Renungan Harian: Apa yang Kita Kejar dalam Hidup Ini?

5

RENUNGAN HARIAN, Kamis, 24 September 2026
Bacaan I: Pkh 1:2-11
Mazmur Tanggapan: Mzm 90:3-6.12-14.17
Bacaan Injil: Luk 9:7-9

Apa yang Kita Kejar dalam Hidup Ini?
Apa yang sesungguhnya kita banggakan dalam hidup ini? Materi yang berlimpah? Jabatan dan kekuasaan? Popularitas? Banyaknya pengikut di media sosial? Atau pengakuan dari orang lain?

Kita hidup dalam dunia yang sering mengukur keberhasilan dari apa yang tampak: rumah yang dimiliki, kendaraan yang dikendarai, jabatan yang disandang, harta yang dikumpulkan, bahkan jumlah likes, followers, dan pujian yang diterima. Tanpa sadar, kita dapat terjebak dalam perlombaan untuk memiliki lebih banyak dan terlihat lebih berhasil daripada orang lain.

Bacaan pertama dari Kitab Pengkhotbah mengingatkan kita dengan kata-kata yang sangat tegas: “Kesia-siaan belaka, segala sesuatu adalah sia-sia.” Mata tidak pernah kenyang melihat dan telinga tidak pernah puas mendengar. Manusia terus mengejar, tetapi sering kali tidak pernah merasa cukup.

Demikian pula Herodes dalam Injil. Ia mendengar tentang segala sesuatu yang dilakukan Yesus. Ia menjadi gelisah dan bertanya-tanya, “Siapa gerangan Dia ini?” Herodes memiliki kuasa dan kedudukan, tetapi ternyata kuasa tidak serta-merta memberikan ketenangan hati. Ada kegelisahan ketika manusia lebih sibuk mempertahankan dirinya daripada mencari kebenaran.

Konteks kehidupan kita hari ini pun tidak jauh berbeda. Kita dapat begitu sibuk mengejar sesuatu yang sebenarnya sementara. Kita bekerja tanpa henti demi materi, berjuang mendapatkan jabatan, mengejar popularitas, mempertahankan gengsi, bahkan terkadang mengorbankan kejujuran, persaudaraan, waktu bersama keluarga, kesehatan, dan kedekatan dengan Tuhan.

Padahal, segala sesuatu di dunia ini akan berlalu. Harta dapat habis, jabatan dapat berakhir, popularitas dapat meredup, dan usia kita pun terus berjalan. Tidak ada satu pun yang dapat kita bawa ketika kehidupan duniawi ini berakhir.

Karena itu, Mazmur mengajak kita berdoa: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Kebijaksanaan bukan berarti menjauhi dunia atau tidak boleh memiliki harta dan kedudukan. Kebijaksanaan berarti mengetahui untuk apa semuanya itu kita gunakan.

Materi menjadi berarti ketika dipakai untuk berbagi. Jabatan menjadi bermakna ketika digunakan untuk melayani. Kekuasaan menjadi berkat ketika dipakai untuk membela dan mengangkat martabat sesama. Teknologi dan media sosial menjadi sarana pewartaan ketika digunakan untuk menyebarkan kebenaran, kasih, dan pengharapan.

Di dalam Tuhan, tidak ada kasih yang sia-sia. Tidak ada pengorbanan yang sia-sia. Tidak ada kebaikan yang sia-sia. Bahkan tindakan kecil yang dilakukan dengan kasih dapat menjadi benih kehidupan yang berbuah bagi orang lain.
Maka, marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apa yang sedang saya kejar? Untuk siapa saya bekerja? Apa yang akan tetap tinggal ketika semua yang saya miliki berlalu?

Jangan sampai kita memperoleh banyak hal di dunia, tetapi kehilangan Tuhan. Jangan sampai kita dikenal banyak orang, tetapi lupa siapa diri kita di hadapan Allah.

Hari ini, marilah kita belajar menata kembali prioritas hidup. Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan diperbudak oleh materi. Terimalah tanggung jawab dan jabatan sebagai kesempatan untuk melayani. Gunakan apa yang kita miliki untuk menghadirkan kebaikan. Dan dalam segala sesuatu, tempatkan Allah sebagai pusat kehidupan.

Sebab pada akhirnya, yang membuat hidup kita berarti bukanlah seberapa banyak yang kita miliki, melainkan seberapa besar kasih yang kita berikan.

Semoga setiap jerih payah, pelayanan, pengorbanan, dan kebaikan yang kita lakukan hari ini menjadi persembahan kasih kepada Tuhan dan menjadi bekal menuju kehidupan yang kekal.

Tuhan memberkati. Ave Maria!