Memaknai Kirab Salib IYD 2027: Dipanggil Untuk Merdeka, Diutus Untuk Melayani

2
Salib merupakan pusat pewartaan iman Kristen dan menjadi inti dari karya keselamatan Allah dalam diri Yesus Kristus.

Penulis adalah Fr.  Edy Baru, OSA yang sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Imanuel Sanggeng.

Pendahuluan

Salib bagi orang Yahudi dan Yunani merupakan suatu kebodohan. Orang Yahudi meminta tanda, sedangakang orang Yunani menghendaki hikmat. Meraka beranggapan bahwa salib merupakan suatu sandungan dan kebodohan. Rasul paulus menegaskan dalam 1 Korintus bahwa karena kebodohan dan sandungan merupakan cara Allah masuk dalam realitas kehiduapan manusia.  Lalu Paulus menegaskan bahwa bagi orang yang dipanggil, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih bijaksana daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia (bdk 1 Kor 1: 24-26). Rasul Paulus dalam pelbagai suratnya banyak berbicara tentang makna salib. Sebagaimana tercatat dan terdapat dalam 1 Kor 1:18-24; Gal 6:14;Ef 2: 13-16, ditegaskan bahwa memang salib adalah kekuatan Allah, karena salib Tuhan kita Yesus Kristus kita dan dunia disalibkan. Salib adalah rahmat Allah yang gratis dan cuma-cuma bagi manusia. Melalui salib kita manusia diperdamaikan dengan Allah oleh Yesus Kristus yang wafat sampai mati di atas kayu salib. Salib yang mendamaikan kita dengan Allah itu murni rahmat dan belas-kasih (missericordia Dei) bukan semata-mata hasil perjuangan dan usaha kita manusia. Jadi, salib merupakan bukti cinta dan pengorbanan tertingga Allah melalui diri putra-Nya Yesus Kristus. Karena itu, salib adalah via dolorosa  yang menghantar dan memetakan perjalanan jiwa kita naik untuk berjumpa dengan Allah, dan salib juga mengarahkan kita kembali kepada foris untuk berjumpa dengan Allah dalam diri sesama. Salib juga mengantar kita untuk mencapai pada kesadaran eksistensial untuk menerima segala yang datang entah baik atau buruk dalam kehidupan kita.

Melalui salib kita manusia diperdamaikan dengan Allah oleh Yesus Kristus yang wafat sampai mati di atas kayu salib.

Salib merupakan bukti pengorbanan dan cinta Allah yang paling tinggi. Sebagaimana ditegaskan oleh Yohanes  “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada ini, yakni seseorang yang memberikan nyawanya (Yoh 15:13), seseorang yang memberikan nyawanya adalah Kristus Sang Cinta atau Kasih itu sendiri. Jadi, Allah yang diimani oleh orang kristen pada hakikatnya adalah kasih. Allah yang adalah kasih (Deus caritas est) itu tidaklah tanpa wajah, “melainkan Allah yang memiliki wajah manusia dan yang mengasihi kita sampai pada kesudahannya”. Perwujudan kasih-Nya yang paling agung adalah peristiwa penderitaan-Nya di atas salib. Penderitaan Allah ini menjadi dasar bagi orang kristen dalam memahami dan memaknai penderitaan di dunia. Penderitaan dipandang sebagai bagian dari keberadaan manusia di dunia. Meskipun manusia tidak menginginkan penderitaan, tetapi toh penderitaan itu dialami juga. Kristus menjadi model via dolorosa untuk mengajarkan kita untuk menanggung dan bertahan dalam penderitaan bukan menolak.

Dalam artikel ini akan diuraikan beberapa inti inti poin sebagai berikut. Pertama, pengertian salib; kedua, diuraikan dari perspektif bliblis tentang salib. Ketiga, makna salib menurut ajaran magisterium gereja.. Keempat, adalah potret dan refleksi kegiatan kirab salib Orang Muda Katolik Imanuel Sanggeng (OMKI) dengan tema: “Dipanggil Untuk Merdeka, Diutus Untuk Melayani. Yang terakhir catatan reflektif penulis atas salib dan penutup

Pengertian Salib

Salib dalam bahasa Yunani stauoros, yang artinya alat siksaan (kadang-kadang disebut juga kyslon: kayu, alat tergantung. Yesus dari Nazaret meninggal di kayu salib. Sejak kematian Yesus salib dimaknai sebagai lambang penderitaan dan sengsara yang diterima Yesus dengan sukarela, dan sekaligus tanda melepaskan diri dari dunia dan dari “hawa nafsu.” Makna salib asalinya berasal dari bangsa-bangsa Timur, namun lama kelamaan menjadi sejenis hukuman dan siksaan khas bangsa Romawi, sebagaimana ditegaskan oleh Cicero, “hukuman yang paling kejam dan paling hina.” Hukuman itu diterapkan pada para budak dan orang-orang yang bukan warga negara Roma. Orang Yahudi mengenal hukuman itu sejak th 88-83 sM, ketika Alexander Yannius menyalibkan 800 orang Yahudi. Namun hukuman itu lebih dikenal lagi sejak Palestina dijajah oleh Roma, khususnya masa pemberontakan di Galilea. Orang-orang Kristen awal dengan mudah menghubungkan hukuman salib dengan kebiasaan yang dipraktekkan oleh bangsa Yahudi; menurut hukum, bahwa tubuh orang hukuman yang sudah menjalani siksaan sampai mati, digantung pada sebuah balok kayu yang ditanam di luar tembok kota. Mayat orang yang dihukum dijadikan contoh kehinaan, kutukan, sehingga harus diturunkan dan dimakamkan menjelang malam, sebab dipandang sebagai aib bagi seluruh bangsa ( Dufour, 1990: 486-487).

Penderitaan Allah ini menjadi dasar bagi orang kristen dalam memahami dan memaknai penderitaan di dunia.

