SORONG, KOMSOSKMS.ORG – Setelah mendalami dan berdialog dengan berbagai pihak terkait peristiwa kekerasan yang terjadi di lembaga pendidikan Seminari Petrus van Diepen, tanggal 26 April 2026, Keuskupan Manokwari-Sorong melalui Vikaris Jenderal (Vikjen), Pater Izak Bame, pada 2 Mei 2026 menyampaikan beberapa pernyataan sebagai berikut:
Pertama, mewakili pimpinan Keuskupan Manokwari-Sorong, kami menyampaikan permohonan maaf kepada anak terkasih yang menjadi korban pemukulan oleh seorang frater selaku pembina. Sebagai pimpinan, kami tidak mengharapkan peristiwa ini terjadi. Namun, karena kenyataannya telah terjadi, maka sekali lagi, atas nama pimpinan Keuskupan dan Seminari Petrus van Diepen, kami menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada korban, kedua orang tua, serta keluarga besar Nso–Kinho.
Kedua, mengingat persoalan ini telah berada di ranah pihak berwajib, maka atas nama pimpinan Keuskupan, kami memohon dengan rendah hati kepada kedua orang tua dan keluarga besar Nso–Kinho agar kiranya persoalan ini dapat dipertimbangkan untuk diselesaikan kembali di tingkat Keuskupan, bersama Seminari Petrus van Diepen sebagai tempat kejadian.
Ketiga, terkait keberadaan Frater Gabriel dalam perjalanan meniti cita-cita dan panggilannya, diharapkan keluarga dapat mempercayakan sepenuhnya kepada pimpinan Keuskupan. Artinya, persoalan panggilan hidup Frater Gabriel menjadi tanggung jawab pimpinan Keuskupan untuk menilai dan memutuskannya.
Keempat, mewakili pimpinan Keuskupan, kami sangat mengharapkan agar peristiwa ini tidak dihubung-hubungkan dengan kejadian lain yang tidak memiliki keterkaitan dengan peristiwa tanggal 26 April 2026.
Kelima, kepada seluruh pastor paroki dan umat Katolik Keuskupan Manokwari-Sorong, marilah kita menjadikan kejadian ini sebagai pembelajaran bersama. Diharapkan agar tidak membuat tafsiran sendiri, apalagi menghasut umat untuk tidak mempercayai lembaga pendidikan Seminari Petrus van Diepen. Mari kita tetap yakin bahwa melalui peristiwa ini, pimpinan Keuskupan dan Seminari akan melakukan evaluasi menyeluruh demi perbaikan ke depan.
Keenam, kepada Rektor, staf pembina, kepala sekolah, serta para guru di asrama dan sekolah tingkat SMP–SMA, kiranya dapat mengambil hikmah dari kejadian ini sebagai bagian dari perjalanan bersama di Seminari yang kita cintai. Jalankan tugas yang telah dipercayakan dengan penuh tanggung jawab, karena selama para siswa berada di sekolah dan asrama, para pembina dan guru adalah orang tua bagi mereka.
Ketujuh, marilah kita semua mengambil bagian positif dalam pendampingan dan pembinaan generasi bangsa dan Gereja yang sedang dipersiapkan di lingkungan Seminari Petrus van Diepen, serta anak-anak yang berada di sekolah non-seminari.
Sekali lagi, atas nama pimpinan Keuskupan dan Seminari, kami menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya kepada korban, kedua orang tua, serta seluruh keluarga. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi perjalanan Seminari ke depan.
Atas perhatian dan kerja sama semua pihak, kami ucapkan terima kasih.
Pastor Izak Bame, Pr
Vikaris Jenderal Keuskupan Manokwari-Sorong





