Menyelaraskan Pikiran dan Kehendak dengan Allah

62

RENUNGAN HARIAN, Minggu, 30 Agustus 2026
Minggu Biasa XXII
Bacaan I: Yer 20:7-9
Mazmur Tanggapan: Mzm 63:2.3-4.5-6.8-9
Bacaan II: Rom 12:1-2
Bacaan Injil: Mat 16:21-27

Menyelaraskan Pikiran dan Kehendak dengan Allah

Pikiran manusia sering kali berbeda dengan pikiran Allah. Demikian pula kehendak manusia tidak selalu sejalan dengan kehendak Allah. Kita cenderung memilih apa yang nyaman, aman, mudah, dan menyenangkan. Sementara itu, Allah sering mengajak kita berjalan melalui jalan yang tidak selalu mudah, tetapi membawa kita kepada keselamatan.

Karena itu, sebagai orang beriman, kita dipanggil untuk terus-menerus menyelaraskan pikiran, kehendak, dan seluruh hidup kita dengan kehendak Allah. Kita belajar melepaskan keinginan untuk mengatur segala sesuatu menurut ukuran kita sendiri dan memberi ruang bagi Roh Kudus untuk menuntun langkah hidup kita.

Dalam Injil hari ini, Yesus menegur Petrus dengan sangat keras: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Mat 16:23)

Mengapa Yesus sampai menegur Petrus sedemikian keras? Petrus sebenarnya memiliki niat yang baik. Ia tidak ingin melihat Gurunya menderita. Ketika Yesus memberitahukan bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem, menderita, dibunuh dan dibangkitkan, Petrus spontan berkata: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” (Mat 16:22)

Namun, niat baik Petrus ternyata belum tentu sesuai dengan kehendak Allah. Petrus berpikir menurut ukuran manusia. Ia menginginkan keselamatan tanpa penderitaan, kemuliaan tanpa salib, kemenangan tanpa pengorbanan.

Bukankah sering kali kita juga demikian?
Kita ingin mengikuti Tuhan, tetapi tidak ingin mengalami kesulitan. Kita ingin diberkati, tetapi tidak selalu mau berkorban. Kita ingin berhasil, tetapi menghindari proses yang berat. Kita ingin hidup damai, tetapi kadang tidak mau melepaskan ego, gengsi, kepentingan pribadi, dan keinginan untuk selalu menang sendiri.

Di sinilah Yesus mengingatkan kita bahwa menjadi murid-Nya bukan sekadar mengakui iman dengan mulut. Mengikuti Kristus berarti berani masuk ke dalam jalan yang ditempuh-Nya. Yesus berkata: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat 16:24)

Menyangkal diri bukan berarti membenci diri sendiri. Menyangkal diri berarti berani menempatkan kehendak Allah di atas ego dan kepentingan pribadi. Berani berkata: “Bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mulah yang terjadi.”

Memikul salib berarti menerima dengan iman tanggung jawab, pengorbanan, kesulitan, dan penderitaan yang menjadi bagian dari panggilan hidup kita. Salib tidak selalu berupa penderitaan besar. Kadang salib hadir dalam kesetiaan menjalankan tugas, kesabaran menghadapi orang lain, mengampuni, melayani tanpa dihargai, atau tetap berbuat baik ketika kebaikan kita tidak dibalas.

Nabi Yeremia dalam bacaan pertama juga mengalami pergulatan yang tidak ringan. Ia merasa berat menjalankan panggilannya sebagai nabi. Namun, sabda Tuhan telah menjadi sesuatu yang tidak dapat ia tahan dalam dirinya. Ia tetap harus mewartakannya.

Inilah tanda bahwa ketika seseorang sungguh-sungguh membiarkan dirinya dibentuk oleh Allah, hidupnya tidak lagi semata-mata ditentukan oleh kenyamanan pribadi. Ada dorongan dari dalam untuk tetap setia kepada Tuhan, bahkan ketika jalan itu sulit.

Paulus dalam bacaan kedua memberikan arah yang sangat jelas: “Persembahkanlah tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.” (Rm 12:1)

Ibadah yang sejati bukan hanya tentang apa yang kita lakukan di dalam gereja. Ibadah yang sejati adalah ketika seluruh hidup kita menjadi persembahan bagi Allah.

Cara kita bekerja, melayani, berbicara, menggunakan media sosial, memperlakukan sesama, menjalankan tanggung jawab, bahkan menghadapi penderitaan—semuanya dapat menjadi persembahan kepada Tuhan.

Karena itu, Paulus juga mengingatkan agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia, tetapi mengalami pembaruan budi sehingga mampu membedakan kehendak Allah.

Di tengah dunia yang begitu kuat menawarkan ukuran-ukuran manusia—kesuksesan, popularitas, kenyamanan, kekuasaan, dan pengakuan—kita dipanggil untuk kembali bertanya: Apakah yang saya pikirkan sudah sesuai dengan pikiran Allah? Apakah yang saya kehendaki sungguh sesuai dengan kehendak-Nya?  Apakah keputusan-keputusan hidup saya membawa saya semakin dekat kepada Kristus?

Saudara-saudari terkasih,
Mengikuti Kristus berarti belajar setiap hari untuk melepaskan ego. Kita tidak selalu harus mendapatkan apa yang kita inginkan. Tidak semua rencana kita harus terjadi. Tidak semua jalan yang mudah adalah jalan yang benar.
Kadang-kadang Tuhan justru mengajak kita melewati jalan yang sulit karena melalui jalan itulah iman kita dimurnikan dan hidup kita dibentuk.

Marilah kita belajar berkata seperti Yesus: “Jadilah kehendak-Mu.” Kita berani menyangkal diri. Kita berani memikul salib. Kita berani mempersembahkan hidup kita sebagai ibadah yang sejati. Dan kita membiarkan Roh Kudus membarui pikiran serta hati kita, sehingga semakin hari kita mampu berpikir seperti Allah dan hidup seturut kehendak-Nya.

Sebab pada akhirnya, hidup beriman bukanlah tentang memaksa Allah mengikuti kehendak kita, melainkan membiarkan diri kita dibentuk untuk mengikuti kehendak Allah.

Selamat Hari Minggu. Tuhan memberkati. Ave Maria!