Proses penyaliban, balok kayu vertikal ditambah oleh orang-orang Roma dengan sebuah balok kayu horisontal (patibulum) yang dapat ditempatkan atau pada ujung atas balok vertikal (crux commissa) atau sedikit di bawah. Orang-orang yang dijatuhi hukuman ini harus sendiri memikil salibnya sampai tempat pelaksanaannya. Sebelumnya ia didera dengan paraturan yanng wajib dilaksanakan. Biasanya pada orang itu digantungkan sebuah tulisan yang menjelaskan alasan di dijatuhi hukuman; tulisan itu kemudian ditempatkan di bagian atas salib. Dalam pelbagai surat Rasul Paulus dan keempat injil serta para sejarawan membenarkan kenyataan bahwa Yesus menjalani hukuman mati di salib. Berdasarkan keputusan yuridis Pilatus, para serdadu Romawi menjalankan hukuman penyaliban atas diri Yesus sesudah Ia didera, sesuai dengan kebiasaan Romawi. Jadi, alasan Yesus disalibkan bersifat politik: Yesus dianggap sebagai penghasut. Peristiwa penyaliban Yesus dengan jelas dikaitkan dengan orang-orang Yahudi masa itu, namun di sisi lain merupakan skenario dan keseluruhan rencana Allah. Allah yang menyejarah hadir dalam sejarah eksistensial manusia secara konkret. Allah bukan hanya hadir tetapi memberi diri-Nya masuk dan bergumul dalam realitas kehidupan manusia yang begitu pelik dan derita. Bahkan Ia mau mengalami kematian sebagaimana dialami oleh manusia. Itulah hal yang memperlihatkan kasih Allah yang begitu nyata dan konkret dalam sejarah kehidupan manusia. Bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi selalu dan sedang terjadi di sini kini dan saat ini.

Salib dalam Tinjauan Bliblis

Salib merupakan pusat pewartaan iman Kristen dan menjadi inti dari karya keselamatan Allah dalam diri Yesus Kristus. Dalam Perjanjian Baru, salib tidak hanya dipahami sebagai alat hukuman mati atau simbol penderitaan, melainkan sebagai tempat di mana kasih, pengorbanan, ketaatan, pengampunan, dan keselamatan Allah dinyatakan secara nyata. Karena itu, untuk memahami makna salib secara utuh, salib perlu dilihat dalam terang kesaksian Kitab Suci, khususnya dalam Injil-Injil dan tulisan-tulisan Rasul Paulus. Keempat Injil memberikan tempat yang sangat penting bagi kisah sengsara dan wafat Yesus di kayu salib. Yesus tidak mengalami salib sebagai suatu peristiwa yang bukan kebetulan, tetapi sebagaisuatu jalan yang ditempuh-Nya dalam melaksanakan kehendak Bapa. Dalam perjalanan menuju Yerusalem, Yesus beberapa kali memberitahukan kepada para murid bahwa Anak Manusia akan menderita, ditolak, dibunuh, dan bangkit pada hari ketiga (bdk. Mrk 8:31; 9:31; 10:33-34). Dengan demikian, salib merupakan  misteri keselamatan Allah yang dijalani Yesus dalam melaksanakan missio Dei, sehingga membawa manusia kembali pada Allah. Sebagaimana diikatakan St. Augustinus bahwa Yesus turun supaya manusia naik. Manusia berusaha dan berupaya naik sampai pada Allah berarti harus berani menyangkal dirinya dan memikul salib agar bisa mencapai Allah. Yesus telah merintis jalan dan Dia sendiri adalah jalan. Sebagaimana Ia sendiri mengatakan Barang siapa sampai kepada bapa-Ku berarti harus melalui Aku (bdk, Yoh 14:6). Jadi, Yesus sebagai mediator, fasilitator, modus, jalan, dan jembatan untuk sampai pada Allah. Ketika seseorang mengatakan ia bertemu dengan Allah melalui jalan lain merupakan suatu ketidakmmungkinan dan bulshit.

Salib merupakan pusat pewartaan iman Kristen dan menjadi inti dari karya keselamatan Allah dalam diri Yesus Kristus.

Dalam Injil Markus, Yesus berkata: “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mrk 8:34). Perkataan ini menunjukkan dan menegaskan bahwa bahwa salib merupakan konsekuensi dari pilihan. Setiap pilihan mempunyai konsekuensi. Tidak memilih juga mempunyai konsekuensi. Jadi salib dengan kata lain adalah ketaatan, kesetian, bertanggung jawab, kesabaran. Misalnya memilih untuk hidup selibat atau berkeluarga merupakan salib yang kita emban dan pikul selama peziarahan di dunia. Mengikuti Kristus berarti bersedia menanggalkan dan menyangkal diri kita. Frase menyangkal diri menjadi autokritik bagi kita. Bagi st. Augustinus menyangkal diri berarti menolak ego yang menjadi sentrum antroposentris. Ego yang menempatkan dirinya sebagai pusat dari segala-galanya. Dengan kata lain cinta diri sampai melupakan dan mengabaikan Allah; cinta diri sampai penghinaan akan Allah (amor sui usque ad contemptum Dei) (Veuger, 2005:59). Artinya menjadikan dirinya sebagai tuhan atas segala hal sehingga melupakan Tuhan. Karena itu, teguran klasik dari Socrates mengingatkan kita bahwa “kenalilah diri, kenalilah dirimu dan tahu diri bahwa diri kita adalah ciptaan (gnoti seuton kai madan agan) yang mengalami keterbatasan dan kerapuhan. Jadi, dapat dikatakan bahwa amor sui menghasilkan kehendak yang jahat (voluntas perversa); secara harfiah: kehendak yang terbalik, atau berpaling, atau tersesat, yakni cinta yang jahat (malus amor). Cinta yang jahat akan menjebloskan jiwa kita jatuh ke bawah dapur dosa atau peccati.Jadi, kita harus menyangkal diri terlebih dahulu dan bebaskan diri dari motif terselubung sehingga memikul salib dengan bebas dan berdeka dalam Allah.

