Renold Aleksander Laike
( Doaen STPK Santo Benediktus Sorong)
Pengantar
Kabupaten Tambrauw merupakan wilayah yang memiliki luas hutan terbesar di Provinsi Papua Barat Daya. Kabupaten tersebut secara resmi ditetapkan sebagai Kabupaten Konservasi melalui Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2018; yang dideklarasikan pada hari ulang tahun kabupaten yang kesepuluh. Salah satu wilayah konservasi adalah wilayah pesisir terlangka sebagai tempat bertelurnya Penyu Belimbing yang sekarang ini termasuk spesies terancam punah.

Tulisan ini menceritakan sebuah cerita perjalanan ‘dadakan’ melintasi beberapa distrik dan kampung menuju distrik Amberbaken, Kabupaten Tambrauw. Disebut dadakan karena bukanlah sebuah kunjungan pastoral. Akan tetapi, perjalanan tersebut memberikan perspektif baru terhadap kekaguman alam ciptaan Tuhan yang sangat luar biasa ini.
Perjalanan menuju Distrik Amberbaken
Distrik Amberbaken dapat ditempuh dengan transportasi laut dan darat. Kali ini kami melakukan perjalanan via jalur darat. Perjalanan dimulai dari kota Sorong, pada Senin, 31 Agustus 2026, sekitar pukul sembilan malam. Karena sudah hampir tengah malam, kami pun menginap di Fef, ibukota Kabupaten Tambrauw. Keesokan harinya kami melanjutkan perjalanan menuju Amberbaken sekitar pukul sepuluh pagi. Jalan raya sudah diaspal, kecuali beberapa titik yang belum. Jalan tersebut melalui hutan, sungai, gunung, dan pesisir pantai, yang sangat memanjakan mata. Keindahan alam Tambrauw mengobati rasa lelah karena perjalanan yang lumayan jauh.
Sekitar jam tiga sore, kami tiba di Kampung Saokorem, pusat distrik Amberbaken. Kampung tersebut terletak di pesisir pantai utara. Terdapat juga sebuah dermaga yang tidak lagi bisa digunakan karena rusak akibat hantaman ombak. Kami bertemu dengan kepala distrik Amberbaken lalu pergi ke pasar. Rupanya tidak ada lagi mama-mama yang berjualan di sana karena hari sudah sore. Akan tetapi, ibu Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tambrauw melaksanakan tanggung jawabnya, yaitu mendata para pelaku UMKM Orang Asli Papua, sekaligus juga mensurvei harga sembako di kios-kios besar. Dari survei tersebut, ditemukan bahwa harga-harga sembako relatif mahal akibat biaya transportasi dan distribusi, baik melalui jalur darat maupun laut. Seusai pendataan dan survei, kami melanjutkan perjalanan menuju Kampung Wefiani. Kampung tersebut akan diresmikan menjadi ‘Kampung Injil’. Rencana semula adalah kami akan menginap di sana. Namun, kendala teknis mobil mengharuskan kami menuju Manokwari sebagai tempat terdekat untuk perbaikan. Ketika hari sudah malam, kami menepi di kampung Wekari, di distrik Mpur. Perjalanan ke Manokwari mesti batal karena kami terlelap keletihan.

Keesokan harinya kami berangkat dari Wekari menuju Fef. Kami sempat singgah di Miyah untuk makan siang, di pinggir air terjun tujuh tingkat. Setelah perut terisi kenyang dan beristirahat secukupnya, kami bergerak menuju Fef. Di dekat kampung Sikor, kami berhenti untuk memanen sayur, yang telah disediakan oleh alam Tambrauw yang kaya tersebut, seperti sayur gohi, pakis, dan gedi. Setelah kami merasa cukup perjalanan dilanjutkan sampai tiba di Fef. Hanya selang beberapa menit, kami melanjutkan perjalanan menuju Sausapor.
