Kirab Salib IYD di Paroki Ko Katedral Manokwari, Momentum OMK Perkuat Iman dan Rajut Damai

35
Prosesi penyambutan Salib Indonesian Youth Day (IYD) di Pelabuhan Angrem, Manokwari, Sabtu (31/10/2026). Salib yang tiba dari Paroki Santo Laurensius Wasior diterima oleh Ketua OMK dan Seksi Kepemudaan Paroki Ko Katedral Santo Agustinus Mano

Mengusung tema “OMK Tangguh Merajut Damai”, perjalanan Salib IYD dari Wasior ke Manokwari mengajak kaum muda menghidupi kasih dan persaudaraan, sekaligus menghadirkan kebersamaan lintas agama dan budaya.

MANOKWARI, KOMSOSKMS.ORG – Kirab Salib Indonesian Youth Day (IYD) di Paroki Ko Katedral Santo Agustinus Manokwari menjadi momentum bagi Orang Muda Katolik (OMK) untuk memperkuat iman, membangun ketangguhan spiritual, dan meneguhkan panggilan sebagai pembawa damai di tengah kehidupan masyarakat.

Prosesi penyambutan Salib Indonesian Youth Day (IYD) di Pelabuhan Angrem, Manokwari, Sabtu (31/10/2026). Salib yang tiba dari Paroki Santo Laurensius Wasior diterima oleh Ketua OMK dan Seksi Kepemudaan Paroki Ko Katedral Santo Agustinus Mano

Mengusung tema “OMK Tangguh Merajut Damai” dan subtema “Berjalan dalam Kasih, Mengangkat Salib dalam Satu Semangat Persaudaraan”, rangkaian penyambutan dan penerimaan Salib IYD, Sabtu (31/10/2026), berlangsung dalam suasana sukacita dan penuh kekhidmatan.

Kegiatan ini sekaligus menghadirkan semangat persaudaraan lintas agama dan budaya melalui keterlibatan pemuda masjid yang menampilkan musik hadrat, kelompok musik akustik pemuda Gereja Kristen Injili (GKI) Elim Kwawi Manokwari, serta para penari tradisional suku Arfak.

Di balik kemeriahan penyambutan tersebut, perjalanan Salib IYD membawa pesan rohani bagi OMK agar menjadikan salib sebagai sumber kekuatan iman, pengharapan, dan keberanian untuk menghidupi kasih dalam kehidupan sehari-hari.

Para penari tradisional Arfak menyambut rombongan pembawa Salib IYD saat memasuki kompleks Gereja Ko Katedral Santo Agustinus Manokwari, Sabtu (31/10/2026). Penyambutan berlangsung dengan tarian Tumbutanah, tarian khas masyarakat Arfak

Pesan itu mengemuka dalam Perayaan Ekaristi penerimaan Salib IYD yang dipimpin Pastor Paroki Ko Katedral Santo Agustinus, RD. Yan Vaenbes, setelah prosesi kirab dari Pelabuhan Angrem menuju gereja.

Dalam khotbahnya, Pastor Yan menegaskan bahwa salib merupakan tanda cinta kasih dan keselamatan yang harus menjadi sumber kekuatan bagi umat, terutama kaum muda, dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Tuhan Yesus yang bergerak dan cari kita, maka hari ini kita semua dikumpulkan untuk terima Tuhan Yesus,” ujar Pastor Yan di hadapan OMK dan umat yang mengikuti Perayaan Ekaristi.

Menurut dia, kehadiran Salib IYD merupakan kesempatan bagi kaum muda untuk merefleksikan kembali hubungan mereka dengan Tuhan sekaligus memperbarui komitmen iman dalam kehidupan pribadi maupun sosial.

Pastor Yan mengajak OMK untuk tidak memandang salib semata-mata sebagai lambang penderitaan, tetapi juga sebagai tanda kemenangan, pengharapan, dan kasih yang membebaskan manusia dari dosa.

Ia menggambarkan salib sebagai tanda tambah (+), bukan tanda kurang (-). Melalui perumpamaan tersebut, Pastor Yan mengingatkan bahwa kehidupan orang beriman semestinya terus mengalami pertumbuhan dalam kebaikan.

Dosa harus semakin berkurang dan rahmat semakin bertambah. Kebencian harus dikalahkan oleh cinta kasih, sementara sikap pesimistis perlu digantikan dengan harapan dan keberanian dalam menjalani kehidupan.

