SENOPI, KOMSOSKMS.ORG- Sebagai bagian dari rencana pastoral Vikaris Jenderal Keuskupan Manokwari-Sorong (KMS) tahun 2026, Pastor Izaak Bame, Pr, selaku Vikaris Jenderal KMS, melaksanakan kunjungan pastoral ke Stasi Santa Anna Miri, Paroki Santo Yosep Senopi. Kunjungan ini berlangsung selama lima hari, mulai 8 Januari hingga 12 Januari 2026, dan menjadi salah satu kunjungan ke stasi terjauh di wilayah paroki tersebut.

Perjalanan menuju Kampung Miri tidaklah mudah. Dari Kampung Fumato, rombongan harus menempuh perjalanan satu malam dua hari pulang-pergi, melewati medan yang sulit dan terbatasnya akses transportasi. Namun keterbatasan ini tidak menyurutkan semangat pelayanan, justru menegaskan komitmen Gereja untuk hadir hingga ke wilayah pedalaman.
Ziarah Makam Leluhur dan Doa Bersama
Rangkaian kegiatan kunjungan pastoral diawali dengan kunjungan ke makam para leluhur umat. Bersama umat setempat, Pastor Vikjen melakukan pembersihan makam serta memimpin doa bersama sebagai ungkapan iman, penghormatan, dan syukur atas para pendahulu yang telah mewariskan iman Katolik di tanah Miri. Kegiatan ini menjadi momen rohani yang menyentuh, sekaligus memperkuat ikatan sejarah iman umat Stasi Santa Anna Miri.
Pertemuan Tatap Muka dan Aspirasi Umat
Pada Sabtu, 10 Januari 2026, pukul 18.00–20.00 WIT, dilaksanakan pertemuan tatap muka antara Vikaris Jenderal dan umat-masyarakat Stasi Santa Anna Miri. Dalam suasana dialog terbuka dan penuh kejujuran, umat menyampaikan berbagai aspirasi yang mencerminkan pergumulan hidup mereka sehari-hari.

Beberapa pokok aspirasi utama yang disampaikan antara lain:
Aspirasi kepada Pemerintah Kabupaten Tambrauw, khususnya kepada pihak PU dan DPRD, agar tidak membiarkan masyarakat Miri hidup dalam penderitaan akibat keterisolasian. Umat meminta agar pembongkaran dan pembukaan jalan dari Ayiae menuju Yuwiam–Miri yang sempat terhenti dapat dilanjutkan. Menurut umat, alasan bahwa wilayah Miri berada dalam kawasan hutan lindung dinilai tidak masuk akal, karena manusia adalah pemilik dan penjaga hutan itu sendiri, bukan sebaliknya.
Penataan pusat pemerintahan Distrik Ireres, agar kantor distrik benar-benar berada di Kampung Miri sesuai dengan nama dan identitas wilayah, bukan hanya tercantum di papan nama di jalan-jalan.
Pelayanan kesehatan yang layak, sebagaimana dinikmati masyarakat di distrik lain di Kabupaten Tambrauw. Umat berharap adanya perhatian serius terhadap kebutuhan dasar kesehatan masyarakat Miri.
Aspirasi kepada Gereja Katolik, khususnya Keuskupan Manokwari-Sorong dan Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik (YPPK), agar membuka kelas jauh SD YPPK Santo Markus Ayiae di Kampung Miri. Saat ini, sejumlah anak dari Stasi Santa Anna Miri bersekolah di SD YPPK Santo Markus Fumato, Distrik Miyah. Kondisi ini berdampak pada berkurangnya jumlah umat yang menetap di Miri.
Umat menegaskan bahwa Miri merupakan salah satu kampung pedalaman Tambrauw yang pertama kali menerima Misi Katolik, sebelum pusat misi berpindah ke Asiti. Karena itu, umat berharap agar perhatian pastoral dan pendidikan kembali diarahkan ke Miri sebagai basis awal pewartaan iman Katolik di wilayah Ireres.
Perayaan Ekaristi dan Jamuan Kasih
Puncak kunjungan pastoral ditandai dengan Perayaan Ekaristi bersama umat pada Minggu, 11 Januari 2026. Misa Kudus berlangsung dalam suasana penuh sukacita, syukur, dan harapan. Dalam kesempatan tersebut, umat Stasi Santa Anna Miri juga mengadakan jamuan kasih sebagai ungkapan persaudaraan dan penerimaan.
<span;>Pada momen yang sama, umat menyerahkan sebidang tanah kepada Gereja, lengkap dengan surat pelepasan hak yang ditandatangani oleh beberapa perwakilan keluarga besar Syufi. Penyerahan tanah ini menjadi tanda nyata dukungan umat terhadap keberlanjutan karya Gereja di Miri.
Gereja Hadir dan Tidak Membiarkan Umat Berjalan Sendiri
Kunjungan pastoral ini menjadi peneguhan bagi umat Stasi Santa Anna Miri bahwa Gereja Katolik Keuskupan Manokwari-Sorong tidak membiarkan umatnya hidup tanpa pelayanan, meskipun berada di wilayah terjauh dan penuh keterbatasan. Kehadiran Vikaris Jenderal di tengah umat menjadi tanda nyata perhatian, kepedulian, dan komitmen Gereja untuk terus berjalan bersama umat di pedalaman.
Kunjungan ini sekaligus menjadi pengingat bahwa pelayanan pastoral bukan hanya soal jarak, tetapi terutama tentang kesetiaan Gereja untuk hadir, mendengar, dan memperjuangkan martabat umat Allah di mana pun mereka berada.





