Renungan Harian: Memandang Yesus di Tengah Gelombang Kehidupan

13

Renungan Harian, Minggu, 09 Agustus 2026
Minggu Biasa XIX
Bacaan I: 1Raj 19:9a.11-13a
Bacaan II: Rom 9:1-5
Bacaan Injil: Mat 14:22-33

Hidup pada zaman sekarang tidaklah mudah. Banyak orang bergumul dengan tekanan ekonomi, kehilangan pekerjaan, persoalan keluarga, sakit penyakit, ketidakpastian masa depan, serta derasnya arus informasi yang sering menimbulkan ketakutan dan kecemasan. Tidak sedikit pula yang kehilangan semangat, merasa sendirian, bahkan mulai mempertanyakan kehadiran Tuhan di tengah badai hidup yang mereka alami. Semua itu bagaikan gelombang besar yang menghantam perahu kehidupan kita.

Dalam bacaan Injil hari ini, para murid mengalami situasi yang serupa. Perahu mereka diombang-ambingkan oleh angin sakal dan gelombang besar. Di saat mereka diliputi ketakutan, Yesus datang menghampiri mereka dengan berjalan di atas air. Kehadiran Yesus bukan hanya mengakhiri ketakutan para murid, tetapi juga menegaskan bahwa tidak ada badai yang lebih besar daripada kuasa kasih Allah. “Tenanglah! Aku ini, jangan takut!” (Mat. 14:27).

Sering kali kita menginginkan Tuhan segera menghilangkan setiap persoalan. Namun, Tuhan tidak selalu menghapus badai seketika. Ia justru hadir di tengah badai itu agar kita belajar percaya kepada-Nya. Seperti Nabi Elia dalam bacaan pertama yang menemukan Allah bukan dalam angin besar, gempa bumi, atau api, melainkan dalam angin sepoi-sepoi basa.

Demikian pula, Tuhan sering hadir melalui cara-cara sederhana: lewat doa yang tekun, keluarga yang menguatkan, sahabat yang peduli, atau orang-orang yang dengan tulus menemani kita.
Petrus sebenarnya berani melangkah di atas air karena percaya kepada Yesus. Namun ketika pandangannya beralih kepada besarnya ombak, ia mulai tenggelam. Begitu pula dengan kita. Ketika perhatian kita lebih tertuju pada besarnya masalah daripada kebesaran Tuhan, rasa takut akan menguasai hati. Sebaliknya, jika kita terus memandang kepada Kristus, kita akan menemukan kekuatan untuk tetap bertahan. Walaupun iman kita lemah, Tuhan tetap mengulurkan tangan-Nya, sebagaimana Ia memegang tangan Petrus. Rahmat Allah selalu lebih besar daripada kelemahan manusia.

Di tengah dunia yang penuh kegelisahan, Injil hari ini mengajak kita untuk tidak hidup dalam ketakutan, melainkan dalam kepercayaan. In manus Tuas, Domine, commendo spiritum meum — “Ke dalam tangan-Mu, ya Tuhan, kuserahkan hidupku.” Ketika kita menyerahkan hidup kepada Tuhan, kita percaya bahwa Dia tidak pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Sebab benar adanya pepatah Latin, Per aspera ad astra — melalui kesulitan menuju kemuliaan. Setiap badai yang diizinkan Tuhan terjadi dapat menjadi jalan untuk memurnikan iman dan mendewasakan kasih kita kepada-Nya.

Semoga pada hari ini kita tidak membiarkan rasa takut mengalahkan iman. Pandanglah terus kepada Yesus, sebab Dialah satu-satunya yang mampu menenangkan badai kehidupan dan mengangkat kita ketika mulai tenggelam. Bersama-Nya, tidak ada gelombang yang terlalu besar untuk dilalui.
Selamat Hari Minggu. Tuhan memberkati.
Ave Maria.