“Salib mengingatkan kita bahwa kita adalah orang optimis, bukan orang pesimis dalam hidup. Dengan salib suci-Mu, Engkau telah menyelamatkan dunia,” tegasnya.

Salib sebagai Sumber Ketangguhan Iman

Dalam refleksi rohaninya, Pastor Yan juga mengangkat kisah Santo Petrus yang, menurut tradisi Gereja, sempat meninggalkan Roma karena takut menghadapi penganiayaan pada masa Kaisar Nero, tetapi kemudian kembali dan menerima kemartiran.

Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa iman yang tangguh bukan berarti terbebas dari rasa takut atau pergumulan, melainkan memiliki keberanian untuk tetap setia pada panggilan Tuhan.

Ketua Dewan Pastoral Paroki Ko Katedral Santo Agustinus, Hendrikus Fatem, menerima dan membawa Salib IYD dalam rangkaian penyambutan di Manokwari, Sabtu (31/10/2026), sebelum salib diarak memasuki gereja.

Pesan itu sejalan dengan tema kirab Salib IYD, “OMK Tangguh Merajut Damai”, yang mengajak kaum muda menghadapi tantangan zaman tanpa kehilangan semangat kasih dan persaudaraan.

Ketangguhan iman tidak hanya diukur melalui keterlibatan dalam kegiatan liturgi atau perayaan keagamaan, tetapi juga melalui kesediaan untuk melayani, membangun solidaritas, menghormati sesama, dan menjadi pembawa damai di lingkungan masing-masing.

Karena itu, subtema “Berjalan dalam Kasih, Mengangkat Salib dalam Satu Semangat Persaudaraan” mengandung ajakan agar OMK tidak berhenti pada tindakan simbolis mengarak salib, tetapi juga bersedia memikul tanggung jawab iman melalui tindakan nyata.

Kirab Salib IYD dengan demikian menjadi perjalanan rohani yang mengajak kaum muda untuk terus bertumbuh dalam kedewasaan iman, memperkuat kebersamaan, dan menghadirkan nilai-nilai Injil dalam kehidupan masyarakat.

Persaudaraan Lintas Agama dan Budaya Warnai Kirab

Selain menjadi momentum penguatan iman, kirab Salib IYD di Manokwari juga menghadirkan semangat persaudaraan lintas agama dan budaya yang terlihat sejak prosesi penyambutan di Pelabuhan Angrem.

Sejumlah pemuda masjid turut memeriahkan penyambutan Salib IYD melalui penampilan musik hadrat di Manokwari, Sabtu (31/10/2026). Partisipasi lintas agama menjadi salah satu warna dalam rangkaian kirab tersebut

Salib IYD yang dibawa dari Paroki Santo Laurensius Wasior diserahkan kepada perwakilan Ketua OMK dan Seksi Kepemudaan Paroki Ko Katedral Santo Agustinus Manokwari.

Prosesi serah terima tersebut turut dimeriahkan oleh pemuda masjid melalui penampilan musik hadrat serta kelompok musik akustik dari pemuda GKI Elim Kwawi Manokwari.

Keterlibatan kedua kelompok pemuda tersebut memberikan warna tersendiri dalam rangkaian penyambutan dan perarakan salib menuju Gereja Ko Katedral Santo Agustinus.

Kehadiran mereka mencerminkan semangat saling menghormati dan mendukung kegiatan keagamaan di tengah keberagaman masyarakat Manokwari.

Partisipasi lintas agama itu sekaligus memperlihatkan bahwa upaya merajut damai tidak hanya diwujudkan melalui doa dan perayaan iman, tetapi juga melalui perjumpaan, keterlibatan, dan kerja sama antargenerasi muda yang memiliki latar belakang keyakinan berbeda.

Pastor Paroki Ko Katedral Santo Agustinus Manokwari, Pastor Yan Vaenbes, Pr., memimpin rangkaian liturgi di hadapan Salib IYD yang telah ditahtakan di dalam gereja, Sabtu (31/10/2026).

Nuansa budaya Papua turut mewarnai prosesi ketika rombongan kirab tiba di kompleks Gereja Ko Katedral Santo Agustinus. Para penari tradisional suku Arfak menyambut kedatangan Salib IYD dengan menampilkan tarian Tumbutanah, salah satu tarian khas masyarakat Arfak di Manokwari.