Kampung Injil
Seperti yang sudah diutarakan sebelumnya bahwa kami sempat berkunjung ke Kampung Wefiani. Kampung tersebut akan diresmikan menjadi ‘Kampung Injil’ melalui peraturan Kemendagri. Usaha tersebut bertujuan untuk mengukuhkan kampung Wefiani sebagai situs religius sekaligus sejarah. Pasalnya, kampung tersebut merupakan tempat kedua perkabaran Injil setelah pulau Mansinam, Manokwari. Menurut keterangan dari Ibu Pendeta N. Tubalawony, M. Th., perkabaran Injil mula-mula dilakukan oleh J. L. Van Hasselt, yang dibantu oleh para ‘penginjil lokal’, terutama berasal dari daerah Kebar. Nama beliau kini diabadikan dalam jemaat GKI J. L. Van Hasselt Wefiani, Amberbaken. Cerita lebih lengkapnya sudah didokumentasikan ke dalam buku, yang direncanakan terbit pada Oktober mendatang.
Kampung Wefiani, kesan saya, memiliki suasana yang syahdu. Masyarakatnya sangat ramah dan sering memberi salam ketika bertemu. Kami tiba di sana memang hari sudah mulai gelap. Penduduknya cukup banyak tetapi terasa sepi dan hening. Sepi dan heningnya agak berbeda dengan kampung yang tidak ada penghuninya. Waktu itu, satu-satunya suara berasal dari gedung gereja berupa nyanyian saat ibadah.

Salah satu hal yang membuat saya merasa perjalanan panjang tersebut tidak berakhir sia-sia adalah cerita tentang sebuah tempat yang disebut ‘Air Kehidupan’. Tempat tersebut berupa kali, yang sebenarnya ada nama sebutan dalam bahasa daerah, hanya saja saya lupa. Menurut cerita Ibu Pendeta, di tempat itu ada dua batu, yang berbentuk seolah-olah seorang wanita yang berbaring lalu merentangkan pahanya. Dari celah kedua batu tersebut mengalir air. Air itu yang kemudian diambil untuk keperluan penyembuhan atau saat seorang ibu hendak bersalin. Bagi saya, cerita tersebut menarik karena saya pernah menemukan cerita yang serupa dalam mitos asal-usul masyarakat Moskona, khususnya marga Ogoney. Diceritakan bahwa ada sebuah batu yang berbentuk seperti alat kelamin wanita, yang mana bagi mereka dari situlah kehidupan berasal. Oleh karena itu, hal yang serupa mengungkapkan filosofi luhur dalam intelektual masyarakat asli Papua, dari alamlah segala kehidupan berasal, dan alam menjamin kehidupan tersebut berlangsung. Dari situ saya yakin bahwa orang Papua tidak bisa dipisahkan dari alamnya. Saya sendiri senang tempat tersebut (‘Air Kehidupan’) masih dijaga sampai sekarang sebagai warisan kearifan lokal, yang secara pemikiran lebih canggih daripada cara berpikir masyarakat modern zaman ini.
Antara Keelokan Alam Tambrauw, Asap, dan Emas
Di sepanjang jalan, ada tiga hal yang bisa dilihat, yaitu keindahan alam Tambrauw yang dahsyat, asap yang mengembul, dan mobil yang mengangkut seperangkat alat tambang. Dalam perjalanan saya merasa rugi jika tertidur karena disajikan pemandangan yang luar biasa. Tentu saja, kita harus bersyukur kepada Tuhan yang telah menciptakannya dan leluhur orang Papua yang bersusah payah menjaganya. Kendati demikian, pemandangan indah tersebut harus terganggu oleh gembulan asap karena pembukaan lahan dengan cara dibakar. Sayangnya, api menyebar luas. Saya bisa melihat asap yang naik di daerah perbukitan. Saya teringat pengalaman melihat gedung pencakar langit kota Jakarta dari gedung Konferensi Waligereja Indonesia. Gedung-gedung tersebut ditutupi oleh kabut, yang ternyata merupakan polusi udara. Langit Jakarta hanya terlihat bersih saat hujan turun. Satu pengalaman yang membuat saya bersyukur lahir, besar, dan tinggal di tanah Papua.

