Uskup Datus: Menjadi Imam Tidak Cukup, Imamat Harus Dihayati

67
Uskup Datus melihat panggilan imamat sebagai sebuah bentuk pencarian dan penemuan akan Tuhan. Ketiga imam baru dipanggil untuk semakin dekat dengan Tuhan dan menjadikan kedekatan itu sebagai dasar bagi seluruh kehidupan serta pelayanan imamat mereka.

AYAWASI,  KOMSOSKMS.ORG — Perayaan tahbisan tiga imam dari Ordo Santo Agustinus (OSA) berlangsung khidmat di Paroki Santo Yoseph Ayawasi, Keuskupan Manokwari-Sorong, Jumat (28/8/2026). Ketiga diakon yang ditahbiskan menjadi imam adalah Dkn. Simon Welerubun, OSA, Dkn. Carlos Filipe Ximenes Belo Sedik, OSA, dan Dkn. Yakobus Bobby Arwelembun, OSA.

Perarakan para penari Woun mengiringi para calon imam menuju Gereja Parokiq St. Yoseph Ayawasi untuk tahbisan (28/8/2026)

Perayaan Ekaristi tahbisan dipimpin oleh Mgr. Hilarion Datus Lega, Uskup Manokwari-Sorong, yang dalam sapaan akrab umat dikenal sebagai Uskup Datus. Perayaan tersebut diikuti oleh sejumlah imam, para religius, umat beriman, keluarga ketiga calon imam, serta umat Paroki Santo Yoseph Ayawasi.

Dalam homilinya, Uskup Datus mengaitkan perayaan tahbisan dengan peringatan Santo Agustinus, Uskup dan Pujangga Gereja yang dirayakan pada hari yang sama. Menurutnya, spiritualitas Santo Agustinus sangat kuat ditandai oleh sebuah proses pencarian dan penemuan akan Tuhan.

Perarakan para imam konselebran pada tahbisan 3 imam Ordo Santo Agustinus diutus Paroki Santo Yoseph Ayawasi

Uskup Datus mengutip ungkapan terkenal Santo Agustinus dalam Confessiones: Hatiku gelisah sampai aku menemukan ketenangan dalam diri-Mu, ya Tuhan.”

Menurut Uskup Datus, kegelisahan merupakan pengalaman manusiawi yang dialami setiap orang. Manusia terus mencari sesuatu yang dapat memberikan ketenangan dan kepenuhan hidup. Namun, pencarian yang paling mendasar dalam kehidupan manusia adalah pencarian akan Tuhan.

“Sebagai makhluk rohani, manusia pada akhirnya selalu terarah kepada Tuhan. Ada kerinduan yang sangat dalam di dalam hati manusia untuk menemukan Tuhan,” ungkapnya.

Dalam konteks tahbisan tiga imam baru, Uskup Datus melihat panggilan imamat sebagai sebuah bentuk pencarian dan penemuan akan Tuhan. Ketiga imam baru dipanggil untuk semakin dekat dengan Tuhan dan menjadikan kedekatan itu sebagai dasar bagi seluruh kehidupan serta pelayanan imamat mereka.

“Kamu adalah sahabat-Ku”
Mengutip Injil Yohanes 15, Uskup Datus menggarisbawahi perkataan Yesus kepada para murid-Nya: Kamu adalah sahabat-Ku. Menurutnya, menjadi sahabat Tuhan bukanlah sesuatu yang sederhana. Persahabatan dengan Tuhan menuntut kedekatan, kesetiaan, kasih, dan ketaatan kepada kehendak-Nya.

Uskup Datus melihat panggilan imamat sebagai sebuah bentuk pencarian dan penemuan akan Tuhan. Ketiga imam baru dipanggil untuk semakin dekat dengan Tuhan dan menjadikan kedekatan itu sebagai dasar bagi seluruh kehidupan serta pelayanan imamat mereka.

“Menjadi sahabat Tuhan bukanlah sesuatu yang main-main. Menjadi sahabat berarti membangun relasi yang dekat, intim, dan penuh kasih dengan Tuhan,” jelasnya.

Karena itu, para imam dipanggil untuk tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi terlebih dahulu membangun relasi yang mendalam dengan Tuhan. Kedekatan tersebut kemudian harus tampak dalam kehidupan dan pelayanan mereka di tengah umat.

Menjadi imam dan menghayati imamat
Salah satu pesan utama Uskup Datus dalam homilinya adalah pembedaan antara menjadi imam dan menghayati imamat. Ia menjelaskan bahwa proses pendidikan, pembinaan, dan tahbisan merupakan bagian dari perjalanan seseorang untuk menjadi imam. Namun, setelah menerima tahbisan, dimulailah tugas yang jauh lebih panjang, yakni menghayati imamat sepanjang hidup.