Dalam Injil Yohanes, salib bahkan dipandang dalam perspektif kemuliaan. Ketika berbicara mengenai kematian-Nya, Yesus berkata: “Telah tiba saatnya Anak Manusia dimuliakan” (Yoh 12:23). Di sini terdapat suatu paradoks iman Kristen: kemuliaan Allah justru dinyatakan dalam penderitaan dan wafat Kristus. Salib yang secara manusiawi tampak sebagai kekalahan, kehinaan, dan kematian. Tetapi ditilik dari perspektif iman justru salib menjadi jalan menuju kemuliaan dan kehidupan. Artinya bahwa salib yang kita pikul dalam peziarahan hidup kita, walaupun mengalami pasang surut tetapi kita taat, setia memikul maka akan mengantarkan kita untuk penemuan akan diri kita dan di saat yang sama kita berjumpa dan bertatapan kebahagian dengan Allah. Dalam bahasa Thomas Aquinas adalah ultimus finis hominis est visio Dei (tujuan akhir manusia adalah melihat Allah. Salib adalah dinamika dialektika manusia. Salib merupakan gerak dialektis dalam eksitensi manusia yang selalu menkonfrontasi, merekonstruksi dam merehabilitasi manusia dari ada menjadi tiada menuju ada; lahir untuk hidup, hidup untuk mati dan mati untuk kehidupan. Kristus adalah dialketis yang berdialektika melalui hidup, karya danwafat serta bangkit. 

Mengikuti Kristus berarti bersedia menanggalkan dan menyangkal diri kita.

Karena itu, salib tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan. Salib dan kebangkitan merupakan satu kesatuan dalam misteri Paskah Kristus. Yohanes juga menampilkan Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (bdk. Yoh 1:29). Dalam terang ini, wafat Yesus di kayu salib merupakan penyerahan diri-Nya demi kehidupan manusia. Kasih Kristus mencapai puncaknya dalam pemberian diri yang total. Hal ini sejalan dengan perkataan Yesus: “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). Salib karena itu menjadi tanda kasih yang tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri, tetapi memberikan diri secara total bagi keselamatan orang lain. Salib sebagai bukti kalau Allah terlebih dahulu mencintai manusia daripada manusia itu sendiri. Allah lebih dahulu berinisiatif bahkan Allah pula yang menggerakan manusia untuk mencintai dirinya secara benar. Sebagaimana ditegaskan dalam ensiklik Deus caritas est: “Tindakan Allah ini mengambil bentuk dramatis dalam hal bahwa Allah dalam Yesus Kristus sendiri mencari “domba yang hilang”, umat manusia yang menderita dan hilang. Bila Yesus dalam perumpamaan berbicara tentang gembala, yang mencari domba yang hilang, perempuan yang mencari dirham,bapa yang menyambut anak yang hilang dan memeluknya, maka itu sema bukan hanya kata-kata, melainkan penjelasan tentang diri-Nya dan tindakan-Nya. Dalam wafat-Nya di salib terwujudlah sikap. Allah terhadap diri-Nya sendiri; ia menganugerahkan diri untuk mengangkat dan menyelamatkan manusia – kasih dalam bentuk paling radikal. Pandangan kepada sisi Yesus yang ditembus yang diberitakan Yohanes (bdk. 19: 37), mengerti apa yang menjadi pangkal tulisan ini: “Allah adalah kasih” (1 Yoh 4: 8). Di situ kebenaran ini dapat dilihat (Deus crts est, art, 12).

Kutipan di atas tersebut menjelaskan bahwa kasih Allah bukan hanya sebuah perkataan atau ajaran, tetapi nyata dalam tindakan-Nya menyelamatkan manusia. Dalam diri Yesus Kristus, Allah datang mencari manusia yang tersesat dan menderita, seperti gembala yang mencari domba yang hilang, perempuan yang mencari dirham, dan bapa yang menerima kembali anaknya yang hilang. Perumpamaan-perumpamaan Yesus itu sebenarnya menggambarkan siapa diri-Nya dan bagaimana Allah bertindak terhadap manusia. Allah tidak membiarkan manusia hidup dalam keterasingan dan dosa, tetapi dengan penuh kasih mencari, menerima, dan memulihkan mereka. Puncak kasih Allah itu tampak dalam wafat Yesus di salib. Yesus memberikan diri-Nya secara total demi mengangkat dan menyelamatkan manusia. Lambung Yesus yang tertikam, sebagaimana diberitakan dalam Yohanes 19:37, menjadi tanda nyata dari kasih Allah yang rela berkorban. Karena itu, pernyataan “Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8) bukan sekadar konsep, melainkan kebenaran yang dapat dilihat melalui kehidupan, penderitaan, dan pengorbanan Yesus. Dengan demikian, kasih Allah merupakan kasih yang aktif, radikal, dan menyelamatkan: Allah sendiri mendekati manusia dan memberikan diri-Nya demi keselamatan manusia.

Makna salib menurut Rasul P aulus

Rasul Paulus adalah salah satu penulis kitab-kitab Perjanjian Baru, dan dia sangat tertarik dengan arti salib. Bagi rasul Paulus, makna salib begitu penting sehingga ia mengatakan bahwa banyak masalah dapat diselesaikan dengan salib. Menurut Paulus, salib tidak hanya menjadi tema umum dalam Perjanjian Baru, tetapi dalam tema salib, terdapat makna yang sangat luas dan menarik yang dapat dipahami oleh semua orang Kristen. Paulus makna salib itu sangat besar karena dengan melalui salib inilah Allah menyatakan akan kasih Kristus yang di Salibkan untuk penebusan akan dosa-dosa manusia dan melalui karya penyaliban inilah yang kemudian menyatakan akan karya keselamatan bagi semua orang percaya menjadi tebusan bagi banyak orang.

