PRAFI, KOMSOSKMS.ORG- Ada pertanyaan reflektif mengenai bagaimana wujud nyata iman Katolik yang tercerahkan oleh Ajaran-Ajaran Sosial Gereja di tanah Papua ini. Membaca situasi dan kebutuhan pelayanan, Dewan Pelayanan Pastoral Paroki, khususnya Bidang Kemasyarakatan dan Kerasulan Awam, melihat bahwa karya misi kesehatan menjadi titik temu potensial untuk membawa umat dalam program bersama yang sekaligus mengasah tanggung jawab sosial iman Katolik, menciptakan perjumpaan sinergis dengan banyak orang, serta mewujudkan semangat misi Gereja secara kontekstual. Kegiatan tersebut kemudian dirangkai dalam pekan peringatan Hari Orang Sakit Sedunia ke 34 di bulan Februari 2026. Disebut rangkaian karena terdiri dari Rekoleksi Tenaga Medis Katolik se TPW Manokwari pada Sabtu 7 – Minggu 8 Februari 2026; Ekaristi Perayaan Hari Orang Sakit Sedunia ke 34 untuk Umat Paroki St Kristoforus pada Rabu 11 Februari 2026 di Rumah Pembinaan Suster SPM Prafi; dan dipuncaki dengan Bakti Sosial Pengobatan Gratis untuk Masyarakat Umum Berusia Lanjut pada Minggu 15 Februari di Klinik St Maria Prafi.

Beriman, Bersaudara, dan Berbela Rasa
Tema rangkaian kegiatan ini mengikuti tema HOSS 34, yaitu “Belarasa Orang Samaria: Mengasihi dengan Menanggung Derita Orang Lain.” Paus Leo XIV dalam pesan di Hari Orang Sakit Sedunia ke 34 mengajak Gereja untuk memberi makna pada perjumpaan dengan orang sakit sebagai sebuah anugerah untuk berjumpa dengan Kristus yang mengutus kita bekerja sama dengan siapa saja membebaskan penderitaan di dunia supaya semua kembali kepada belas kasih Allah.
Ada 32 orang Tenaga Medis dan Kesehatan Katolik dari berbagai paroki se TPW Manokwari yang berkumpul dalam Rekoleksi Tenaga Kesehatan Katolik se TPW Manokwari 7 – 8 Februari 2026. Ada dokter, bidan, perawat, maupun tenaga administrasi dan pengurus rumah pelayanan kesehatan. Tidak semua bekerja di Lembaga Pelayanan Kesehatan Katolik. Ada juga yang bekerja di Puskesmas dan Rumah Sakit Pemerintah. Ada yang merasa baru kali ini diperhatikan dan dianggap sebagai bagian dari Gereja karena tidak berkarya di lembaga kesehatan Katolik. Sebagian besar baru pertama kali berjumpa dan berkumpul dalam acara seperti ini.

Rekoleksi dinikmati dengan kegembiraan dan permainan. OMK Paroki Kristoforus mengemas acara dalam berbagai dinamika yang menyegarkan untuk meretas sekat dan jarak. Setelah saling mengenal, para peserta berani berbagi pengalaman-pengalaman yang mendalam dan menguatkan satu sama lain. Mereka menjadi bersemangat karena tidak berjalan sendirian mewartakan iman. Di mana pun mereka bekerja, mereka menghayati perutusan baru sebagai ‘para pelayan kehidupan’ sebagaimana disebut oleh Santo Yohanes Paulus II dalam Ensiklik Evangelium Vitae. Para tenaga kesehatan melayani kehidupan untuk menjadi ‘gambar hidup Kristus dan Gereja-Nya dengan mengasihi dan melayani orang sakit.’ Oleh karenanya profesi ini dihayati bukan hanya sebagai pelaksanaan prosedur kesehatan, tetapi sebagai bentuk-bentuk kesaksian Kristen dalam menjaga dan melayani hidup manusia.

Para peserta pun sepakat akan melanjutkan kebersamaan menjadi komunitas Tenaga Kesehatan Katolik se TPW Manokwari yang secara rutin bertemu untuk saling meneguhkan dalam iman. Komunitas ini diharapkan menjadi ruang pertumbuhan rohani dan sarana mempererat solidaritas dalam menjalankan tugas perutusan di bidang kesehatan, sehingga pelayanan yang diberikan tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga menghadirkan pengharapan dan penguatan bagi mereka yang membutuhkan.
Dalam perayaan Ekaristi HOS 2026 yang dihadiri oleh seluruh umat Paroki St Kristoforus, Rabu 11 Februari 2026, direfleksikan bersama kehadiran misi Gereja di wilayah Prafi dan sekitarnya yang antara lain diwujudkan dengan pelayanan kesehatan. Adalah suatu kebetulan yang amat istimewa bahwa pada tanggal 2 Februari ini para suster SPM Prafi memperingati 25 tahun kehadiran karya mereka di Keuskupan Manokwari Sorong. Umat, sebagai bagian dari Gereja diutus untuk mengambil bagian aktif sebagai murid-murid Kristus yang berani mengambil sikap seperti orang Samaria yang baik hati: menjumpai, berkolaborasi, dan berkarya menghadirkan kasih Allah dalam kesaksian-kesaksian sederhana setiap hari. Dalam Ekaristi, diingatkan kepada seluruh umat, bahwa Bakti Sosial Kesehatan yang akan diselenggarakan bukan hanya program Dewan Paroki. Bukan program Suster atau Romo saja. Namun aksi sosial seluruh umat. Maka, umat diminta untuk menyampaikan dan mengajak orang-orang terdekat di lingkungan mereka, terutama yang tua dan sakit, untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan yang disiapkan. Orang sakit dan orang lanjut usia yang sakit di antara keluarga-keluarga, lingkungan, dan masyarakat menjadi wajah Kristus yang mengundang kita untuk berbela rasa.

Selain para tenaga kesehatan yang hadir dalam rekoleksi sebelumnya, Dewan Paroki St Kristoforus, Klinik St Maria Prafi, bakti sosial ini juga melibatkan Kementerian Agama Kabupaten Manokwari, Rumah Sakit Bhayangkara Manokwari dan Yayasan Buddha Tzu Chi. Dari pukul 08.00 sampai ditutup pukul 14.00 ada 132 pasien usia lanjut dari berbagai latar belakang agama, suku, dan penyakit yang dilayani.
Misi Kesehatan
Demikianlah peringatan HOSS ke 34 di Prafi menjadi salah satu penanda untuk merefleksikan ulang pelaksanaan tugas misi Gereja Katolik di tanah Papua. Dengan semakin meningkatnya pelayanan kesehatan dari pemerintah dan pihak-pihak lain, Gereja ditantang untuk memiliki pembeda terutama dalam kualitas dan spiritualitas pelayanan yang berkesinambungan serta menyeluruh dalam kerja sama dengan pihak-pihak terkait. Hadirnya Komunitas Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Katolik dan Lembaga Kesehatan Katolik semoga menjadi titik temu antara tumbuh kembang iman dan tanggung jawab sosial umat Katolik, persaudaraan lintas batas pemerhati dunia kesehatan, serta bela rasa kemanusiaan untuk memperjuangkan kualitas hidup bersama yang lebih baik di tanah Papua ini.
(Kontributor: Panitia HOSS 34 St Kristoforus Prafi)





