Yesus Dipersembahkan di Bait Allah (2 Februari), Uskup menekankan bahwa panggilan dan perutusan menuntut totalitas hidup.

Simbol-simbol tahbisan seperti jawaban “Saya hadir”, sikap tiarap, penumpangan tangan, dan doa tahbisan merupakan ungkapan penyerahan diri secara penuh kepada Tuhan.

“Mereka secara fisik, faktual, bukan virtual, berbaring dan bertiarap. Mereka merendahkan diri, menyerahkan hidup kepada Tuhan,” ungkap beliau.

Diakonia, melayani umat secara total, tanpa menunda, tanpa memilih waktu. “Dalam tugas pelayanan, kapan saja Anda dibutuhkan, tidak ada kata terlambat. Segera bangun dan beri diri,” pesan Uskup.

Uskup menegaskan bahwa umat yang hadir pun memiliki tugas penting: “Kita hadir bukan sebagai penonton. Kita hadir untuk mendoakan mereka, agar rahmat Tuhan menguatkan kerapuhan hidup manusia.”

Beliau menutup homili dengan sebuah seruan yang menggugah: “Jangan takut. Dalam kesatuan dengan Tuhan, panggilan ini akan menjadi totalitas hidup Anda.”

Pembacaan Dokumen Tahbisan dan Penugasan
Sebelumberkat penutup, dilanjutkan dengan pembacaan dokumen berita acara Tahbisan Diakonat oleh Uskup. Kemudian dibacakan pula surat penugasan resmi bagi kedua diakon yang mulai bertugas pada 5 Februari 2026.

Penugasan Diakon Salestinus Vion Momo akan mengajar di Sekolah Tinggi Kateketik St. Benediktus serta membantu pastoral di Gereja St. Wenseslaus Sorong.

UTahbisan Imamat Diakon Salestinus Vion Momo akan dilaksanakan pada 15 Juni 2026 di Senopi dan Diakon Hendrikus Hendi akan dilaksanakan pada 29 Juni 2026 di Tofoi, Kabupaten Bintuni.

Sementara Diakon Hendrikus Hendi, mengajar dan membina di Seminari Tahun Orientasi Rohani (TOR) Nabire.

Selain itu, Uskup juga mengumumkan jadwal tahbisan imamat untuk kedua diakon ini. Tahbisan Imamat Diakon Salestinus Vion Momo akan dilaksanakan pada 15 Juni 2026 di Senopi. Hari itu bertepatan dengan 42 tahun imamat Uskup.

Sementqra, tahbisan imamat Diakon Hendrikus Hendi akan dilaksanakan pada 29 Juni 2026 di Tofoi, Kabupaten Bintuni, bersamaan dengan 23 tahun episkopat Mgr. Hilarion Datus Lega di Keuskupan Manokwari-Sorong.

Sambutan Uskup: Seminari Telah Menghasilkan Banyak Imam
Dalam sambutannya, Uskup mengungkapkan rasa syukur atas peran besar Seminari Petrus van Diepen yang terus melahirkan klerus bagi Gereja lokal.

“Seminari ini telah mencetak imam-imam. Paling tidak sudah dua puluhan. Tahbisan di seminari dimaksudkan untuk memotivasi anak-anak seminari.”

Penugasan Diakon Salestinus Vion Momo akan mengajar di Sekolah Tinggi Kateketik St. Benediktus serta membantu pastoral di Gereja St. Wenseslaus Sorong. Sementara Diakon Hendrikus Hendi, mengajar dan membina di Seminari Tahun Orientasi Rohani (TOR) Nabire.

Beliau berpesan kepada seluruh siswa seminari untui belajar dengan tekun, tidak bolos, hidup saling mengasihi. Meski banyak tantangan, tetap berjuang berbuat baik dan saling membantu.

Uskup juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh keluarga besar Seminari atas pendampingan yang setia dan tanpa henti.

PROFIL DIAKON SALSETINUS VION MOMO, Pr.

Lahir di Senopi, 5 September 1993, Diakon Salestinus Vion Momo adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara, pasangan Alm. Paskalis Sedik dan Almh. Elisabeth Momo. Pendidikan dasarnya dimulai di SD YPPK St. Yosep Senopi, kemudian melanjutkan pendidikan menengah di Seminari Petrus Van Diepen hingga SMA.

Setelah menjalani Orientasi Rohani St. Paulus Sorong (2016–2017), ia menempuh studi teologi di STFT Fajar Timur Jayapura, memperoleh gelar Sarjana Teologi (2017–2021), dan melanjutkan Magister Teologi Pastoral (2023–2025).

Dalam karya pelayanannya, ia menjalani TOP dan TOK di Paroki Sang Gembala Baik, SP 8 Masni, Manokwari (2021–2023). Pengalaman pastoral di daerah terpencil semakin memperteguh panggilan imamatnya: “Saya melihat sendiri kerinduan umat akan pelayanan. Itu membuat saya semakin yakin bahwa Tuhan memanggil saya untuk hadir bagi mereka.”

Moto diakonatnya adalah: “Mari, ikutlah Aku dan kamu akan Kujadikan penjala manusia” (Mrk. 1:17).

PROFIL DIAKON HENDRIKUS HENDI
Hendrikus Hendi lahir di Maumere, 14 Juli 1996, anak ketiga dari tiga bersaudara, pasangan Gaudensius Sius dan Ludvina Luto. Pendidikan dasar hingga menengah ditempuh di Bintuni sebelum masuk Kelas Persiapan Atas dan Tahun Orientasi Rohani Seminari Petrus van Diepen, Sorong.

Ia menyelesaikan S1 Teologi di STFT Fajar Timur (2021), kemudian melanjutkan S2 Magister Teologi Pastoral (2023–2026). Pengalaman pastoralnya meliputi TOP di Paroki Santa Bernadeth Mamur dan TOK di Pra Paroki Santo Gerardus Mayella Wayati.

Pengalaman perjumpaan dengan para imam di Paroki Kristus Terang Dunia–Tofoi menjadi titik balik panggilannya: “Saya merasa bahwa panggilan ini adalah cara saya menyerahkan diri bagi umat Tuhan.”

Moto diakonatnya: “Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mat. 20:28).

Perayaan Tahbisan Diakonat ini menandai babak baru dalam perjalanan Gereja Keuskupan Manokwari–Sorong. Dengan doa dan dukungan seluruh umat, kedua diakon diharapkan menjadi pelayan yang rendah hati, penuh totalitas, serta selalu menghadirkan kasih Kristus di tengah umat yang paling membutuhkan.