Kebakaran hutan tentu saja sangat merugikan manusia dan terutama alam Ciptaan lainnya. Di dalam hutan terkandung jutaan spesies yang harus musnah dilahap api. Belum lagi, aneka hewan hutan yang bergeser dari habitatnya. Selain itu, pembakaran tersebut menghasilkan berbagai gas karbon, seperti karbondioksida dan karbonmonoksida. Gas-gas tersebut tergolong gas rumah kaca. Gas rumah kaca tersebut pada taraf normal memang membantu bumi, planet rumah tempat tinggal kita bersama, untuk tetap hangat. Akan tetapi, ketika gas-gas tersebut berlebihan, bumi akan semakin panas, yang disebut dengan global warming. Fenomena tersebut menyebabkan terjadinya perubahan iklim. Perubahan iklim secara alamiah seharusnya terjadi dalam beberapa juta tahun, kini hanya dalam beberapa dekade. Beberapa negara kepulauan kecil di Pasifik kini terancam kehilangan negeri mereka karena kenaikan permukaan laut berpotensi menenggelamkan mereka. Di samping itu juga, gas-gas tersebut juga mengikis lapisan ozon atmosfer bumi yang melindungi kita, makhluk berdaging yang pasti punah akibat radiasi sinar matahari. Kita bisa menelusuri bahwa dewasa ini banyak orang lebih mudah terkena kanker, yang bisa jadi diakibatkan oleh perubahan-perubahan tersebut. Dari situ, kita mesti menyadari bahwa kini segala macam suku bangsa terhubung. Satu hal kecil merusak yang dibuat di suatu belahan bumi, akan terdampak juga di bumi belahan lainnya.
Selama perjalanan saya sempat melihat beberapa mobil yang mengangkut orang-orang beserta dengan peralatan yang digunakan untuk tambang emas (gold mining). Pendapat pribadi saya, daerah konservasi dan pertambangan emas merupakan dua hal yang berlawanan sekaligus rancu. Di wilayah pantai Utara, ada dua titik pantai yang menjadi habitat asli tempat bertelur Penyu Belimbing, salah satu spesies yang terancam punah. Di sepanjang pulau Papua yang luas ini hanya ada dua! Maka dikategorikan sebagai hal yang langka. Salah satu titik tersebut sudah terancam. Jika aktivitas pertambangan mengganggu ekosistem wilayah-wilayah tersebut, maka dalam beberapa dekade anak-anak negeri Tambrauw hanya bisa melihatnya di lambang Kabupaten saja. Di samping itu, tempat-tempat yang ‘katanya’ membuka pertambangan, tidak ada perkembangan pembangunan yang signifikan di daerah tersebut. Sejauh pengamatan saya, tempat-tempat tersebut “begitu-begitu saja”. Potret agak sedih ketika anak-anak negeri justru menjadi pekerja di tanah air sendiri. Hal tersebut juga memperlihatkan bagaimana benturan antara pemeliharaan alam dan upaya pemenuhan kebutuhan hidup.
Sedikit Refleksi
Kisah perjalanan ke Amberbaken memang bukanlah pelayanan pastoral, maka di bagian ini akan diberi bobot pemaknaannya secara filosofis-teologis. Pada mulanya, Allah menciptakan langit dan bumi, lalu memberi tanggung jawab kepada manusia untuk memeliharanya, begitulah kata Kejadian bab 1. Kisah tersebut merupakan ungkapan iman bangsa Israel, yang mau menunjukkan kepada bangsa-bangsa di wilayah Mesopotamia bahwa Allah Israel jauh lebih hebat dibandingkan para dewa kafir. Allah menciptakan dunia dalam keharmonisan, berbeda dengan kepercayaan lokal Babilonia yang mana kehidupan berasal dari ketidakharmonisan (chaos). Selanjutnya, hal yang paling penting dari teks tersebut adalah manusia selaku citra Allah (bdk. Kej. 1:26) diberi kepercayaan oleh Allah untuk melaksanakan apa yang Allah selalu perbuat, yaitu memelihara kehidupan atau alam ciptaan tersebut. Pendapat pribadi saya, kisah Penciptaan ditempatkan pada awal Kitab Suci Kristen mengingatkan kita bahwa kita (manusia) berada dalam satu keharmonisan antara Allah, manusia, dan ciptaan lainnya. Gambaran keharmonisan tersebut terlukis dalam Kejadian Bab 2 tentang Taman Eden.

