RENUNGAN HARIAN, Rabu, 02 September 2026
Bacaan I: 1Kor 3:1-9
Bacaan Injil: Luk 4:38-44
Menjadi Manusia Rohani yang Menghadirkan Kasih
Dalam bacaan pertama hari ini, Rasul Paulus berhadapan dengan persoalan perselisihan yang terjadi di tengah jemaat Korintus. Paulus kemudian berbicara tentang dua macam manusia: manusia duniawi dan manusia rohani.
Manusia duniawi adalah manusia yang masih berkutat pada kepentingan dan kesenangan dirinya sendiri. Orientasi hidup dan karyanya lebih banyak tertuju pada apa yang menyenangkan diri atau kelompoknya. Karena itu, ketika kepentingan diri terganggu, muncullah iri hati, perselisihan, persaingan, bahkan keinginan untuk menjatuhkan sesama.
Paulus berkata dengan tegas: “Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan, bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?” (1Kor 3:3).
Iri hati sering kali muncul ketika kita sulit menerima keberhasilan orang lain. Kita ingin menjadi yang paling hebat, paling dihargai, paling diperhatikan. Ketika ada orang lain yang lebih maju atau lebih berhasil, hati kita merasa terusik. Bahkan terkadang, kita bukan hanya sulit bersukacita atas keberhasilan sesama, tetapi diam-diam berharap agar ia gagal.
Inilah salah satu bentuk keegoisan manusia duniawi: segala sesuatu diukur dari kepentingan diri sendiri.
Sebaliknya, manusia rohani adalah manusia yang membuka hati kepada Roh Allah dan rela membiarkan dirinya digerakkan oleh-Nya. Manusia rohani belajar menyelaraskan keinginan dirinya dengan kehendak Allah.
Roh Allah tidak memecah-belah. Roh Allah mempersatukan. Roh Allah mengajar kita untuk hidup dalam kasih, menghargai sesama, merangkul yang berbeda, menguatkan yang lemah, dan bersukacita atas kebaikan yang dialami orang lain.
Karena itu, manusia rohani tidak lagi bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan?” tetapi berani bertanya, “Apa yang bisa saya berikan bagi sesama?”
Gambaran manusia rohani itu kita temukan dalam diri Yesus. Dalam Injil hari ini, Yesus datang kepada orang-orang yang menderita. Ia menyembuhkan ibu mertua Simon yang sedang sakit. Ia juga menyembuhkan banyak orang yang datang kepada-Nya. Yesus tidak hidup untuk kepentingan diri-Nya sendiri. Hidup-Nya menjadi jalan bagi hadirnya kasih, pengharapan, kesembuhan, dan keselamatan bagi sesama.
Bahkan ketika banyak orang mencari-Nya, Yesus tetap berkata bahwa Ia harus pergi ke kota-kota lain untuk mewartakan Kerajaan Allah. Kasih tidak pernah berhenti pada diri sendiri. Kasih selalu bergerak keluar untuk menjangkau sesama.
Kita pun dipanggil untuk menjadi manusia rohani. Kita diajak berani keluar dari egoisme, iri hati, persaingan yang tidak sehat, dan segala bentuk perselisihan. Kita belajar membangun persaudaraan sejati.
Di tengah keluarga, komunitas, lingkungan kerja, pelayanan, bahkan dalam kehidupan menggereja, marilah kita menjadi orang-orang yang menghadirkan sukacita, bukan perselisihan; menghadirkan damai, bukan pertengkaran; menghadirkan penguatan, bukan menjatuhkan; menghadirkan kasih, bukan kebencian.
Menjadi manusia rohani berarti membiarkan hidup kita menjadi tempat di mana orang lain dapat mengalami kasih Allah.
Semoga Roh Kudus terus membarui hati kita, sehingga kita tidak hidup hanya menurut keinginan diri, tetapi semakin mampu hidup menurut kehendak Allah.
Manusia rohani selalu menghadirkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Tuhan memberkati. Ave Maria.





