Renungan Harian: “Kebencian Membutakan Akan Kebenaran”

48

RENUNGAN HARIAN – 21 MARET 2026
Bacaan I: Yer 11:18-20
Bacaan Injil: Yoh 7:40-53

“Kebencian Membutakan Akan Kebenaran”
Kebencian yang dibiarkan tumbuh dalam hati bagaikan racun yang perlahan tetapi pasti merusak kehidupan rohani kita. Ia menggerogoti kejernihan hati, menumpulkan nurani, dan pada akhirnya membutakan kita terhadap kebenaran. Apa yang salah bisa tampak benar, dan yang benar justru ditolak.

Menjelang Pekan Sengsara, Sabda Tuhan hari ini mengajak kita merenungkan situasi yang dialami oleh Nabi Yeremia dan Yesus Kristus. Dalam Injil, terlihat jelas bagaimana kebencian para imam kepala dan orang-orang Farisi semakin memuncak. Mereka menolak Yesus bukan karena tidak melihat kebenaran, tetapi karena hati mereka telah tertutup oleh kepentingan, iri hati, dan ambisi pribadi.

Yesus menjadi ancaman bagi “kesalehan” yang palsu. Kehadiran-Nya membongkar kemunafikan dan ketidakadilan. Suara profetis-Nya mengguncang kenyamanan mereka. Maka, daripada bertobat, mereka memilih untuk menyingkirkan Dia. Di sinilah kebencian bekerja: bukan hanya menolak kebenaran, tetapi juga berusaha melenyapkannya.

Pengalaman serupa juga dialami oleh Nabi Yeremia. Ia menggambarkan dirinya seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih. Ia tidak menyangka ada rencana jahat terhadap dirinya. Namun, di tengah ancaman itu, Yeremia tidak mundur. Ia tetap setia pada panggilan kenabiannya.

Apa rahasianya? Baik Yeremia maupun Yesus memiliki satu kekuatan utama: penyerahan diri total kepada Allah. Yeremia berkata, “Kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.” Penyerahan diri ini bukan tanda kelemahan, melainkan kekuatan iman yang sejati. Ini adalah sikap percaya bahwa Allah sendirilah yang berkarya dan membela kebenaran.

Dalam kehidupan kita pun, kita bisa mengalami penolakan, kesalahpahaman, bahkan perlakuan tidak adil ketika berusaha hidup benar. Godaan untuk membalas dengan kebencian selalu ada. Namun Sabda Tuhan hari ini mengajak kita untuk memilih jalan yang berbeda: jalan kasih, kebenaran, dan penyerahan diri kepada Allah.

Mari kita belajar: Mengikis kebencian dalam hati kita, sekecil apa pun itu. Berani berdiri di pihak kebenaran, meski tidak selalu mudah. Tetap setia dan percaya bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita.

Semoga kita semakin dimampukan menjadi “nabi-nabi zaman ini”: pribadi yang teguh, berani, dan penuh kasih, yang tidak membiarkan kebencian menguasai hati, tetapi membiarkan kebenaran Allah bersinar dalam hidup kita.

Tuhan memberkati dan Ave Maria.