Jika kita membaca bab selanjutnya, akan ditemukan kisah Kejatuhan manusia. Dalam refleksi pribadi, kisah kejatuhan tersebut berdampak pada keharmonisan tadi. Manusia keluar dari tatanan yang harmonis tersebut, yang dilukiskan dengan manusia diusir dari taman Eden (Bdk. Kej. 3:23). Dampak lainnya yang saya sadari adalah manusia harus bersusah payah ‘mengusahakan tanah’ untuk memenuhi kebutuhan hidup (bdk. Kej. 3:14-18). Pokok pikiran saya adalah Ciptaan lainnya juga terdampak atas kesalahan manusia pertama tersebut. Oleh karena itu, segala bentuk kesalahan manusia (human error) berdampak pada keseimbangan alam ini. Kalau dipikir-pikir, kita manusia seperti anomali di tengah alam semesta ini. Alam semesta bergerak teratur, tetapi kita manusia berada dalam ketidakteraturan. Saya berpendapat bahwa seolah-olah kita manusia tidak menjadi bagian dari keteraturan alam. Karena kelalaian kita manusia, alam ciptaan lainnya sekarang ini menjadi sekarat. Saudari Bumi, ibu yang jelita, sekarang ini menjerit akibat kerusakan yang kita manusia timpakan kepadanya, begitu kata mendiang Paus Fransiskus (bdk. LS, art. 2).
Lantas apa yang harus diperbuat? Satu-satunya jalan pulang kepada keharmonisan adalah masuk kembali ke Taman Eden. Jalan itu yang menurut bahasa Paus Fransiskus disebut dengan Pertobatan Ekologis. Sebagaimana upaya pertobatan dimulai dengan pengakuan, kita manusia mesti menyadari kerusakan yang terjadi sekarang akibat keserakahan kita. Maka, dengan berbesar hati, kita mengakui bahwa Ibu menjadi sekarang karena kesalahan dan dosa kita. Berangkat dari kesadaran tersebut barulah kita dapat mengupayakan pertobatan ekologis, yang bermula dari perubahan gaya hidup sehari-hari yang rentan merusak alam.
Dalam alam pikir masyarakat tradisional Papua, alam dipandang sebagai Ibu yang melahirkan kehidupan dan memeliharanya setiap hari dengan menyediakan nutrisi bagai Air Susu Ibu yang menyehatkan manusia. Pengalaman memetik sayur-sayuran di dekat Sikor (seperti yang diceritakan sebelumnya) merupakan bukti bahwa alam menyediakan kebutuhan manusia. Dalam bingkai kekeluargaan tersebut, bagi orang asli Papua, alam merupakan bagian dari suatu relasi harmonis, antara Religius-Spiritual, Manusia, dan Alam Ciptaan lainnya. Ketika keseimbangan dan keharmonisan tersebut terganggu, akan ada bencana yang mengancam manusia. Menurut saya, pandangan tradisional tersebut sangat kaya dibandingkan cara berpikir masyarakat modern yang mulai kehilangan kemampuan bernalar. Saya terkagum-kagum bagaimana pemikiran religius-spiritual beresonasi dengan relasi antara sesama manusia dan alam ciptaan lainnya. Saya masih percaya bahwa orang asli Papua sangat mencintai alamnya.
Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan hidup merupakan peristiwa yang nyata terjadi. Setiap kali saya bertanya tentang cuaca atau keadaan laut di Sausapor dan sekitarnya, jawaban yang sering muncul: sekarang ini kita sulit untuk prediksi keadaan laut. Kadang musim angin dan gelombang datang tanpa diduga. Hal tersebut berarti perubahan-perubahan terjadi dengan begitu cepat. Itulah salah satu contoh sederhana mengenai perubahan iklim yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Tuntutan zaman beserta perubahan-perubahannya memang mengaburkan pandangan luar biasa tersebut. Mungkinkah pemikiran luar biasa tersebut mulai terlupakan? Apalagi Benturan pemenuhan kebutuhan hidup dan pemeliharaan alam terjadi cukup sengit, apalagi keadaan perekonomian sekarang ini yang semakin sulit. Penguasa dan kroni-kroni di atas awan sambil mencuri hak rakyat yang terkubur debu tanah. Di samping itu, mentalitas masyarakat modern rupanya sangat tidak ramah dengan lingkungan hidup. Hasil bumi dikeruk sebanyak mungkin demi keuntungan pribadi dan kelompok. Dampak negatifnya justru dirasakan oleh masyarakat setempat atau kelompok marga yang memiliki hak ulayat.