Dalam teologi Paulus, salib itu dilihat sebagai kekuatan Allah menurut 1korintus 1:17-18. Pandangan ini bertolak belakang dengan cara pandang masyarakat pada masa tersebut. Terlebih lagi yang tersalib ialah Yesus yang diyakini oleh Rasul Paulus sebagai Mesias. Ketika Paulus kemudian memberitakan yang tersalib, maka hal itu dianggap sebagai kebodohan. Bagi orang-orang yahudi di Korintus, sosok Mesias yang mereka harapkan bukanlah seorang yang mati dan yang tak berdauya diatas kayu salib, melainkan sosok pembebas secara politis yang akan mengembalikan Bangsa Israel di zaman keemasan. Kematian sang Juruselamat adalah sandungan bagi mereka. Sedangkan bagi orang-orang yunani yang sudah mahir dalam hal menyebarkan seni dan ilmu pengetahuan, berita tentang salib tidak dapat memuaskan rasa ingin tahu mereka. Dengan demikian, pengajaran tersebut bertolak belakang dengan pemikiran mereka. Tidak mungkin sang Juruselamat harus mati tanpa menyelamatkan diri-Nya sendiri? hal tersebut bagi mereka merupakan kebodohan. Salib diberitakan denan tidak malu oleh Paulus, dan Salib justru dijadikan inti dalam pemberitaan Injil. Selain Yesus Kristus yang tersalibkan itu maka Paulus kemudian menetapkan untuk tidak mengetahui hal lain ketika sampai di Korintus. Ia juga mengingatkan jemaat di Korintus tentang inti dari pemberitaan Injil, dan ia juga mengingatkan bahwa jemaat di Konrintus itu diselamatkan melalui Injil (1Korintus 15:2). Karya Allah yang dilakukan melalui kematian Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia, dan kemudian Dia bangkit kembali dari antara orang mati pada hari ketiga.

Menurut Paulus, salib tidak hanya menjadi tema umum dalam Perjanjian Baru, tetapi dalam tema salib, terdapat makna yang sangat luas dan menarik yang dapat dipahami oleh semua orang Kristen.

Salib bagi Paulus adalah kekuatan dari Allah untuk menyelamatkan setiap orang percaya yang pertama-tama yaitu orang yahudi, dan juga orang Yunani (Roma 1:16). Setiap orang berdosa adalah hal yang ditunjukkan oleh Paulus melalui fakta rohani dan ia menegaskan bahwa tidak ada seorang pun yang benar, dan tidak ada seorang pun yang berbuat baik berdasarkan Mazmur. Semua orang telah kehilangan kemulian Allah dan telah berdosa dinyatakan oleh Paulus dengan tidak ragu. Upah dosa ialah maut (Roma 3:23) adalah akibat dari dosa. Akibat keberdosaan manusia maka ada maut yang berarti neraka sebagai tempat manusia untuk memperoleh hukuman yang kekal atas dosanya. Paulus menjelasan dalam Roma 5:12 bahwa semua orang telah berdosa maka maut juga telah menjabar kesemua orang. Dosa yang diakibatkan oleh Adam yang masuk ke dunia. Semua orang dibenarkan melalui Kristus oleh Allah sehingga manusia idak memiliki alasan untuk bangga pada dirinya sendiri. semua orang yang berdosa telah kehilangan kemuliaan Allah yang artinya yaitu bahwa manusia telah kehilangan kehadiran Allah di tengah manusia menurut Paulus. Manusia yang berdosa seharusnya dijatuhi hukuman mati (Roma 6:23) dan sebenarnya tidaklah layak untuk memperoleh ganjaran keselamatan. Akan tetapi, Kristus kemudian diutus Allah sebagai korban dan menanggung hukuman mati yang seharusnya dijatuhkan kepada manusia. Ia mati di kayu salib dan untuk semntara waktu berpisah dari Allah

Makna Salib dalam Ajaran Magisterium Gereja

Salvaci Doloris

Salvaci Doloris adalah surat Apostolik yang dikeluarkan oleh Paus Yohanes Paulus II pada  1984, yang secara umum berbicara tentang penderitaan tentang bagaimana manusia bertahan dalam penderitaan. Penderitaan merupakan jalan menuju kemulian dan keselamatan. Sebagaimana Kristus mengalami dan merasakan penderitaan bahkan mati di salib. Salib menunjukkan jalan untuk mencapai keselamatan dan kemulian. Karena itu dalam Salvaci Doloris ditegaskan bahwa, salib Kristus memberikan terang keselamatan, dengan cara yang sangat mendalam, pada kehidupan manusia dan khususnya pada penderitaannya. Karena melalui iman, Salib menjangkau manusia bersamaan dengan Kebangkitan: misteri Sengsara terkandung dalam Misteri Paskah. Saksi-saksi Sengsara Kristus sekaligus menjadi saksi-saksi Kebangkitan-Nya. Paulus menulis: “Supaya aku mengenal Dia (Kristus) dan kuasa Kebangkitan-Nya, dan turut serta dalam penderitaan-Nya, menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku dapat memperoleh kebangkitan dari antara orang mati”(64). Sesungguhnya, Rasul Paulus pertama kali mengalami “kuasa Kebangkitan” Kristus, di jalan menuju Damsyik, dan baru kemudian, dalam terang Paskah ini, mencapai “turut serta dalam penderitaan-Nya” yang ia bicarakan, misalnya, dalam Surat kepada Jemaat Galatia. Jalan Paulus jelas bersifat Paskah: turut serta dalam Salib Kristus terjadi melalui pengalaman akan Yang Bangkit, oleh karena itu melalui turut serta secara khusus dalam Kebangkitan. Dengan demikian, bahkan dalam ungkapan Rasul mengenai penderitaan, seringkali muncul motif kemuliaan, yang bermula dari Salib Kristus (Salvaci Doloris art,21).

Salib bagi Paulus adalah kekuatan dari Allah untuk menyelamatkan setiap orang percaya yang pertama-tama yaitu orang yahudi, dan juga orang Yunani (Roma 1:16).

Saksi Salib dan Kebangkitan yakin bahwa “melalui banyak kesengsaraan kita harus masuk ke dalam Kerajaan Allah. Dan Paulus, yang menulis kepada jemaat Tesalonika, mengatakan demikian: “Kami sendiri bermegah tentang kamu… karena keteguhan dan imanmu dalam segala penganiayaan dan penderitaan yang kamu alami. Ini adalah bukti penghakiman Allah yang adil, agar kamu layak bagi Kerajaan Allah, yang untuknya kamu menderita”. Dengan demikian, turut serta dalam penderitaan Kristus berarti sekaligus menderita demi Kerajaan Allah. Di mata Allah yang adil, di hadapan penghakiman-Nya, mereka yang turut serta dalam penderitaan Kristus menjadi layak bagi Kerajaan ini. Melalui penderitaan mereka, dalam arti tertentu mereka membayar harga yang tak terhingga dari Sengsara dan kematian Kristus, yang menjadi harga Penebusan kita: dengan harga ini Kerajaan Allah telah dikukuhkan kembali dalam sejarah manusia, menjadi prospek definitif keberadaan manusia di bumi. Kristus telah membawa kita ke dalam Kerajaan ini melalui penderitaan-Nya. Dan juga melalui penderitaan, mereka yang dikelilingi oleh misteri Penebusan Kristus menjadi cukup dewasa untuk memasuki Kerajaan ini.

