Klinik Bintang Timur Rayakan Hari Orang Sakit Sedunia ke-34 dengan Semangat Belarasa

43

SORONG, KOMSOSKMS.ORG – Setiap tanggal 11 Februari, Gereja Katolik memperingati Hari Orang Sakit Sedunia, sebuah momen rohani yang diinisiasi oleh Paus Santo Yohanes Paulus II pada tahun 1992 sebagai wujud doa, kepedulian, dan kedekatan Gereja bagi mereka yang sedang bergumul dengan sakit dan penderitaan. Tahun 2026, Gereja merayakan Hari Orang Sakit Sedunia ke-34 dengan tema universal yang ditetapkan oleh Paus Leo XIV: “Belarasa Orang Samaria: Mengasihi dengan Menanggung Derita Orang Lain.”

Merayakan hari istimewa ini, Klinik Bintang Timur mengadakan Misa Syukur bersama para pasien pada Rabu, 11 Februari 2026. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pater Rudy Renyaan, Pr, dan berlangsung dalam suasana penuh keheningan, doa, dan pengharapan.

Merayakan hari istimewa ini, Klinik Bintang Timur mengadakan Misa Syukur bersama para pasien pada Rabu, 11 Februari 2026. Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Pater Rudy Renyaan, Pr, dan berlangsung dalam suasana penuh keheningan, doa, dan pengharapan.

Belarasa yang Lahir dari Hati
Dalam homilinya, Pater Rudy Renyaan menegaskan pesan Injil hari itu bahwa bukan apa yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan manusia, melainkan apa yang keluar dari hatinya. Ia mengajak semua yang hadir untuk melihat kembali sumber tindakan manusia, yaitu hati.

“Hati yang tulus melahirkan kepedulian, perhatian, belarasa, dan belas kasihan,” tegasnya. “Namun hati yang keras membatu akan menumbuhkan sikap masa bodoh, tidak peduli, dan tidak mau tahu akan penderitaan sesama.”

Dalam homilinya, Pater Rudy Renyaan menegaskan pesan Injil hari itu bahwa bukan apa yang masuk ke dalam mulut yang menajiskan manusia, melainkan apa yang keluar dari hatinya. Ia mengajak semua yang hadir untuk melihat kemba

Pesan ini menggarisbawahi semangat Hari Orang Sakit Sedunia: bahwa pelayanan terhadap orang sakit selalu berakar pada kelembutan hati dan belarasa.

Berbagi Berkat dalam Kesederhanaan
Sebagai ungkapan syukur, Klinik Bintang Timur membagikan bubur kacang hijau kepada para pasien yang datang berobat hari itu. Momen sederhana ini menjadi tanda kasih dan perhatian, sekaligus menghadirkan suasana kekeluargaan di tengah pelayanan kesehatan.

Hari Orang Sakit Sedunia juga menjadi kesempatan bagi banyak pihak untuk menghargai para tenaga kesehatan yang tanpa lelah melayani orang sakit. Mereka dipandang sebagai “perpanjangan tangan Tuhan yang menyembuhkan.”

Momen sederhana ini menjadi tanda kasih dan perhatian, sekaligus menghadirkan suasana kekeluargaan di tengah pelayanan kesehatan.

Pelayanan yang Menghadirkan Kristus
Pimpinan Klinik Bintang Timur, Sr. Vitaline, CB, menegaskan kembali makna mendalam dari hari ini. Baginya, Hari Orang Sakit Sedunia bukan hanya sekadar kegiatan seremonial, tetapi sebuah panggilan hati untuk semakin menghayati misi pelayanan kesehatan.

Ia mengajak seluruh karyawan dan karyawati Klinik Bintang Timur untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan Tuhan, sesuai motto pelayanan klinik: “Kami Melayani, Tuhan Menyembuhkan.”

“Setiap pasien yang datang adalah tamu ilahi,” ujar Sr. Vitaline. “Dalam diri mereka yang sakit dan lemah, kita dipanggil untuk melihat wajah Kristus.”

Sr. Vitaline menambahkan bahwa pelayanan yang sejati tidak berhenti pada tindakan medis semata. Kehadiran yang penuh empati, sapaan hangat, senyuman, sentuhan yang menenangkan, serta doa yang tulus justru menjadi sarana yang menumbuhkan harapan.

Kasih yang Lebih Besar daripada Penderitaan
Mengakhiri pesannya, Sr. Vitaline mengajak seluruh pelayan kesehatan untuk terus menyalakan semangat kasih dalam setiap tugas pelayanan.

“Di tengah keterbatasan, apakah kita percaya bahwa kasih lebih besar dari penderitaan?” tanyanya penuh refleksi.

Ia berharap, bagi siapa pun yang sedang sakit, kiranya Tuhan memeluk mereka dalam damai-Nya. Dan bagi para pelayan kesehatan, semoga tangan mereka tetap lembut, kata-kata mereka menguatkan, dan hati mereka terus bernyala oleh cinta. Sebab di setiap ruang perawatan, Tuhan sendiri sedang berkarya.

Selamat Hari Orang Sakit Sedunia ke-34. Mari terus menjadi tanda harapan di tengah penderitaan.

Kontributor Berita: Yolanda Kung