Hal yang saya tawarkan di sini adalah kembali pada filosofis luhur dan kearifan lokal masyarakat asli Papua. Tawaran ini bukanlah sebuah romantisme budaya atau mengingat kejayaan masa lalu. Akan tetapi, kita mesti sadar bahwa kita membutuhkan pemikiran semacam itu. Ada korelasi antara pemikiran dari Kitab Suci dan juga pandangan masyarakat asli Papua terhadap lingkungan hidup, yaitu kita kembali pada keharmonisan. Ketidakharmonisan antara kita manusia dan alam justru merusak relasi antarmanusia. Kita bisa melihat konflik agraria dan tanah yang justru sanak saudara bisa saling melakukan perbuatan yang tidak berperikemanusiaan. Kita tidak mengetahui siapa yang bertanggung jawab hutan yang hilang dan tanah yang rusak setelah dieksploitasi, selain masyarakat setempat? Apakah hasil penjualan tanahpun membuat masyarakat menjadi sejahtera? Apakah hasil pembukaan tambang emas memberikan kemajuan yang signifikan? Mengapa kita mau memperkaya orang lain sedangkan kita yang menanggung dampak buruknya? Maka, sekali lagi salah satu jalan keluarnya adalah kita bergegas long march menuju ke Eden.
Sedikit Rekomendasi
Perjuangan menjaga alam dan mensejahterakan masyarakat Papua, terutama Kabupaten Tambrauw, pertama-tama, haruslah menjadi gerakan bersama. Proyek ini perlu melibatkan banyak pihak, seperti Pemerintah Daerah, IGO, lembaga adat, lembaga agama, dan terutama masyarakat setempat, serta semua orang yang berkehendak baik. Dibutuhkan juga program-program yang benar-benar strategis, maupun langkah-langkah sederhana yang bisa dilakukan bersama. Di samping itu, upaya ini membutuhkan konsistensi, kontinuitas, dan kesetiaan. Agak memberatkan jika berjalan tidak konsisten atau mandet di tengah jalan.
Program-program dan kebijakan Pemerintah Daerah perlu dijalankan secara strategis dan terencana. Oleh karena itu, perlu melakukan riset-riset tertentu sebelum merumuskan dan menetapkan program dan kebijakan tersebut. Hal yang perlu mendapat perhatian adalah pendekatan antropologis pada masyarakat. Salah satu contoh adalah bangunan pasar yang kemudian terbelangkai. Saya kira salah satu penyebabnya adalah kurang diadakan riset, karena pada dasarnya, kita memberikan apa yang dibutuhkan oleh masyarakat, bukan apa yang dipikir masyarakat butuh. Itu dua hal yang jauh berbeda.
Saya kira perlu melakukan sosialisasi untuk mengingatkan masyarakat adat agar tidak mudah menjual tanah atau membuka tambang emas. Rayuan maut para kalangan serakah seringkali ampuh mengambil hati masyarakat; iming-iming uang yang tidak seberapa. Kalaupun tambang dibuka secara legal, perlu juga mempertimbangkan kesejahteraan masyarakat setempat, dan biaya pelestarian kembali kerusakan. Keduanya mahal, tidak bisa dibayar murah! Keuntungannya haruslah lebih dirasakan oleh anak-anak negeri. Kalau tidak mau, silahkan mencari tempat lain! Itulah hal sederhana yang bisa dipikirkan, meski kenyataannya cukup sulit dilakukan.
Isu kerusakan lingkungan dan perubahan iklim seharusnya telah menjadi perhatian bagi kaum muda. Mengapa demikian? Kaum muda menjadi salah satu kelompok rentan yang paling terdampak dari kerusakan lingkungan hidup. Oleh karena itu, kepedulian terhadap pelestarian lingkungan hidup mesti digaungkan dengan cara-cara orang muda, dan di antara orang muda. Kaum muda merupakan para pengguna fasih media sosial. Media sosial bisa menjadi wadah yang tepat untuk menyebarkan pesan kebaikan ini. Dengan demikian, kaum muda melindungi masa depan mereka sendiri.
Pada akhirnya, marilah kita bergadengan tangan dalam menjaga alam Papua yang begitu indah ini. Kontribusi kecil kita sangat berarti bagi masa sekarang dan masa depan. Saudara-saudari ciptaan lainnya merupakan cara Allah mewahyukan diri-Nya dalam keindahan Alam. Sembari juga kita dipilih-Nya dari para saudara untuk diberi tanggung jawab luhur sebagai penjaga. “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? … Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat. Engkau membuat dia berkuasa (baca: bertanggung jawab) atas buatan tangan-Mu …(Bdk. Mzm. 8:4-7).