Dalam Lumen Gentium ditegaskan bahwa asal mula pertumbuhan gereja dilambangkan dengan darah dan air yang mengalir dari lambung Yesus yang tersalib. Sebagaimana ditegaskan bahwa Permulaan dan pertumbuhan itulah yang ditandakan dengan darah dan air, yang mengalir dari lambung Yesus yang terluka di kayu salib (lih. Yoh. 19:34). Itulah pula yang diwartakan sebelumnya ketika Tuhan bersabda tentang wafat-Nya di salib: “Dan apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang kepada-Ku” (Yoh. 12:32 yun.). Setiap kali di altar dirayakan korban salib, tempat “Anakdomba Paska kita, yakni Kristus, telah dikorbankan” (1Kor. 5:7), dilaksanakanlah karya penebusan kita. Denga sakramen roti ekaristis itu sekaligus dilambangkan dan dilaksanakan kesatuan umat beriman, yang merupakan satu tubuh dalam Kristus (lih. 1Kor. 10:17). Semua orang dipanggil ke arah persatuan dengan Kristus itu. Dialah terang dunia. Kita berasal dari pada-Nya, hidup karena-Nya, menuju kepada-Nya (LG art, 3). Jadi, kutipan dalam LG ini menegaskan beberapa poin. Pertama, Gereja bertumbuh dan berkembang karena berkat darah dan air yang mengalir dari lambung Yesus pada waktu Ia disalibkan di Golgota. Darah dan air sebagai tanda yang menandakan bahwa akan terbentuk Gereja. Selain itu, misteri darah dan air dari lambing Yesus sebagai peneguhan iman Gereja awal. Kedua, menekankan makna ekaristis yang merupkan perayaan korban salib yakni Kristus sebagai anak domba Paskah yang darahNYa menjadi tebusan bagi Geraja dan dunia. Ketiga, menekankan makna persatuan dan kesatuan Gereja karena berkat anak domba paskah yang tersalib. 

Dalam Dei Verbum ditegaskan bahwa salib merupakan puncak pehwayuan di mana Allah menjadi manusia dan menyejarah dalam sejarah keselamatan manusia. Pada zaman Perjanjian Lama Allah menyatakan diri-Nya atau mewahyukan diri-Nya melalui perantaraan para nabi, sehingga pada akhirnya Allah hadir secara real dalam sejarah. Yesus Kristus, Sabda yang menjadi daging, diutus sebagai “manusia kepada manusia”, “menyampaikan sabda Allah” (Yoh 3:34), dan menyelesaikan karya penyelamatan, yang diserahkan oleh Bapa kepada-Nya (bdk Yoh 5:36;17:4). Oleh karena itu, barangsiapa melihat Dia, melihat Bapa juga dengan segenap kehadiran dan penampilannya, dengan Sabda maupun karya-Nya, dengan tanda-tanda serta mukjizat-Nya, namun terutama dengan wafat dan kebangkitan-Nya penuh kemulian dari maut, akhirnya mengutus Roh Kebenaran, menyelesaikan wahyu dengan memenuhinya, dan meneguhkan dengan kesaksian Ilahi, bahwa Allah menyertai kita, untuk membebaskan kita dari kegelapan dosa serta maut dan untuk membangkitkan kita bagi hidup kekal (DV,art no 4). Jadi, pernyataan di atas menegaskan bahwa puncak wahyu Allah Adalah Yesus Kristus sendiri, terutama dalam misteri paskah. Puncak pewahyuan terjadi pada salib. Kematian Yesus di salib juga memperlihatkan kemenangan Yesus di salib atas dosa dan maut. Jadi, ditegaskan bahwa salib merupakan puncak penggenapan wahyu Allah yang dapat ditangkap oleh rasio manusia. Artinya membalikan logika manusia yang awalnya berpikir bahwa salib merupakan penghinaan dan dosa dan tidak mungkin. Di saat yang sama salib meluruskan logika manusia bahwa segala sesuatu mungkin bagi Allah. Bahkan situasi ketidakmungkinan memperlihatkan suatu kemungkinan yang memungkinkan menjadi nyata ditangkap oleh rasio.

Dipanggil untuk Merdeka, Diutus untuk Melayani

Orang Muda Katolik Paroki Imanuel Sanggeng (OMKI) memilih tema: “Dipanggil untuk Merdeka, Diutus untuk Melayani terinspirasi dari surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Galatia Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk Merdeka. Namun janganlah mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk hidup dalam dosa, melainkan layanilah  seorang akan yang lain dengan kasih (Gal 5:13). Tema ini memiliki dua pengertian seturut pernyataan setiap frase. Karena itu, akan diuraikan dua pengertian frase tema di atas. Pertama,diuraikan “dipanggil untuk merdeka.” Kedua, “diutus untuk melayani.

Kirab salib dalam rangka Indonesia Youth Day bukan hanya tindakan membawa sebuah simbol iman, tetapi merupakan pengingat bahwa orang muda sendiri dipanggil menjadi pembawa Kristus di tengah keluarga, Gereja, masyarakat, dan dunia.

