OMK sebagai Subjek Gereja Sinodal: Pendampingan yang Berakar, Berbuah, dan Penuh Harapan

61

SORONG, KOMSOSKMS.ORG – Materi kedua dalam rangkaian Temu Pastores Keuskupan Manokwari–Sorong menghadirkan Mgr. Pius Riana Prapdi, Uskup Ketapang dan mantan Ketua Komisi Kepemudaan Konferensi Waligereja Indonesia. Dalam pemaparannya, Bapak Uskup menegaskan kembali peran strategis pendampingan Orang Muda Katolik (OMK) sebagai kekuatan penggerak utama kehidupan Gereja yang sinodal.

Mengacu pada tema Temu Pastores, “Menghayati Peran OMK dalam Dinamika Menggereja yang Sinodal”, Mgr. Pius menekankan bahwa OMK bukanlah objek pendampingan semata, melainkan subjek dan pemeran utama dalam kehidupan menggereja.

Mgr. Pius mengajak para peserta untuk melanjutkan refleksi atas gagasan OMK yang beriman dan peduli, sebagaimana telah disampaikan sebelumnya oleh Mgr. Maksimus Regus. Menurutnya, harapan untuk menjadikan OMK sebagai “tuan rumah” yang menghadirkan nuansa dan bahkan narasi baru dalam kehidupan Gereja Keuskupan Manokwari–Sorong bukanlah sesuatu yang mustahil, melainkan sebuah panggilan yang perlu diwujudkan secara bersama-sama.

Dalam refleksi pastoralnya, Mgr. Pius menegaskan bahwa iman adalah sebuah gerakan. Iman bukan sekadar konsep atau rumusan, melainkan proses hidup yang terus bertumbuh. Karena itu, istilah “umat beriman” menunjuk pada dinamika pertumbuhan yang tidak pernah berhenti. Pertanyaannya kemudian: siapa yang berperan menggerakkan proses pertumbuhan iman itu? Jawabannya tegas: Orang Muda Katolik.

Mengacu pada tema Temu Pastores, “Menghayati Peran OMK dalam Dinamika Menggereja yang Sinodal”, Mgr. Pius menekankan bahwa OMK bukanlah objek pendampingan semata, melainkan subjek dan pemeran utama dalam kehidupan menggereja. OMK dipanggil untuk menggerakkan, menumbuhkan, menghasilkan buah, dan menanamkan akar iman yang semakin dalam. Gereja, menurutnya, hanya dapat sungguh bertumbuh bila memiliki dua ciri utama: berakar dan berbuah.

Mgr. Pius merumuskan pendampingan OMK dengan tiga kata kunci penting, yakni konteks, kedekatan (closeness), dan kreativitas (creativity)—yang juga disebut sebagai sikap taat dan kreatif

Pertanyaan tentang bagaimana hal itu dapat terjadi mengingatkan kita pada pengalaman iman Bunda Maria saat menerima kabar gembira. Maria bertanya, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” Pertanyaan yang sama juga menjadi pergulatan Gereja hari ini. Karena itu, Mgr. Pius mengajak seluruh komponen Gereja—para pastor, komisi-komisi keuskupan, Dewan Pastoral Paroki, tim kerja, hingga Tim Pastoral Wilayah—untuk berjalan bersama dan berproses menumbuhkan dinamika ini.

Jawaban atas pertanyaan tersebut, lanjut Mgr. Pius, telah ditegaskan secara kuat dalam Christus Vivit, surat Paus Fransiskus kepada orang muda. Paus menempatkan OMK sebagai subjek utama Gereja masa kini. Maka, langkah pertama dalam pendampingan adalah membaca konteks hidup orang muda. Bapak Uskup pun melontarkan pertanyaan reflektif: “Di mana OMK hari ini?” Dalam situasi dunia yang terus berubah, apakah pendampingan orang muda masih relevan dan mungkin dilakukan?

Untuk menjawab tantangan itu, Mgr. Pius merumuskan tiga kata kunci penting, yakni konteks, kedekatan (closeness), dan kreativitas (creativity)—yang juga disebut sebagai sikap taat dan kreatif. Ketiga hal ini menjadi fondasi spiritualitas pendampingan orang muda. Spiritualitas tersebut bertumpu pada tiga pilar: mencermati konteks hidup OMK, membangun kedekatan dengan realitas hidup mereka, serta menjalin relasi yang intim dengan Tuhan Yesus.

Gereja dipanggil untuk menjadi rumah sakit lapangan yang mau mendengarkan, belajar, dan berjalan bersama orang muda

Dari kedekatan inilah lahir kreativitas yang melahirkan spiritualitas yang hidup. Mgr. Pius menyebutnya sebagai spiritualitas JOSS, yakni Jadilah orang muda yang Optimistis dan penuh Sukacita, Suci, dan Smart. Sukacita lahir ketika orang muda dipercaya untuk menjadi rasul zaman sekarang. Dalam Christus Vivit, Paus Fransiskus bahkan menegaskan bahwa orang muda adalah misionaris masa kini.

Kesucian, tegas Mgr. Pius, tidak terbatas pada aktivitas liturgis, tetapi nyata dalam kedekatan dengan Tuhan dan keberanian menyentuh penderitaan manusia, sebagaimana diteladankan oleh Kristus dan para kudus. Sementara itu, sikap smart menunjuk pada kecerdasan ilahi yang mampu membaca perubahan zaman dan menjawabnya secara kreatif di tengah realitas dunia digital, relasi sosial, dan tantangan ekologis.

Mgr. Pius menegaskan bahwa pendampingan adalah sebuah perjalanan iman yang tidak pernah selesai

Dalam konteks inilah Gereja dipanggil untuk menjadi rumah sakit lapangan yang mau mendengarkan, belajar, dan berjalan bersama orang muda. Mendampingi OMK menuntut keberanian untuk keluar dari pola-pola yang kaku, menjumpai mereka di mana mereka berada, serta menanggapi pergulatan mereka secara serius. Gereja dipanggil untuk masuk melalui pintu kehidupan orang muda dan keluar melalui pintu yang dibangun bersama.

Mgr. Pius menegaskan bahwa pendampingan adalah sebuah perjalanan iman yang tidak pernah selesai. Gereja perdana menjadi teladan bagaimana kesaksian iman yang hidup mampu menumbuhkan Gereja, meski di tengah tantangan dan ancaman. Allah tidak pernah kehabisan cara, maka Gereja pun tidak boleh kehabisan harapan.

Menutup pemaparannya, Mgr. Pius menegaskan bahwa sinodalitas berarti kesediaan untuk berjalan bersama, saling mendengarkan, bahkan saling mengganggu demi pertumbuhan bersama. Bekerja sendiri memang cepat, tetapi berjalan bersama membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Namun justru di sanalah Gereja sungguh hidup, bertumbuh, dan menghadirkan harapan bagi dunia melalui Orang Muda Katolik.

P. Fransiskus Katino, Pr – Komsoskms