Renungan Harian: Harta Bukan Tujuan, Melainkan Sarana untuk Berbuat Kasih

128

RENUNGAN HARIAN, Sabtu, 7 November 2026

Bacaan I: Flp 4:10-19
Bacaan Injil: Luk 16:9-15

Harta Bukan Tujuan, Melainkan Sarana untuk Berbuat Kasih

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali mengukur keberhasilan seseorang dari apa yang dimilikinya: rumah yang bagus, kendaraan, pekerjaan yang mapan, usaha yang berkembang, atau tabungan yang banyak. Tidak jarang, keinginan untuk memiliki lebih banyak membuat kita sibuk bekerja, mengejar keuntungan, bahkan tanpa sadar mulai mengabaikan keluarga, sesama, dan kehidupan rohani.

Melalui Injil hari ini, Yesus mengingatkan bahwa kita tidak dapat mengabdi kepada Allah sekaligus kepada Mamon. Persoalannya bukan terletak pada banyak atau sedikitnya harta yang kita miliki, melainkan pada bagaimana kita memperlakukan dan menggunakannya. Harta seharusnya menjadi sarana untuk menunjang kehidupan, bukan menjadi tuan yang mengendalikan seluruh hidup kita.

Dalam kenyataan sehari-hari, kita bisa saja menjadi begitu sibuk mencari uang sampai tidak punya waktu untuk berdoa, mengikuti Ekaristi, memperhatikan keluarga, atau membantu orang yang membutuhkan. Kita juga bisa tergoda untuk menghalalkan segala cara demi keuntungan, mengorbankan kejujuran, dan melupakan nilai-nilai iman. Ketika uang dan kekayaan mulai menentukan pilihan hidup serta menggeser tempat Allah dalam hati kita, saat itulah Mamon telah menjadi tuan atas diri kita.

Bacaan pertama memberikan teladan melalui Rasul Paulus. Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Ketika berkekurangan maupun berkelimpahan, ia tetap bersyukur dan mengandalkan Allah. Baginya, kekuatan sejati bukan berasal dari kelimpahan materi, melainkan dari Kristus yang memberikan kekuatan.

Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk membangun sikap hidup yang seimbang. Kita tetap perlu bekerja keras, mengembangkan usaha, mencari nafkah, dan memperjuangkan kesejahteraan keluarga. Namun, jangan sampai kesibukan mencari materi membuat kita kehilangan hal-hal yang jauh lebih berharga. Belajarlah mencukupkan diri, bersyukur atas berkat yang diterima, hidup jujur, dan menggunakan apa yang kita miliki untuk berbagi dengan sesama.

Sebab, kekayaan sejati bukanlah seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan seberapa banyak kasih yang dapat kita bagikan. Jangan biarkan harta menguasai hati kita. Jadikanlah harta sebagai sarana untuk melayani, menolong, dan menghadirkan kebaikan bagi sesama.

Tuhan memberkati. Ave Maria!