Dipanggil untuk Merdeka: Surat Paulus kepada jemaat di Galatia secara khusus bab 5:1-15 membahas secara khusus tentang kemerdekaan. Paulus menegaskan bahwa Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu, berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan (bdk Gal 5:1). Jika ditafsirkan secara historis makna penyataan Paulus ini mengingatkan kepada orang Galatia bahwa jangan menggantungkan hidup atau menjadikan hidupnya sebagai budak di bawah hukum taurat. Jika kita masih di bawah kuasa hukum taurat, maka kita tidak sungguh merdeka dan sungguh bebas. Kemerdekaan dan kebebasan dalam pandangan Paulus merdeka dalam Allah, artinya di bawah Allah saja kita merdeka dan bebas. Lalu Paulus menasihati ketika memperoleh kemerdekaan, jangan menggunakan kemerdekaan sebagai kesempatan hidup dalam dosa. Artinya sudah menjadi murid Kristus tetapi cara hidup tidak mencerminkan teladan hidup Kristus itu sendiri. Lalu apa makna dipanggil untuk merdeka? Ada beberapa makna merdeka dalam pandangan Paulus. Pertama, merdeka dari dosa dan kematian. Menurut Paulus setiap orang Kristen adalah manusia yang dimerdekakan oleh Tuhan. Merdeka dalam Bahasa Yunani eleuthero: membebaskan, memerdekakan dari perbudakan dosa-dosa. Manusia dijadikan merdeka oleh kebenaran oleh Kristus (Dufour,1990: 393). Kedua, merdeka untuk menjadi hamba kasih. Hukum yang utama dan pertama bukan hukum taurat tetapi hukum kasih. Mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia seperti diri kita sendiri. Kasih Allah terlebih dahulu menyapa manusia untuk mengasihi-Nya. Manusia mengasihi Allah karena ia dikasihi. Allah adalah kasih dan sumber hidup kita. Ketika, kita sungguh mengasihi maka kita pun sungguh dikasi. Di situlah letak kebebasan dan kemerdekaan. Mengasihi Allah adalah suatu keharusan mutlak. Mutlak bukan dalam arti normative atau doctrinal, tetapi dalam arti imperative kategoris. Karana Allah merupakan suatu keharusan yang diharuskan untuk manusia. Selain itu mengasihi sesama juga merupakan suatu keharusan karena dirinya terdapat diri kita yang lain, dirinya dan diriku merupakan bait Allah.

Diutus untuk melayani. Pelayan dari bahasa latin “servus” artinya budak, tetapi dalam bahasa Indonesia diterjemahkan pelayan. Pengertian pelayan bukan berkonotasi negative artiinya dijajah, diperbudak melainkan bermakna mengabdi atau melayani seturut pola dan model yang telah ditetapkan dan dipraktekan oleh Yesus. Jadi, dengan kata lain, seorang pelayan yang dapat mengabdi atau melayani Tuhan sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya atau dimulai-Nya serta apa yang dirindukan dan diharapkan-Nya (Wos, 2022: 155). Diutus untuk melayani merupakan konsekuensi fundamental dari kemerdekaan yang diterima dalam Kristus. Paulus menegaskan bahwa kemerdekaan tidak boleh menjadi kesempatan untuk hidup menurut kepentingan diri, melainkan harus diwujudkan dalam kasih: “layanilah seorang akan yang lain dengan kasih” (Gal 5:13). Karena itu, kebebasan Kristiani bukan libertas yang tanpa arah, melainkan kebebasan yang menemukan kepenuhannya ketika manusia mampu keluar dari dirinya dan memberikan diri bagi Allah dan sesama. Perutusan itu berakar pada Kristus sendiri: “Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu” (Yoh 20:21). Orang muda, dengan demikian, bukan hanya dipanggil menjadi penerima pelayanan Gereja, tetapi menjadi subjek perutusan yang mengambil bagian dalam missio Christi. Yesus sendiri memberikan modelnya ketika berkata bahwa Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya bagi banyak orang (bdk. Mrk 10:45). Puncak pelayanan itu tampak dalam salib: Kristus memberikan diri-Nya secara total demi keselamatan manusia. Maka, pelayanan Kristiani bukan pertama-tama persoalan jabatan, aktivitas, atau banyaknya kegiatan Gereja, melainkan disposisi batin untuk menjadikan seluruh hidup sebagai pemberian. Dalam terang ini, orang muda yang sungguh merdeka bukanlah orang yang hidup hanya bagi dirinya sendiri, tetapi orang yang memiliki keberanian untuk mengosongkan ego, membuka diri terhadap sesama, dan menjadikan kebebasannya sebagai ruang untuk mengasihi dan melayani.

Dalam konteks Orang Muda Katolik Paroki Imanuel Sanggeng, perutusan untuk melayani harus melampaui keterlibatan dalam kegiatan seremonial dan menemukan bentuknya dalam kehidupan konkret. Kirab salib dalam rangka Indonesia Youth Day bukan hanya tindakan membawa sebuah simbol iman, tetapi merupakan pengingat bahwa orang muda sendiri dipanggil menjadi pembawa Kristus di tengah keluarga, Gereja, masyarakat, dan dunia. Salib yang diarak harus diterjemahkan menjadi keberanian untuk hadir bagi yang menderita, membangun persaudaraan, memperjuangkan martabat manusia, menjaga lingkungan, melawan egoisme, serta memberikan kesaksian iman melalui kehidupan sehari-hari. Di sinilah hubungan antara “dipanggil untuk merdeka” dan “diutus untuk melayani” mencapai kepenuhannya: kemerdekaan adalah anugerah, sedangkan pelayanan adalah tanggapan; kemerdekaan membebaskan manusia dari egoisme, sedangkan pelayanan mengarahkannya kepada kasih. Karena itu, keberhasilan kirab salib tidak terutama diukur dari kemeriahan kegiatan, tetapi dari sejauh mana orang muda mengalami perubahan dari sekadar menjadi peserta menjadi saksi, dari menerima menjadi memberi, dan dari mengarak salib menjadi menghidupi salib. Salib yang diarak akhirnya harus menjadi salib yang dihidupi: dari simbol menjadi praksis, dari perayaan menjadi perutusan, dan dari iman menjadi pelayanan.

