SORONG, KOMSOSKMS.ORG – Perayaan syukur ulang tahun ke – 8 Domus Propria, tempat kediaman Uskup Manokwari-Sorong berlangsung meriah dan penuh sukacita pada Senin (2/3). Uskup mengundang para imam, biarawan-biarawati, frater, dan diakon yang berada di wilayah Sorong, Maybrat, dan Tambrauw untuk turut bersyukur bersama dalam momen istimewa ini.

Para imam dan komunitas religius hadir dengan sukacita mendampingi Mgr. Hilarion Datus Lega, yang kini menghuni Domus Propria. Dalam sambutannya, Uskup menegaskan bahwa rumah kediaman uskup bukan sekadar tempat tinggal, tetapi sebuah simbol identitas penting dalam hidup menggereja di Keuskupan Manokwari-Sorong.
Pesan Utama dalam Homili: Murah Hati sebagai Kebanggaan Rohani
Dalam homilinya, Uskup mengangkat tema kemurahan hati sebagai inti perayaan. Ia menegaskan pesan Yesus dalam Injil: “Hendaklah kamu murah hati, sebagaimana Bapamu adalah murah hati.” Uskup menjelaskan bahwa ajakan untuk murah hati sesungguhnya menjadi jalan yang lebih konkret daripada tuntutan untuk menjadi “sempurna”.
“Siapa yang sempurna? Kita manusia penuh kelemahan. Karena itu, Yesus tidak sedang membebani kita, tetapi memberi kehormatan: bahwa kita boleh meneladan Bapa yang murah hati,” ujar Uskup.

Ia mengingatkan bahwa ukuran yang dipakai seseorang untuk menilai sesama kelak akan kembali kepadanya. Karena itu, hidup dalam senyum, kelembutan, dan pemahaman jauh lebih membangun daripada menghakimi atau mengeraskan hati.
Pengalaman Uskup: Kebanggaan yang Menumbuhkan Kerendahan Hati
Uskup kemudian membagikan dua pengalaman pribadinya yang ia sebut sebagai “kebanggaan rohani”—bukan kesombongan, tetapi rasa syukur atas karya Allah dalam hidupnya.

Pertama, masa Pelayanan di Konferensi Waligereja Indonesia. Uskup mengenang masa awalnya melayani di Konferensi Waligereja Indonesia pada usia 38 tahun. Ia mengaku gugup berada di antara para uskup senior, namun pengalaman itu membentuknya secara mendalam. Dari menerjemahkan dokumen hingga mendampingi para uskup, ia belajar bahwa setiap gembala pun adalah manusia lemah yang dituntun rahmat Tuhan.
“Boleh mengunjungi hampir seluruh keuskupan di Indonesia adalah sebuah privilege besar,” ungkapnya. Pengalaman itu pula yang kemudian mengantar dirinya dipilih menjadi uskup.
Kedua, penunjukan sebagai Uskup di Tanah Papua. Dalam sebuah refleksi mendalam mengenai panggilan dan tugas perutusan, Uskup menyampaikan pengalaman pribadinya saat pertama kali menerima penunjukan untuk melayani di Tanah Papua. “Ketika penunjukan datang, saya sempat bertanya: ‘Mengapa di sini, Tuhan?’” ujarnya mengenang momen penuh kebimbangan itu. Ia bahkan sempat bertanya kepada Duta Vatikan, mencari kejelasan atas penugasannya.

Namun, sebuah kalimat dari pembimbing rohaninya mengubah cara pandangnya: “Kamu harus bangga. Engkau diutus ke Tanah Papua bukan karena keinginanmu, tetapi karena kehendak Allah.” Sejak saat itu, ia menyadari bahwa wilayah pelayanan yang sangat luas bukanlah tempat pembuangan, melainkan tanah perutusan. “Di sinilah Tuhan mengutus kita untuk melayani dengan hati,” tegasnya.
Uskup mengingatkan para imam, suster, dan bruder agar tidak merasa ditempatkan di pinggiran. Perasaan seperti itu, menurutnya, hanya akan merendahkan martabat diri sendiri sekaligus menyakiti umat yang dilayani. “Kalau kita merasa dibuang, kita menghina umat yang Tuhan percayakan kepada kita,” katanya.

Datang dengan Kebanggaan, Bekerja dengan Kerendahan Hati
Masuk dalam konteks perutusannya, Uskup menuturkan bahwa langkah pertamanya sebagai gembala adalah belajar. Dalam dua bulan pertama, ia berusaha mengunjungi hampir seluruh paroki. “Bukan untuk pamer kerja, tetapi supaya saya mengenal umat—budayanya, adatnya, semangatnya,” terangnya.
Dari perjalanan itu ia mendapatkan pelajaran penting: berhenti membandingkan. Ia menegur sikap sebagian orang yang datang dan terus berkata, “Di tempat saya lebih bagus… di kota saya lebih maju…” Sikap demikian menurutnya tidak mencerminkan seorang pelayan. “Kita ini perantau. Kita ditempatkan di sini untuk belajar dari tanah ini, bukan untuk merasa lebih hebat,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa siapa pun—entah dari Jawa, Manado, Flores, atau daerah lain—memiliki derajat yang sama dalam pelayanan. “Tidak ada yang paling suci. Kita semua dipanggil untuk bekerja dengan rendah hati,” ujarnya.

Mengukur dengan Kerahiman
Mengutip inti bacaan Kitab Suci, Uskup menegaskan bahwa panggilan seorang pelayan bukanlah untuk menjadi besar, tetapi untuk menjadi murah hati. “Bukan untuk menghakimi, tetapi memahami. Bukan untuk membandingkan, tetapi melayani,” katanya.
Menurutnya, ketika kerahiman dijadikan kebanggaan rohani, rahmat Tuhan akan memampukan setiap pelayan mencapai kesempurnaan itu, sekalipun mereka penuh kekurangan.
Pesan ini menjadi pengingat bagi seluruh pelayan pastoral bahwa Tanah Papua adalah tempat perjumpaan, tempat belajar, dan tempat mencintai. Di tanah inilah perutusan dijalani dengan bangga, dan pelayanan diwujudkan dengan hati yang rendah serta murah hati.

Pada akhir homili, Uskup mengajak seluruh umat untuk mempersembahkan hidup, karya, dan kelemahan mereka bersama kurban Kristus selama masa Prapaskah ini agar semakin dimampukan menjadi pribadi yang murah hati seperti Bapa.
Dalam sambutan tambahan, Uskup juga mengenang pengalaman masa lalunya ketika pernah menumpang di rumah orang lain dan kemudian harus mengembalikannya—sebuah refleksi tentang syukur, kerendahan hati, dan kerapuhan manusia.
Perayaan syukur Domus Propria ditutup dengan makan malam bersama dan rekreasi bersama seluruh hadirin, sebagai tanda persaudaraan dan kegembiraan atas penyelenggaraan Allah bagi Gereja di Keuskupan Manokwari-Sorong.