Penyambutan bernuansa adat tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap perjalanan salib sekaligus memperlihatkan keterhubungan antara kehidupan iman umat Katolik dan kekayaan tradisi budaya lokal.

Di depan gereja, Salib IYD diterima oleh Ketua Dewan Pastoral Paroki (DPP) Ko Katedral Santo Agustinus, Hendrikus Fatem, didampingi para ketua lingkungan dan tetua adat.

Setelah prosesi penerimaan, salib diarak memasuki gereja untuk ditahtakan, kemudian dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi bersama umat.

Perpaduan musik hadrat pemuda masjid, musik akustik pemuda GKI Elim Kwawi, dan tarian tradisional Arfak memperlihatkan wajah keberagaman Manokwari yang hidup dalam semangat saling menghormati.

Bagi OMK, pengalaman tersebut menjadi bagian dari penghayatan iman yang tidak hanya menuntut kesetiaan menjalankan ajaran agama, tetapi juga kemampuan membangun persaudaraan, menghargai perbedaan, dan menghadirkan perdamaian di tengah masyarakat.

Dua Pekan Pendalaman Iman dan Kegiatan OMK

Ketua OMK Paroki Ko Katedral Santo Agustinus sekaligus Ketua Panitia Kirab Salib IYD, Dorethea Nibaeli, menyampaikan bahwa Salib IYD akan berada di paroki tersebut hingga 15 November 2026.

Selama kurang lebih dua pekan, panitia menyiapkan berbagai kegiatan rohani, pembinaan iman, olahraga, dan kegiatan sosial yang melibatkan OMK serta umat dari berbagai lingkungan paroki.

Rangkaian kegiatan itu menjadi kesempatan bagi kaum muda untuk memperdalam kehidupan iman, mempererat kebersamaan, sekaligus mengembangkan semangat pelayanan di tengah komunitas.

Salib Indonesian Youth Day (IYD) yang dihiasi ornamen budaya Papua ditahtakan di Gereja Ko Katedral Santo Agustinus Manokwari, Sabtu (31/10/2026). Salib tersebut dijadwalkan berada di paroki hingga 15 November 2026 sebelum melanjutkan kirab ke Stasi Oransbari.

Kirab Salib IYD di Paroki Ko Katedral Santo Agustinus dijadwalkan berakhir pada Minggu, 15 November 2026, melalui Misa penutupan dan pelepasan salib untuk melanjutkan perjalanan menuju Stasi Oransbari.

Umat Diajak Menghidupi Pesan Salib

Sementara itu, Ketua DPP Ko Katedral Santo Agustinus, Hendrikus Fatem, mengajak seluruh umat memanfaatkan kehadiran Salib IYD sebagai kesempatan untuk memperbarui kehidupan iman.

Ia mengimbau umat dari seluruh lingkungan agar terlibat aktif dalam rangkaian kegiatan, terutama Perayaan Ekaristi harian dan doa bersama yang diselenggarakan selama salib berada di paroki.

Menurutnya, kehadiran Salib IYD selama dua pekan diharapkan dapat mendorong umat untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan sekaligus mempererat hubungan persaudaraan di tengah komunitas.

Bagi OMK, perjalanan salib ini juga menjadi momentum pembentukan karakter dan kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Kristiani.

Melalui keterlibatan dalam kepanitiaan, pelayanan liturgi, kegiatan sosial, serta berbagai aktivitas bersama, kaum muda memperoleh ruang untuk belajar tentang tanggung jawab, solidaritas, dan kerja sama.

Semangat “OMK Tangguh Merajut Damai” diharapkan tidak hanya hidup selama berlangsungnya kirab, tetapi terus menjadi bagian dari sikap dan tindakan kaum muda dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan demikian, perjalanan Salib IYD dari Wasior menuju Manokwari, dan selanjutnya ke Oransbari, bukan sekadar perpindahan simbol keagamaan dari satu tempat ke tempat lainnya.

Lebih dari itu, kirab tersebut menjadi perjalanan iman yang mengingatkan kaum muda Katolik akan panggilan untuk berjalan dalam kasih, berani memikul salib kehidupan, dan terus merajut perdamaian dalam satu semangat persaudaraan. (*)