 

Orang Muda Katolik Paroki Imanuel Sanggeng (OMKI) mereka dipanggil untuk merdeka semenjak berkat baptisan yang mereka terima, Pada saat ini mereka siap diutus untuk memikul salib dan mewartakan Kristus dalam karya dan pelayanan mereka masing-masing. Terutama dalam rangka menyukseskan kegiatan kirab salib Indonesia Youth Day (IYD) di Keuskupan Manokwari-Sorong. Sejauh ini mengenai persiapan penyambutan salib dan berbagai kegiatan Orang Muda Katolik Imanuel Sanggeng untuk memaknai salib. Sebagaimana dinyatakan oleh saudari Maria Yesty sebagai ketua Orang Muda Katolik Imanuel Sanggeng (OMKI) bahwa: Salib bukan hanya kayu atau symbol Kekristenan. Tetapi salib sebagai kehidupan itu sendiri. Memikul  salib adalah mengemban kehidupan. Jadi, salib  sebagai pedoman, Kompas untuk mengarahkan kita tetap berjalan di jalan hidup menuju kehidupan. Ketua OMKI memaknai salib sebagai kehidupan itu sendiri. Dari salib mengalir esensi dan eksistensi kehidupan. Artinya salib meneguhkan kita untuk menjawab untuk apa aku hidup, ada daripada tiada? Kemudian, salib membantu kita untuk menjawab bagaimana aku hidup saat ini, kini dan sekarang. Jadi, salib meneguhkan dan membawa kita melihat hidup fenomenal, bukan imaginasi. Lalu, selama kegiatan kirab salib berlangsung terdapat nilai-nilai yang mengalir dari salib yakni, nilai solidaritas, kasih, persaudaraan, kekeluargaan, social, dan religiusitas. Hal ini mennggugah hatinya bahwa Orang Muda Katolik Paroki Imanuel Sanggeng siap serratus persen diutus untum melayani Tuhan terlebih menyukseskan IYD di Keuskupan Manokwari Sorong.

Orang Muda menjadi tonggak Gereja masa depan. Maka harus dipersiapkan mulai saat ini jangan nanti. Sebagaimana dikatakan oleh Pastor Paroki Imanuel Sanggeng RP. Philipus Sedik, OSA, sekaligus sebagai ketua TPW Manokwari berharap Orang Muda Katolik Paroki Imanuel Sanggeng maupun OMK TPW bahwa, lambing salib sebagai lambing kesatuan dalam keberagaman, maka bangunlah persaudaraan yang membahagiakan satu sama lain sebagai satu kesatuan. Ia berharap bahwa oranng muda harus berani memberikan kesaksian tentang Yesus Kristus yang kita Imani. Jangan takut untuk terus melangkah maju. Lalu harus beriman yang kokoh dan tahan banting saat badai datang. Jangan beriman karena ikut ramai atau beriman yang kekanak-anakan atau infantil. Iman adalah sesuatu yang amat sangat eksisensial dan membatin dalam batin kita. Orang muda beriman yang fundamental, eksistensial yang menggerakan jiwanya untuk merasa rindu tanpa henti akan  Allah dan mencintai sesame. Jadi, orang Muda diharapkan dalam hatinya gelisah untuk mencari Allah. Sebagaimana dikatakan st. Agustinus Engkau telah menciptakan kami untuk-Mu, Ya Tuhan, dan hati kami tidak tenang sebelum beristirahat dalam Engkau (Fecisti nos ad te et inguetum est cor nostrum, donec requestcat in Te) (confess 1.1).

Refleksi dan Catatan Kritis atas Makna Salib

Salib dalam tulisan di atas tidak sekadar dipahami sebagai benda religius atau simbol penderitaan, melainkan sebagai pusat eksistensi iman Kristiani. Secara filosofis-teologis, salib menghadirkan sebuah paradoks: apa yang secara manusiawi dipandang sebagai kekalahan, kehinaan, kelemahan, dan kematian justru menjadi ruang pewahyuan kasih, kekuatan, dan keselamatan Allah. Di sini terjadi pembalikan logika manusia sebagaimana dikemukakan Paulus: “yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia” (bdk. 1Kor 1:25). Salib menantang manusia untuk keluar dari kecenderungan menjadikan kekuatan, keberhasilan, kenyamanan, dan kepentingan diri sebagai ukuran kebenaran. Dalam perspektif eksistensial, manusia menemukan bahwa hidup tidak selalu dapat dijelaskan melalui keberhasilan dan kebahagiaan. Ada penderitaan, kegagalan, keterbatasan, bahkan kematian yang menjadi bagian dari kenyataan manusia. Namun, dalam Kristus yang tersalib, penderitaan tidak dimuliakan sebagai sesuatu yang harus dicari, melainkan diterima dan diubah menjadi ruang kasih, pengharapan, solidaritas, dan pemberian diri. Karena itu, salib mengajarkan bahwa manusia tidak hanya dipanggil untuk “menanggung” kehidupan, tetapi menemukan makna kehidupan melalui cara ia mencintai dan memberikan dirinya bagi yang lain.

Dari perspektif filsafat manusia, tema “Dipanggil untuk Merdeka, Diutus untuk Melayani” mengandung suatu paradoks yang sangat mendalam. Kebebasan sejati tidak identik dengan kebebasan untuk melakukan segala sesuatu yang diinginkan. Kebebasan justru mencapai kepenuhannya ketika manusia mampu mengarahkan dirinya kepada kebaikan, kebenaran, kasih, dan sesama. Pemikiran Paulus dalam Galatia 5:13 memperlihatkan bahwa kebebasan bukanlah libertas tanpa arah, melainkan kebebasan yang menemukan tujuan dalam kasih dan pelayanan. Dalam konteks ini, manusia tidak menjadi semakin bebas ketika ia hanya mengikuti ego dan keinginannya, sebab kebebasan semacam itu dapat berubah menjadi bentuk perbudakan baru terhadap diri sendiri, ambisi, kesenangan, popularitas, dan kepentingan pribadi. Karena itu, menyangkal diri dalam terang Injil bukan berarti menghancurkan martabat diri, melainkan membebaskan diri dari egoisme yang menjadikan “aku” sebagai pusat segala sesuatu. Bagi orang muda Katolik, kemerdekaan Kristiani berarti keberanian untuk menjadi diri sendiri di hadapan Allah sekaligus keberanian keluar dari diri untuk melayani. Dengan demikian, “dipanggil untuk merdeka” menemukan kepenuhannya dalam “diutus untuk melayani”; semakin seseorang bebas dari egoisme, semakin ia mampu memberikan dirinya bagi Allah, Gereja, masyarakat, dan mereka yang membutuhkan.

