Renungan Harian: Ketika Iman Diuji oleh Penderitaan

49

RENUNGAN HARIAN — 28 SEPTEMBER 2026
Bacaan I: Ayb 1:6-22
Mazmur Tanggapan: Mzm 17:1-3.6-7
Bacaan Injil: Luk 9:46-50

Ketika Iman Diuji oleh Penderitaan
Dalam peziarahan hidup, kita tidak pernah benar-benar bebas dari kesulitan, penderitaan, dan berbagai persoalan. Ada saat ketika hidup terasa ringan dan penuh sukacita, tetapi ada pula masa ketika masalah datang bertubi-tubi, seakan tidak memberi kita ruang untuk bernapas.

Kehilangan pekerjaan, masalah ekonomi, sakit, kegagalan, konflik dalam keluarga, relasi yang retak, atau harapan yang tidak kunjung terwujud dapat membuat kita bertanya: Mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi? Di manakah Tuhan ketika hidupku sedang terpuruk?
Dalam situasi seperti itu, iman kita sedang diuji. Kita diperhadapkan pada pilihan: tetap percaya dan setia kepada Tuhan atau menyerah, kecewa, lalu menjauh dari-Nya.

Ayub mengalami penderitaan yang sangat berat. Dalam waktu singkat, apa yang selama ini menjadi kebahagiaan dan kebanggaannya lenyap. Harta benda, keluarga, dan segala yang dimilikinya seakan direnggut dari kehidupannya. Namun, Ayub tidak menghujat Allah. Ia tidak menjadikan penderitaan sebagai alasan untuk meninggalkan Tuhan.

Dengan rendah hati ia berkata: “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!” (Ayb 1:21). Iman Ayub mengajarkan bahwa kesetiaan kepada Tuhan tidak boleh bergantung pada keadaan hidup kita. Kita sering mudah bersyukur ketika doa dikabulkan, usaha berhasil, kesehatan baik, dan kehidupan berjalan sesuai keinginan. Tetapi apakah kita masih mampu berkata “Tuhan tetap baik” ketika sesuatu yang kita cintai hilang dari hidup kita?

Di sinilah iman menemukan kedalamannya. Penderitaan tidak selalu berarti Tuhan meninggalkan kita. Kesulitan juga bukan tanda bahwa Tuhan berhenti mencintai kita. Ada pengalaman hidup yang tidak segera kita pahami, tetapi dapat menjadi ruang bagi kita untuk belajar percaya, berserah, bertumbuh, dan semakin dekat dengan Allah.

Sementara itu, Injil hari ini mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam ambisi untuk menjadi yang terbesar. Para murid memperdebatkan siapa yang terbesar di antara mereka. Yesus justru menunjukkan seorang anak dan mengajarkan bahwa yang terbesar dalam Kerajaan Allah adalah mereka yang mau merendahkan diri dan menerima sesama dengan tulus.

Penderitaan pun dapat menjadi kesempatan untuk belajar rendah hati. Ketika hidup tidak berjalan sesuai keinginan, kita diajak berhenti mengandalkan kekuatan sendiri dan kembali menyadari bahwa hidup ini berada dalam tangan Tuhan.

Karena itu, ketika hari ini kita sedang menghadapi persoalan, jangan buru-buru menyerah. Ketika doa terasa belum terjawab, jangan berhenti berdoa. Ketika hidup terasa berat, jangan meninggalkan Tuhan. Tetaplah setia, tetaplah berharap, dan tetaplah percaya bahwa Allah tidak pernah berhenti bekerja dalam hidup kita.

Belajarlah dari Ayub: kehilangan tidak harus membuat kita kehilangan iman; penderitaan tidak harus membuat kita kehilangan harapan; dan air mata tidak harus membuat kita berhenti percaya.

Tuhan yang memberi adalah Tuhan yang tetap menyertai ketika mengambil. Dalam segala keadaan, nama Tuhan tetap layak dipuji.

Tuhan memberkati. Ave Maria!