“Menjadi imam tidak sama dengan menghayati imamat,” tegasnya.

Uskup menegaskaan, para imam dipanggil untuk tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi terlebih dahulu membangun relasi yang mendalam dengan Tuhan. Kedekatan tersebut kemudian harus tampak dalam kehidupan dan pelayanan mereka di tengah umat.

Uskup Datus menggunakan istilah becoming a priest dan being a priest untuk menjelaskan perbedaan tersebut. Proses pendidikan dan tahbisan membawa seseorang menjadi imam, sedangkan penghayatan imamat merupakan proses seumur hidup.

“Setelah ditahbiskan, persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana menjadi imam. Persoalannya adalah: bagaimana menghayati imamat?” katanya.

Menurutnya, imamat bukan sekadar status atau jabatan dalam Gereja. Imamat adalah kehidupan yang dipersembahkan kepada Tuhan dan umat.

Belajar dari jemaat perdana
Uskup Datus kemudian mengajak para imam baru untuk belajar dari cara hidup jemaat perdana sebagaimana digambarkan dalam Kisah Para Rasul 2:42-47.

Salah satu pesan utama Uskup Datus dalam homilinya adalah pembedaan antara menjadi imam dan menghayati imamat.
Ia menjelaskan bahwa proses pendidikan, pembinaan, dan tahbisan merupakan bagian dari perjalanan seseorang untuk menjadi imam. Namun, setelah menerima tahbisan, dimulailah tugas yang jauh lebih panjang, yakni menghayati imamat sepanjang hidup.

Jemaat perdana bertekun dalam pengajaran para rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa. Mereka juga saling berbagi dan memperhatikan satu sama lain.

Bagi Uskup Datus, gambaran tersebut menjadi inspirasi penting bagi kehidupan seorang imam. Seorang imam dipanggil untuk hadir di tengah umat, membangun persekutuan, melayani, dan memberikan dirinya bagi keselamatan umat.

“Imamat bukan hanya sebuah status. Imamat adalah sebuah kehidupan yang diberikan kepada Tuhan dan kepada umat,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan para imam baru akan teladan Kristus sebagai Gembala yang Baik, yang rela menyerahkan nyawa bagi domba-domba-Nya.

“Seorang imam dipanggil untuk memberikan dirinya. Ia dipanggil untuk menjadi gembala yang baik, gembala yang rela menyerahkan hidupnya bagi domba-dombanya,” ungkap Uskup Datus.

Imamat sebagai persembahan diri
Pada bagian akhir homilinya, Uskup Datus menegaskan bahwa penghayatan imamat membutuhkan proses yang terus-menerus. Seorang imam harus senantiasa belajar memberikan dirinya bagi kemuliaan Tuhan dan pelayanan kepada umat.

Menurut Uskup, Imamat bukan sekadar status atau jabatan dalam Gereja. Imamat adalah kehidupan yang dipersembahkan kepada Tuhan dan umat

Menurutnya, kedekatan dengan Tuhan menjadi dasar utama kehidupan seorang imam. Kedekatan itu kemudian diwujudkan dalam kesetiaan, pengorbanan, pelayanan, dan kasih kepada umat.

“Seorang imam harus memiliki cita rasa iman. Ia harus mampu menghadirkan Tuhan melalui hidupnya. Ia harus menjadi sahabat Tuhan sekaligus sahabat umat yang dipercayakan kepadanya,” pesannya.

Seorang imam dipanggil untuk hadir di tengah umat, membangun persekutuan, melayani, dan memberikan dirinya bagi keselamatan umat.

Kepada ketiga imam baru, Uskup Datus mengajak mereka untuk tidak berhenti mencari dan menemukan Tuhan dalam seluruh perjalanan hidup dan pelayanan mereka.

Ia kembali mengingatkan mereka pada spiritualitas Santo Agustinus: Hatiku gelisah sampai aku menemukan ketenangan dalam diri-Mu, ya Tuhan.”

Perayaan tahbisan kemudian menjadi momentum syukur bagi seluruh umat yang hadir. Tiga imam baru dari Ordo Santo Agustinus diutus untuk menghayati imamat sebagai jalan pengabdian, menjadi sahabat Tuhan, sekaligus gembala bagi umat yang dipercayakan kepada mereka.

Dengan demikian, tahbisan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal dari perjalanan baru untuk menghayati imamat dengan setia, memberikan diri, dan menghadirkan wajah Kristus di tengah umat.