Secara teologis, tulisan ini kami  menghubungkan salib Kristus dengan kehidupan konkret orang muda dan pengalaman kirab salib. Salib tidak berhenti sebagai kenangan historis tentang Golgota, tetapi menjadi panggilan aktual untuk menghadirkan Kristus dalam kehidupan. Kirab salib karena itu dapat dibaca sebagai sebuah ziarah iman: salib yang secara fisik dibawa dari satu tempat ke tempat lain sekaligus menjadi tanda bahwa Kristus dan Gereja berjalan bersama manusia dalam sejarah. Nilai solidaritas, persaudaraan, kekeluargaan, kasih, dan pelayanan yang muncul dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk konkret dari iman yang berinkarnasi. Namun, secara kritis perlu ditegaskan bahwa kirab salib jangan sampai berhenti pada simbolisme dan seremoni. Bahayanya ialah salib hanya menjadi objek yang diarak, difoto, dirayakan, dan kemudian disimpan kembali, sementara realitas sosial yang penuh ketidakadilan, kemiskinan, konflik, diskriminasi, individualisme, dan krisis moral tidak disentuh secara nyata. Jika salib sungguh dihayati, maka salib harus menggerakkan orang muda untuk berani berdiri bersama mereka yang terluka dan tersingkir. Salib harus menjadi kritik terhadap gaya hidup yang egoistis sekaligus menjadi dorongan untuk membangun Gereja yang hadir, mendengarkan, melayani, dan berpihak kepada martabat manusia. Dengan demikian, ukuran keberhasilan kirab salib bukan terutama meriahnya kegiatan, melainkan sejauh mana setelah salib itu berlalu, terjadi perubahan dalam cara orang muda berpikir, beriman, mengasihi, dan melayani.

Karena itu, refleksi filosofis-teologis atas tulisan ini, penulis membawa kita semua kepada pertanyaan eksistensial yang lebih dalam: “Untuk apa aku hidup, dan kepada siapa hidupku kupersembahkan, diarahkan dan di mana dan ke mana aku membawa hidup ini?” Salib Kristus memberikan jawaban bahwa kehidupan mencapai kepenuhannya bukan ketika manusia berhasil mempertahankan dirinya sendiri, melainkan ketika ia mampu memberikan dirinya dalam kasih. Di sinilah hubungan antara salib, kebebasan, dan pelayanan menjadi sangat erat. Salib membebaskan manusia dari ilusi bahwa hidup hanya tentang dirinya sendiri; kebebasan mengarahkannya keluar dari ego; dan pelayanan menjadi bentuk konkret dari kasih yang telah diterimanya dari Allah. Namun, catatan kritis yang penting ialah jangan sampai penderitaan dimaknai secara fatalistis seolah-olah orang Kristen harus menerima begitu saja segala ketidakadilan, kekerasan, atau penindasan sebagai “salib”. Kristus tidak mengajarkan manusia untuk mencintai penderitaan demi penderitaan, tetapi mengajarkan kasih yang berani masuk ke dalam penderitaan untuk mengubahnya menjadi jalan keselamatan. Karena itu, orang muda yang memikul salib bukanlah orang yang pasif terhadap realitas, melainkan pribadi yang aktif menghadirkan kehidupan di tengah situasi yang mematikan. Dalam terang ini, semboyan “Dipanggil untuk Merdeka, Diutus untuk Melayani” mencapai kedalaman teologisnya: orang muda dibebaskan oleh Kristus bukan untuk hidup bagi dirinya sendiri, tetapi untuk menjadi tanda kasih Kristus yang hadir di tengah dunia. Salib yang diarak akhirnya harus menjadi salib yang dihidupi  dari simbol menjadi praksis, dari perayaan menjadi pertobatan, dan dari iman menjadi pelayanan.

Penutup

Kirab Salib Orang Muda Katolik Paroki Imanuel Sanggeng dalam rangka menyambut Indonesia Youth Day menjadi sebuah momentum perjumpaan iman orang muda katolik untuk merajut Kembali iman, harapan, persaudaraan, solidaritas, kesatuan dan persatuan dalam keberagaman untuk menjadi tanda kasih, pengorbanan, keselamatan, dan panggilan untuk mengikuti Kristus. Salib memperlihatkan bahwa kasih Allah hadir secara nyata dalam sejarah manusia. Salib yang diarak oleh orang muda menjadi tanda bahwa Kristus terus berjalan bersama umat-Nya dan memanggil setiap orang untuk berani menyangkal diri, memikul salib, serta mengarahkan hidup kepada Allah dan sesama. Karena itu, tema “Dipanggil untuk Merdeka, Diutus untuk Melayani” menemukan maknanya dalam kebebasan Kristiani yang tidak berpusat pada diri sendiri, tetapi mencapai kepenuhannya melalui kasih, persaudaraan, pengabdian, dan pelayanan.

Kirab  salib hendaknya tidak berhenti sebagai sebuah perayaan atau kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal dari sebuah perutusan yang nyata. Orang Muda Katolik dipanggil untuk membawa semangat salib ke dalam keluarga, Gereja, masyarakat, dan dunia dengan menjadi saksi Kristus yang berani, setia, solider, dan penuh kasih. Salib yang diarak harus menjadi salib yang dihidupi: dari simbol menjadi praksis, dari perayaan menjadi pertobatan, dan dari iman menjadi pelayanan. Semoga melalui momentum Indonesia Youth Day, Orang Muda Katolik Paroki Imanuel Sanggeng semakin diteguhkan untuk hidup dalam kemerdekaan yang sejati, yakni bebas dari egoisme dan dosa serta bebas untuk mencintai dan melayani. Semoga Tuhan yang selalu sama, yang telah menyatakan kasih-Nya melalui salib Kristus, senantiasa memampukan kita untuk memikul salib kehidupan, berjalan dalam iman, dan setia menjadi pembawa kasih-Nya bagi sesama.